
Setelah beberapa saat berdiam diri, aku pun turun dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi. Melihat pergerakan ku, bang Rian pun turut mengekori langkah ku dengan tubuh yang masih polos, dan handuk yang tersampir di bahu nya.
Selesai menyikat gigi masing-masing, bang Rian pun menyalakan shower dan menyetel nya dengan suhu hangat. Setelah itu, aku pun berdiri di bawah guyuran shower itu dan membelakangi bang Rian.
Sedang asyik-asyiknya menikmati air hangat yang membasahi seluruh tubuh ku, tiba-tiba aku terkejut saat sepasang tangan melingkar di pinggang ramping ku.
Bang Rian memeluk ku dari belakang, dan menempelkan dagu nya di bahu ku. Dengan nafas yang mulai tidak beraturan, bang Rian pun mendekatkan bibir nya ke telinga ku, lalu berbisik...
"Abang boleh minta jatah gak, sayang?" tanya bang Rian lalu menciumi leher dan pundak ku.
Aku terpaku sejenak, ketika bisikan gaib itu mengalun merdu di telinga ku. Bahkan bulu kuduk ku juga ikut meremang di buat nya. Melihat reaksi ku yang sedang mematung tanpa ekspresi, bang Rian pun memutar posisi ku untuk menghadap pada nya.
"Kok malah bengong sih, kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang?" tanya bang Rian sambil terus menatap wajah pucat ku.
"Gak ada apa-apa, bang. Aku cuma lagi bingung saja dengan perasaan ku sendiri," jawab ku lalu menunduk.
Bang Rian menautkan kedua alisnya saat mendengar penuturan ku. Ia mendongak kan wajah ku dan menajamkan tatapan mata nya.
"Apa yang kamu bingung kan? Masalah lamaran abang, atau ada masalah lain?" tanya bang Rian penasaran.
Masih di bawah guyuran air shower yang hangat, aku dan bang Rian pun saling pandang-pandangan dengan tatapan yang sulit di artikan. Setelah menghela nafas dalam-dalam, aku pun kembali membuka suara.
"Sudah lah lupakan saja, lain waktu saja kita bahas lagi. Tadi kata nya mau minta jatah kan? Ayo, lakukanlah! Aku akan selalu siap melayani abang kapan pun dan dimana pun," ujar ku mengalihkan pembicaraan.
"Loh, kok malah lain waktu sih? Abang kan penasaran nya sekarang? Kenapa jadi lain waktu membahas nya?" oceh bang Rian panjang lebar.
Karena tidak ingin membicarakan masalah itu lagi, aku pun terpaksa menyumpal mulut bang Rian dengan bibir ku. Dan itu berhasil membuat nya terdiam, dan hanyut dalam permainan lidah nakal ku.
Setelah beberapa saat saling bertukar saliva, bang Rian melanjutkan kegiatan berikut nya. Ia menurunkan ciuman nya ke area bukit kembar ku, dan mulai melahap nya dengan rakus.
Setelah selesai dengan cumbuan mesra nya, bang Rian pun kembali menatap ku dengan wajah sendu dan mata sayu nya.
"Boleh abang mulai sekarang, sayang?" tanya bang Rian.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan kembali memejamkan mata. Melihat anggukan kepala ku, bang Rian pun langsung tersenyum sumringah dan membalikkan badan ku untuk menghadap tembok.
Dia sedikit membungkuk kan tubuh ku, dan langsung memasukkan tombak kenikmatan nya ke dalam gua ku. Dan akhirnya olahraga pagi pun di mulai. Bang Rian memacu gerakan-gerakan liar nya dengan semangat empat lima.
Ia tampak begitu bergairah saat melakukan gerakan maju mundur nya. Sedangkan aku, jangan di tanya lagi.
Aku terus saja mendes*h dan meracau tidak karuan, akibat permainan dahsyat nya. Aku sangat menikmati pelayanan bang Rian yang sangat memuaskan bagi ku.
Ritual mandi yang seharusnya hanya memakan waktu sekitar sepuluh menitan, kini malah jadi berjam-jam karena ulah bang Rian.
Setelah merasa puas dengan kegiatan nya, bang Rian pun semakin mempercepat gerakan nya, hingga akhirnya kami berdua pun memuncak dan menyemburkan cairan bening nya di dalam rahim ku.
