Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
POV Ayah


__ADS_3

Nama ku Abdul, pekerjaan adalah sebagai tukang becak motor. Aku mempunyai enam orang anak dari tiga istri.


Dari istri pertama, aku di karuniai seorang anak perempuan bernama Indah. Dari istri kedua ada tiga orang anak. Dan istri yang ketiga atau yang terakhir ada dua orang anak.


Indah adalah anak pertama ku yang saat ini menjadi tumpuan hidup ku.


Hanya dia lah yang selalu membantu kebutuhan kami (aku dan emak ku) atau nenek nya Indah. Sedang kan anak-anak ku yang dari istri kedua, tidak pernah memperdulikan ku selama ini.


Jangan kan membantu biaya hidup ku, menanyakan kabar ku saja tidak pernah. Mereka bertiga seperti hilang bak di telan bumi.


Saat ini, aku tinggal di rumah kontrakan bersama kedua anak ku dari istri ketiga. Nama nya Anisa dan Ridwan.


Semenjak perpisahan ku dengan ibu mereka, Anisa dan Ridwan memutuskan untuk tinggal bersama ibu nya.


Tapi setelah ibu mereka menikah lagi, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk tinggal bersama ku.


Waktu itu, Anisa masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), sedang kan Ridwan duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


Sebagai seorang ayah, aku harus tetap menerima mereka berdua dengan tangan terbuka untuk hidup bersama ku.


Ya walaupun aku merasa agak berat untuk membiayai sekolah dan kebutuhan mereka sehari-hari, namun aku tetap menerima mereka dengan lapang dada.


Awal nya, aku masih sanggup untuk menanggung sendiri semua biaya mereka berdua.


Tapi setelah Anisa mulai memasuki bangku kuliah, dan Ridwan di bangku SMA. Di situ lah aku mulai merasakan beban yang semakin berat.


Sedang kan penghasilan ku yang hanya sebagai tukang becak, tidak lah mencukupi untuk biaya sekolah mereka.


Indah selalu memberi ku uang untuk membayar kontrakan dan biaya lain nya. Termasuk biaya makan ku sehari-hari.


Sebelum nya, uang pemberian Indah itu sudah lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan hidup ku selama ini.

__ADS_1


Tapi karena aku juga harus membiayai sekolah, Anisa dan Ridwan, sejak saat itu lah pemberian dari Indah selalu kurang bagi ku.


Sebenarnya, aku tidak tega terus terusan meminta uang kepada Indah. Tapi ya apa boleh buat, keadaan lah yang memaksa ku untuk melakukan hal itu kepada Indah.


Hanya dia lah satu-satunya yang bisa aku harap kan saat ini.


Terkadang aku merasa sedih memikirkan nasib anak perempuan ku itu. Hanya dia yang membantu kebutuhan ku dari dulu hingga sekarang.


Dia pergi merantau ke kota orang hanya untuk membantu keuangan ku, mencukupi semua kebutuhan ku dan juga kebutuhan ibu ku.


Aku juga tidak mau tahu bagaimana nasib nya di sana. Apakah dia sakit? Apakah dia punya tempat tinggal? Apakah dia punya uang atau tidak?


Yang penting bagi ku sekarang adalah, aku harus bisa membiayai sekolah anak-anak ku yaitu Anisa dan Ridwan.


Mereka berdua harus sampai lulus, dan tidak kekurangan sesuatu apapun. Ya walaupun aku harus tega mengorbankan anak pertama ku Indah.


Terkadang aku berpikir, anak pertama ku Indah yang hanya tamatan SD itu saja, bisa membiayai hidup ku.


Pernah suatu hari, aku meminta uang kepada Indah dengan alasan untuk membayar hutang. Padahal uang itu sebenarnya untuk biaya kuliah Anisa yang di perlukan saat itu juga.


Tapi ternyata jawaban Indah membuat ku sangat kecewa, karena dia sedang tidak mempunyai uang saat itu.


