Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kepergok Haris


__ADS_3

"Iya iya, bawel banget sih lampir satu ini." gerutu Ririn.


Setelah selesai makan, aku dan Ririn kembali bergabung dengan teman-teman lain nya di bangku panjang.


"Rara kemana, Rin? Kok gak ada nampak batang hidung nya?" tanya ku sembari menyalakan rokok.


"Entah, gak masuk lagi kayak nya." jawab Ririn mengendikkan bahu nya.


"Akhir-akhir ini aku perhatiin dia kok jarang masuk kerja ya, apa cuma perasaan ku aja?" tanya ku lagi.


"Memang iya, udah beberapa hari ni dia memang sering bolos." tutur Ririn.


"Kira-kira dia kenapa ya?" lanjut ku.


"Entah lah, lagi kumat mungkin." jawab Ririn asal.


"Apa nya yang kumat?" tanya ku lagi.


"Gilak nya, hahaha." jawab Ririn sembari tertawa terbahak-bahak.


"Huuuu, dasar gemblung!" umpat ku sambil menoyor jidat Ririn.


Selesai berbincang-bincang dengan Ririn, tiba-tiba datang satu mobil dan parkir tepat di depan pintu utama ruangan karaoke. Aku terus saja memperhatikan ke arah mobil itu sambil mengernyitkan dahi.


"Mobil ini kok kayak gak asing ya." batin ku sedikit curiga.


Dan ternyata kecurigaan itu benar ada nya. Ternyata itu adalah mobil bang Rian, tamu yang pernah kencan dengan ku beberapa hari yang lalu di hotel.


"Aduh, mati aku. Bang Rian datang pulak malam ni. Mudah-mudahan aja dia gak ngajak aku ke hotel lagi." batin ku sedikit cemas.


Aku mulai panik sekaligus gelisah, saat melihat kedatangan bang Rian dan kawan-kawan nya. Aku memikirkan perasaan Haris yang sedang menunggu ku di kamar kos.


Bang Rian dan teman-teman nya keluar dari mobil, dan berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke yang langsung di ikuti oleh Lisa sang kapten para waiters.


Beberapa menit kemudian, Lisa pun kembali keluar dan memanggil ku untuk menemani bang Rian beserta teman-teman nya di dalam.


"Ndah, kamu di panggil tuh." ujar Lisa.


"Oke, Lis." balas ku.


Aku langsung bergegas masuk ke dalam ruangan karaoke dan menghampiri meja bang Rian yang berjumlah empat orang.


"Hai, bang. Apa kabar?" sapa ku basa-basi.


Aku mencium punggung tangan bang Rian dan langsung duduk di sebelah nya.


"Alhamdulillah, kabar abang baik, sayang." jawab bang Rian.


Bang Rian memeluk ku dari samping, dan mengecup kening ku di depan teman-teman nya. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari bang Rian, aku pun langsung tertunduk malu karena semua mata tertuju ke arah kami berdua.


"Eh eh eh, jangan main sosor gitu lah, bos! Gak kasian apa lihat kami yang nonton disini." canda salah satu teman bang Rian.


"Bodo amat, kalau kalian mau di temani cewek, ya cari sendiri lah di luar!" ujar bang Rian.


"Emang nya boleh ya, bos?" tanya nya.


"Boleh, silahkan aja!" jawab bang Rian.


"Oke, makasih ya, bos." balas nya


"Ya," jawab bang Rian lagi.


Setelah mendapatkan persetujuan dari bang Rian, teman nya itu pun meminta ku untuk memanggil para cewek untuk menemani mereka bertiga.


"Mbak, tolong panggil kan cewek-cewek itu kesini dong!" pinta teman bang Rian.


"Oke, bentar ya!" jawab ku.


Aku segera bangkit dari tempat duduk dan berjalan keluar ruangan.


"Ririn, Yanti, Amelia, temani tamu di dalam yok!" pinta ku pada ketiga teman-teman seprofesi ku.


"Oke siap, Ndah." jawab mereka bersamaan.


Setelah mengajak mereka bertiga untuk masuk ke dalam, aku pun kembali melangkah ke meja bang Rian dan duduk di tempat semula.