"Aaakkkhhh, abang keluar, sayang!" teriak bang Rian dengan tubuh menegang, dan kepala mendongak ke atas.
Setelah itu, bang Rian pun mengeluarkan tombak nya yang sudah mulai tampak layu. Kemudian ia membersihkan nya dengan sabun cair yang tergantung di samping wastafel.
Setelah acara penyatuan selesai, kami berdua pun melanjutkan ritual mandi yang sempat tertunda, akibat perbuatan nakal bang Rian. Selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan bang Rian pun langsung berpakaian dan merapikan diri di depan cermin.
"Mau makan dulu, atau langsung balek ke kos?" tanya bang Rian sembari memakai sepatu nya.
"Oh, ya udah kalo gitu," balas bang Rian menyetujui permintaan ku.
Selesai membereskan barang masing-masing, kami berdua pun keluar dari kamar dan berjalan beriringan menuju meja resepsionis.
Sesudah menyerahkan kunci kamar, bang Rian pun menggandeng tangan ku untuk menuju ke parkiran. Sesampainya di depan mobil, bang Rian pun membuka pintu kendaraan nya untuk ku.
"Silahkan masuk, nona cantik!" ujar bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.
"Iiiiihhh, apaan sih! Lebay tau gak?" gerutu ku lalu menepuk pelan bahu kekar nya.
__ADS_1
"Hehehehe, kan biar kelihatan romantis, kayak di film-film itu loh!" balas nya.
Bang Rian cengar-cengir salah tingkah, lalu mengerlingkan mata nya dan menoel-noel dagu ku. Melihat tingkah genit nya, aku pun memutar bola mata malas, lalu berucap...
"Gak usah cengengesan gitu, serem tau gak?" ledek ku.
"Mana pulak serem, orang ganteng dan macho gini kok di bilang serem? Udah mulai rabun ya mata nya?" cibir bang Rian sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Idih, narsis!" ledek ku lalu memiringkan bibir ku ke samping.
Melihat ekspresi wajah ku yang tampak lucu di mata nya, bang Rian pun kembali mentertawai ku.
"Hahahaha, imut banget sih wajah kekasih ku ini kalau lagi ngambek begini," gelak bang Rian sambil mencubit gemas kedua pipi ku.
Aku tidak menghiraukan ledekan bang Rian. Aku hanya diam menerima cubitan-cubitan nakal nya di pipi ku. Setelah puas mentertawai ku, bang Rian pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi.
Selesai memasang sealbeat ke badan masing-masing, bang Rian mulai melajukan kendaraan nya menuju jalan raya. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami berdua pun tiba di depan gerbang kos.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," ucap syukur ku saat melihat kos-kosan tempat tinggal ku.
Aku celingukan kesana kemari melihat keadaan sekitar. Setelah itu, aku pun melirik ke arah bang Rian dengan ekor mata ku. Ia terlihat sedang mengeluarkan dompet dari saku celana nya, dan menarik beberapa lembar uang merah, lalu menyerahkan nya ke tangan ku.
"Ini untuk pegangan mu, sayang. Abang gak mampir ya, soal nya abang mau ngecek toko dulu," ujar bang Rian, sembari menyelipkan uang itu ke dalam genggaman tangan ku.
"Iya, gak papa. Makasih banyak ya bang," balas ku lalu memeluk tubuh nya, dan mengecup kilat kedua pipi nya.
"Sama-sama sayang," balas bang Rian.
Ia membalas pelukan ku, lalu mendarat kan kecupan mesra nya di kening ku. Selesai berpelukan dan berciuman, aku pun keluar dari mobil dan berdiri di samping nya.
"Oke lah, aku masuk ke dalam dulu ya, bang. Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya. Pelan-pelan saja, asal kan selamat sampai tujuan," oceh ku mewanti-wanti bang Rian.
"Oke, sayang. Makasih ya atas perhatian nya,. Ya udah deh, abang pergi dulu ya, bye!" pamit bang Rian sambil melambaikan tangan nya, dan senyum mengembang di wajah tampan nya.
__ADS_1
"Oke, bye!" balas ku ikut melambaikan tangan pada nya.