Ya memang aku akui, baru dua minggu yang lalu Indah mengirim kan gaji nya pada ku sebesar satu juta lima ratus ribu.


Tapi uang itu sudah habis buat bayar kontrakan, listrik, air, biaya makan kami bertiga. Dan juga untuk biaya sekolah Anisa dan Ridwan tentu nya.


Berhubung Indah tidak bisa memberi ku uang, maka dari itu aku terpaksa harus meminjam kepada tetangga sebelah sebesar lima ratus ribu, untuk biaya kuliah Anisa yang diperlukan saat itu juga.


Aku menjanjikan akan mengembalikan uang itu, setelah menerima uang kiriman dari Indah bulan depan.


Pernah suatu hari Indah marah besar pada ku, karena aku selalu memaksa nya untuk mengirimkan uang kepada ku.

__ADS_1


Aku menargetkan kepada Indah, harus mengirimkan uang sebesar dua juta rupiah setiap bulan nya. Belum lagi biaya kontrakan dan listrik.


Setelah mendengar permintaan ku itu, Indah langsung marah-marah. Dia juga mengungkap kan rahasia nya selama ini kepada ku, yaitu tentang pekerjaan yang di geluti nya selama berada di kota Batam.


Aku langsung terhenyak mendengar kejujuran anak perempuan ku tersebut. Ternyata selama ini dia membohongi ku.


Dulu dia mengatakan bahwa dia bekerja sebagai pelayan rumah makan Padang, dan aku pun percaya dengan ucapan nya itu.


Tapi ternyata dia tega membohongi ku, demi mendapatkan uang untuk memenuhi semua kebutuhan hidup ku.


Dia rela menjadi wanita penghibur di sebuah tempat karaoke. Dia rela mengorbankan harga diri dan masa depan nya, hanya untuk membantu ku.


Awal nya, aku sangat kecewa mendengar kenyataan pahit itu. Tapi apa mau di kata, semua nya sudah terlanjur terjadi.


Mau tidak mau, aku harus pasrah dan ikhlas dengan keputusan nya untuk bekerja sebagai wanita penghibur. Karena aku yakin, Indah pasti bisa menjaga diri nya sendiri di tanah perantauan sana.


Aku akui kalau aku memang egois. Aku hanya memikirkan uang uang dan uang, tanpa memikirkan nasib anak pertama ku, yang sedang berjuang di kota orang hanya demi aku, dan kedua anak-anak ku Anisa dan Ridwan.


Bahkan, bukan kami bertiga saja yang bergantung pada Indah. Tapi juga ibu ku, nenek nya Indah.


Biaya yang di kirim kan Indah perbulan nya untuk ibu ku itu sebesar, delapan ratus ribu rupiah. Bahkan terkadang juga bisa lebih dari itu.


Jujur ku akui, sebenarnya aku sangat bangga dengan anak pertama ku yang bernama Indah itu.


Dia begitu sangat menyayangi kami berdua, yaitu aku dan ibuku. Sampai-sampai, dia rela mengorbankan diri nya sendiri hanya demi kami berdua.


Aku sering merenung, entah bagaimana nasib hidup ku jika tidak ada Indah. Tidak akan ada lagi orang yang bisa memberikan uang pada ku. Tidak ada lagi tempat aku bergantung, dan tidak ada lagi orang yang membiayai hidup ku.


Ah, entahlah. Mudah-mudahan saja Indah baik-baik saja di sana. Hanya itu lah doa yang bisa aku berikan untuk anak perempuan ku itu.


Karena hanya dia lah harapan ku satu-satunya. Hanya dia lah yang bisa aku andal kan. Dan hanya dia lah tumpuan hidup ku yang mengerti akan diriku. Itu lah harapan ku pada Indah, anak perempuan tertua ku itu.

__ADS_1


__ADS_2