Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Menggoda Haris


__ADS_3

Setelah kepergian bang Hendra dan Alex, aku mulai melangkah kan kaki menapaki anak tangga satu persatu, untuk menuju ke lantai tiga tempat dimana kamar ku berada.


Sampai di depan pintu kamar, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, wa'laikum salam."


Aku mengucapkan salam dan menjawab nya sendiri. Sesudah membuka sepatu dan menggantung kan tas di belakang pintu, aku segera berganti pakaian kerja dengan setelan piyama pendek.


Setelah itu, aku langsung membaringkan diri di atas kasur yang akhir-akhir ini jarang aku tiduri.


"Huh, capek nya badan ku. Ini semua gara-gara ulah dua lelaki tampan itu, badan ku jadi remuk semua jadi nya." gerutu ku.


Aku menggeliat kan badan ke kanan dan ke kiri selama beberapa menit. Kemudian aku bangkit dan duduk di tepi kasur sembari menyalakan rokok.


"Haris lagi ngapain ya sekarang? Apa dia masih marah ya sama aku?" tanya ku dalam hati.


Sedang asyik-asyiknya menghayal tentang Haris, tiba-tiba orang yang sedang ada di pikiran pun muncul. Haris langsung membuka pintu yang sengaja tidak aku kunci saat masuk tadi.


"Eh, baru aja di hayalin. Udah nongol aja nih orang, hihihi." gumam ku sembari cekikikan.


Haris yang berdiri di depan pintu pun langsung mematung dengan kening mengkerut, saat melihat ku sedang cekikikan sendiri. Dia tampak bingung dengan reaksi ku saat melihat kedatangan nya.


"Kenapa cekikikan gitu? Lagi kumat ya?" tanya Haris dengan ekspresi wajah datar dan dingin nya.


"Bukan lagi kumat tapi lagi kesurupan, hihihi." canda ku.


Haris sama sekali tidak menanggapi candaan ku. Dia menutup pintu kembali dan langsung menjatuhkan diri nya di di atas kasur, tepat di belakang punggung ku.


Melihat reaksi Haris yang tidak menghiraukan ku, dan masih tetap dengan mode dingin nya. Aku pun berinisiatif untuk menggoda lelaki ku yang sedang merajuk itu, dengan cara mengajak nya bercinta.


Aku segera beranjak dari tepi kasur, dan langsung membuka semua pakaian ku sampai polos di depan Haris. Setelah itu, aku naik ke atas kasur dan mulai menciumi wajah dan juga leher nya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari ku, Haris pun mulai memejamkan mata nya. Dia tampak mulai terlena dan terbuai dengan sentuhan-sentuhan nakal ku.


Setelah melihat reaksi Haris yang sudah mulai bergairah, aku pun segera membuka seluruh pakaian yang dikenakan nya dan mencampakkan nya ke sembarang arah.


Haris tetap diam dan terlihat pasrah dengan perbuatan ku. Dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun atas perbuatan ku pada nya.


Karena tidak mendapatkan balasan apa pun dari Haris, aku pun kembali melanjutkan kegiatan ku dengan tubuh nya.


Aku memegang kendali atas permainan ku sendiri, hingga akhirnya aku pun memuncak dan lemas di atas tubuh Haris.


Setelah melihat ku terkulai lemas, Haris pun langsung merubah posisi nya. Di meletakkan tubuh ku di atas kasur, lalu dia langsung menindih ku dan meneruskan permainan ku.


Haris yang memegang kendali dan berpacu dengan gerakan cepat di atas tubuh ku. Setelah kurang lebih satu jam lebih melakukan permainan nya, Haris pun mulai menyelesaikan kegiatan nya.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, Haris pun memiringkan tubuh nya dan memeluk separuh tubuh ku, sembari berbisik...


"Apakah kau masih mencintai abang, Ndah?" tanya Haris.


Aku langsung mengernyitkan dahi, saat mendengar pertanyaan Haris yang cukup aneh menurut ku.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" tanya ku balik.


"Gak papa, abang hanya ingin mastiin aja kalau sampai saat ini kau masih mencintai abang." jawab Haris.


"Ya masih lah, sayang. Cinta ku pada mu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun. Ya walau pun..."


"Walau pun apa, Ndah?" tanya Haris penasaran.


Aku menghela nafas panjang dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Aku bingung harus berkata apa kepada Haris.


"Kok malah diem, Ndah? Kenapa gak di lanjutkan kata-kata mu tadi?" desak Haris.


"Aku bingung, bang." jawab ku.


"Kenapa mesti bingung? Apa sebenarnya yang terjadi dengan mu?" desak Haris lagi.


Masih dalam keadaan polos tanpa busana, aku pun mulai melepaskan diri dari pelukan Haris. Setelah itu, aku duduk bersandar di dinding sambil memeluk bantal berbentuk love di dada ku.


Begitu juga dengan Haris, dia bangkit dari rebahan nya dan duduk bersila di depan ku.


Haris mengambil baju nya yang tergeletak di lantai, lalu merentangkan baju itu di pangkuan nya untuk menutupi benda pusaka nya.


"Tolong jujur sama abang, Ndah! Apa sebenarnya yang terjadi dengan mu?" tanya Haris kembali mengulang pertanyaan nya pada ku.