__ADS_1


"Gimana, sayang? Udah di panggil cewek-cewek nya kesini?" tanya bang Rian sembari menggenggam tangan ku.


"Udah, bang." jawab ku.


Tak lama berselang, para waiters yang aku panggil tadi pun datang dan duduk di sebelah teman bang Rian.


"Mari kita bersulang!"


Seru bang Rian sambil mengangkat gelas minuman nya ke udara. Mendengar suara bang Rian, mereka semua pun langsung mengangkat gelas masing-masing dan "cheers."


Kami semua pun bersulang, dan meminum minuman yang ada di gelas masing-masing sampai tandas satu gelas.


"Kalian mau nyanyi apa, Ndah?"


Tanya Amelia sembari memegang pena dan kertas kecil di tangan nya. Mendengar pertanyaan Amelia, aku pun langsung menoleh pada bang Rian.


"Abang mau nyanyi gak?" tanya ku.


"Gak usah, sayang. Biar mereka aja yang nyanyi, kita mesra-mesraan aja disini" jawab bang Rian.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.


Setelah mendengar jawaban bang Rian, aku pun kembali menoleh pada Amelia sembari berkata...


"Enggak Mel, kami gak nyanyi." ujar ku.


"Oh, oke." balas Amelia.


Amelia kembali ke tempat semula, dan menanyakan judul lagu kepada teman-teman lain.


Selesai mencatat beberapa judul lagu yang akan di nyanyikan, Amelia pun langsung berjalan ke arah ruangan DJ untuk menyerahkan kertas kecil itu kepada Bayu sang DJ.


Setelah itu, Amelia kembali ke tempat duduk nya dengan dua buah microfon di tangan nya.


Aku dan bang Rian hanya diam, dan memperhatikan tingkah laku mereka berenam, sambil sesekali cekikikan mendengar suara cempreng mereka saat bernyanyi.


Sambil memandangi teman-teman nya, Bang Rian pun merangkul pundak ku dan menggenggam erat tangan ku.


Kemudian dia juga sesekali mencium pipi ku, dan membelai rambut panjang ku yang tergerai bebas di belakang punggung ku.


Degh...


Darah ku langsung berdesir seketika, saat mendengar bisikan gaib dari bang Rian. Bulu kuduk ku langsung meremang akibat hembusan nafas bang Rian.


"Tuh kan, apa yang aku takutkan tadi akhirnya terjadi juga." batin ku gelisah.


"Aduuuuh, gimana ini? Gimana cara nolak nya?" lanjut ku.


Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun kembali melontarkan pertanyaan nya.


"Bagaimana, sayang? Bisa gak?" tanya bang Rian.


"Maaf, bang. Malam ini aku gak bisa, lain kali aja ya!" jawab ku.


"Gak bisa kenapa? Apa kamu lagi dapet ya?" tebak bang Rian.


"I-iya, bang. Baru tadi sore dapat nya, pas aku mau berangkat kerja." jawab ku gugup sembari menunduk dan memilin-milin ujung kemeja ku.


"Oh, gitu. Ya udah gak papa, lain kali aja kita nginap nya. Tapi dua hari lagi ya, kayak haritu." balas bang Rian.


"Hah, dua hari?" pekik ku dengan mata yang terbelalak lebar.


"Iya dua hari, emang nya kenapa? Kamu gak mau ya, kalau lama-lama berduaan sama abang di kamar?" selidik bang Rian.


"Bu-bukan gitu, bang." jawab ku semakin gugup.


"Trus, kenapa?" desak bang Rian.


"Aku mikirin kerjaan ku, kan gak mungkin aku bolos terus-terusan." jawab ku lagi.


"Emang kalau sering bolos, kamu bakalan kena marah ya sama bos mu?" tanya bang Rian.


"Iya," bohong ku.


"Oh ya udah deh, satu hari aja pun jadi lah. Dari pada tidak sama sekali." balas bang Rian.

__ADS_1


"Huh, syukur lah kalo dia percaya." batin ku.


Aku menghela nafas lega setelah berhasil meyakinkan bang Rian, dan menolak ajakan nya secara halus agar dia tidak tersinggung dengan ucapan ku tadi.