"A-aku...aku..."


"Huh, berat sekali rasa nya lidah ini untuk berkata jujur dengan nya." batin ku gelisah sembari menghembuskan nafas kasar.


Haris terus saja memandangi wajah ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Dia tampak sangat mengharapkan kejujuran ku saat ini.


Setelah beberapa saat suasana hening mencekam, aku pun memutuskan untuk tetap bungkam dan tidak mengatakan apa pun kepada Haris.


Aku tidak ingin melukai hati dan perasaan nya lebih dalam lagi. Aku merasa sangat bersalah atas perbuatan ku selama ini di belakang nya. Aku juga merasa kasihan pada nya, karena telah mengkhianati kepercayaan nya.


"Dari pada bentrok nanti nya, mendingan aku tutup mulut aja lah biar aman." batin ku lagi.


Dengan berat hati dan rasa bersalah, akhirnya aku pun kembali berbohong kepada Haris.


"Aku bingung dengan sikap ayah ku, bang." ujar ku lirih sembari menunduk kan kepala.


"Emang nya ayah mu kenapa lagi?" tanya Haris.


"Ayah minta uang terus sama ku, bang. Padahal abang kan tau sendiri gaji ku di tempat karaoke itu tak seberapa." jawab ku.


"Iya sih, ya di bilangin pelan-pelan lah sama ayah mu. Kasih pengertian sama dia, bilang aja yang sejujurnya kalau gaji mu itu gak seberapa." usul Haris.


"Gak semudah itu, bang. Aku juga udah berusaha menjelaskan nya sama ayah, tapi ayah tetap aja memaksakan kehendak nya dengan ku." balas ku.


"Hufff, susah juga lah kalo gitu ceritanya. Abang juga bingung harus ngomong apa lagi." ujar Haris sembari menghela nafas panjang.


Aku dan Haris sama-sama terdiam sejenak, aku sedikit gelisah sambil terus memperhatikan gelagat Haris yang tampak sedang mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


"Oiya, hampir aja abang lupa. Ada yang mau abang tanya kan dengan mu." ujar Haris.


"Ma-mau nanya apa?" tanya ku gugup dan hati yang was-was tidak karuan.


"Apa kau yakin tidak ada masalah lain lagi yang ingin kau ceritakan dengan abang?" selidik Haris.


"Aduuuuh, ternyata dia masih penasaran juga rupanya. Ku pikir tadi dia udah lupa tentang masalah itu." gerutu dalam hati.


Aku langsung panik seketika saat mendengar pertanyaan Haris. Badan ku terasa panas dingin akibat melihat mata Haris yang tajam bagaikan mata elang menatap ku.


"Ya-yakin, bang." jawab ku terbata-bata saking gugup nya.


"Oh, ya udah kalo memang gak ada masalah lain lagi." balas Haris sembari merebahkan tubuh nya kembali di atas kasur.


"Syukur lah, akhirnya dia percaya juga dengan kata-kata ku." batin ku lega.


Setelah suasana tegang dan mencekam berakhir, aku pun ikut membaringkan diri di samping Haris.


Aku mengecup bibir dan kedua pipi nya, lalu memeluk erat tubuh nya dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.


"Aku mencintai mu, bang." bisik ku pelan.


"Sama, Ndah. Abang juga sangat mencintai dan menyayangi mu."


Balas Haris sembari mengecup kening ku dan membalas pelukan ku. Sedang asyik bermanja-manja di atas kasur, tiba-tiba ponsel Haris berdering di dalam tas kecil nya.


"Bang, ponsel nya bunyi tuh. Angkat dulu gih, siapa tau penting!" ujar ku.


"Iya," balas Haris.


Haris melepaskan pelukannya dan beranjak dari kasur untuk menerima panggilan di ponsel nya.


"Ya ada apa, Fer?" tanya Haris.


"Oh oke, aku meluncur sekarang." lanjut Haris menutup panggilan nya dengan sahabat nya Ferdi.


Setelah panggilan berakhir, Haris pun langsung bergegas memakai pakaian dan sepatu nya kembali. Aku yang sedari tadi hanya melongo memperhatikan gerak-gerik Haris pun kembali membuka suara.


"Mau kemana buru-buru gitu?" tanya ku.


"Ada urusan dikit di tempat kerja. Abang kesana bentar ya, Ndah! Kalau urusan nya udah selesai, nanti abang kesini lagi." jawab Haris.


"Oh, ya udah kalo gitu. Hati-hati di jalan ya, bang!" balas ku.


"Iya, sayang. Ya udah abang pergi dulu ya, assalamualaikum."


Pamit Haris sembari mengecup kening ku dan melangkah keluar dari kamar.


"Ya, wa'laikum salam." balas ku.


Setelah Haris pergi, aku pun segera bangkit dari kasur untuk mengunci pintu. Setelah itu, aku kembali merebahkan tubuh ku di atas kasur dan memeluk guling lepes kesayangan ku.

__ADS_1


"Semoga saja Haris tidak mengetahui perbuatan ku selama ini." batin ku.


Aku mulai memejamkan mata, dan tak lama kemudian aku pun tertidur pulas di dalam selimut tipis yang menutupi tubuh polos ku.


__ADS_2