Malam semakin larut, tamu-tamu yang lain pun sudah mulai berdatangan, dan memenuhi setiap meja yang ada di dalam ruangan karaoke.


Para waiters lain nya pun mulai sibuk melayani dan menemani, para tamu lelaki itu minum dan bersenang-senang dengan pasangan nya masing-masing.


Suara dentuman musik DJ dan lampu kelap-kelip berwarna-warni pun, turut menghiasi suasana malam ini.


Tanpa terasa waktu kerja pun berakhir. Bang Rian menyuruh ku untuk mengambil tagihan minuman ke meja kasir.


"Ambil nota nya sana, Ndah!" titah bang Rian.


"Oke, bang." balas ku.


Aku segera bangkit dari tempat duduk, dan berjalan dengan langkah sempoyongan menuju meja kasir.


"Bil, minta nota meja ku!" pinta ku pada Billy sang kasir.


"Ya, bentar." balas Billy.


Setelah selesai mengotak-atik mesin penghitung nya, Billy pun langsung menyerahkan selembar kertas tagihan ke tangan ku.


"Nah, ini nota nya!" ujar Billy.


"Oke, makasih ya, cayang." balas ku sembari membelai lembut pipi Billy.


"Iya, sama-sama, cinta." jawab Billy sambil tersenyum genit pada ku.


Setelah mendapatkan kertas nota, aku pun kembali berjalan ke meja bang Rian dan menyerahkan kertas itu tangannya.


"Ini tagihan nya, bang!" ujar ku sembari mendudukkan diri kembali di sebelah bang Rian.


Bang Rian hanya mengangguk, dan langsung melihat nominal yang tertera di kertas tersebut. Setelah mengetahui jumlah nya, bang Rian segera membuka dompet nya dan menyerahkan uang itu ke tangan ku.


"Ayo kita jalan bareng, sekalian abang mau keluar juga!" bisik bang Rian.


"Ya, ayo!" balas ku.


Bang Rian kembali merangkul pundak ku, lalu kami berdua pun berjalan beriringan menuju meja kasir.


Selesai membayar tagihan minuman, aku dan bang Rian keluar dari ruangan karaoke dan berdiri tepat di depan mobil nya.


"Abang balek dulu ya, sayang. Kapan-kapan abang kesini lagi." pamit bang Rian.


"Iya, bang. Hati-hati di jalan ya!" balas ku.


"Iya, sayang." jawab bang Rian.


Bang Rian kembali memeluk tubuh ku dan mendarat kecupan-kecupan mesra nya di wajah ku. Dan yang terakhir, dia mencium bibir ku dengan waktu yang cukup lama.


Setelah selesai dengan ciuman nya, bang Rian pun menyelipkan uang ke dalam genggaman tangan ku sembari berkata...


"Untuk beli bedak." bisik bang Rian pelan di telinga ku.


"Makasih ya, bang." balas ku sambil mengecup kedua pipi nya.


Selesai berpamitan, bang Rian dan teman-teman nya pun langsung masuk ke dalam mobil, dan berlalu pergi meninggalkan lokasi tempat kerja ku.


Saat sedang memandangi kepergian bang Rian, tiba-tiba pandangan ku menangkap sosok lelaki yang sangat aku kenal.


Dia sedang berdiri di depan mobil nya, sambil terus menatap tajam pada ku dan melipat kedua tangan nya di atas perut.


"Hah, Haris? Sejak kapan dia ada disitu? Jangan-jangan tadi dia lihat, waktu bang Rian berpamitan dengan ku?" gumam ku pelan.


"Aduuuuh, apes banget sih malam ini." gerutu dalam hati.


Dengan langkah yang masih sempoyongan, aku pun mengambil tas di boks penyimpanan. Setelah itu, aku kembali berjalan menghampiri Haris yang masih berdiri di depan mobil nya, yang berada tepat di samping kantin.


"Siapa laki-laki tadi?" tanya Haris setelah aku berdiri tegak di depan nya.


"Cuma tamu minum." jawab ku.


"Tamu minum kok mesra gitu?" selidik Haris.

__ADS_1


__ADS_2