
"Sama, Ndah. Abang juga kangen dengan mu." balas Haris.
Aku mulai melepaskan pelukan ku pada Haris, dan kami berdua pun berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Haris menggenggam tangan ku dengan erat, sambil menarik koper dan bungkusan Bika Ambon yang terletak di atas koper besar ku.
"Udah lama nunggu nya, Ndah?" tanya Haris.
"Gak, bang. Aku juga baru nyampe kok, pas aku nelpon tadi aku baru selesai ngambil koper." jelas ku.
"Oh, kirain udah lama." jawab Haris.
Setelah sampai di parkiran, Haris memasukkan koper ku ke dalam bagasi belakang dan meletakkan bungkusan Bika Ambon nya di kursi tengah. Kemudian aku dan Haris pun segera masuk ke dalam kendaraan roda empat nya tersebut.
Haris mulai melajukan mobil nya secara perlahan, untuk keluar dari area parkir dan terus melaju meninggalkan bandara.
Sampai di jalan raya, Haris pun mulai menaikkan kecepatan kendaraan nya untuk menuju ke arah kos tempat tinggal ku.
"Nyetir mobil nya kok gak kayak biasa nya sih, bang? Kayak lagi di kejar-kejar setan aja." oceh ku.
Aku mengoceh kesal sambil tetap fokus menatap lurus ke jalanan. Haris hanya tersenyum mendengar celotehan ku. Dia menoleh ku sekilas sambil berkata...
"Biar cepat sampe, sayang." balas Haris santai dan kembali fokus ke jalan.
"Iya, tapi gak gini juga lah! Jadi ngeri aku lihat nya kalo ngebut-ngebut gini." lanjut ku.
Aku semakin kesal dengan ulah Haris yang menyetir mobil nya secara ugal-ugalan seperti itu. Setelah mendengar ucapan ku, Haris pun mulai menurunkan laju kendaraan nya seperti biasa.
"Nah, gini kan enak. Gak kayak tadi bikin deg-degan aja!" ujar ku sedikit lega.
"Iya, sayang ku. Maaf ya, abang tadi udah gak sabar pengen cepat-cepat melepaskan rindu dengan mu." balas Haris.
"Iya, aku ngerti kok. Aku pun juga rindu, bang. Rinduuuu banget!" balas ku.
Aku menjawab sambil mencubit gemas pipi Haris. Mendapatkan cubitan yang cukup kuat dari tangan jahil ku, Haris pun langsung terpekik kuat dan meringis kesakitan sambil mengelus-elus pipi nya sendiri.
"Adoooh! Sakit, Ndah."
"Helehh, cuma di sentuh gitu aja kok pake acara jerit-jerit segala." cibir ku.
"Itu nama nya bukan di sentuhtapi di cubit, sakit tauuu!" oceh Haris.
__ADS_1
Dia membalas perbuatan jahil ku tadi, dengan mencubit balik pipi ku menggunakan tangan kiri nya.
Setelah itu, Haris pun tertawa geli melihat raut wajah ku yang terlihat lucu dan menggemaskan bagi nya.
"Iiihhhh, apa an sih, sakit tau gak? Lihat nih, pipi ku jadi merah gini!" rengek ku manja.
"Hahaha! Iya iya, maaf ya, sayang kuuu." balas Haris.
Dia terus saja tertawa lepas menatap ku yang sedang memasang wajah masam, sambil memanyunkan bibir ku.
Setelah lelah mentertawai ku, Haris pun kembali menggenggam tangan ku sambil tersenyum genit pada ku.
"Mata nya jangan jelalatan terus, lihat jalanan nya tuh!" oceh ku sembari menunjuk ke depan.
"Siap, tuan putri!" canda Haris.
"Hmmm, kalo udah kayak gitu, pasti ada mau nya tuh." balas ku sembari memutar bola mata malas.
"Hahaha, ya iya lah, sayang. Tau aja sih kekasih ku ini." balas Haris.
Haris kembali tertawa mendengar semua ocehan-ocehan receh ku. Di sepanjang perjalanan menuju kos, aku dan Haris tidak henti-hentinya saling meledek, saling ketawa-ketiwi, saling bergurau, dan lain sebagainya.
Setelah kurang lebih hampir satu jam menempuh perjalanan dari bandara, akhirnya aku dan Haris pun tiba di depan gedung kos berlantai tiga tersebut.
Sedangkan aku, langsung membuka pintu tengah dan mengambil bungkusan Bika Ambon yang terletak di atas kursi. Setelah selesai, kami berdua pun berjalan masuk ke dalam gerbang.
Aku dan Haris terus berjalan menuju kamar yang berada di lantai tiga. Sampai di depan kamar, Haris segera membuka kan pintu.
"Assalamualaikum," salam ku.
Wa'laikum salam," jawab Haris.
Aku mengucapkan salam, sembari melangkah masuk ke dalam kamar yang sudah aku tinggal kan selama dua minggu ini.
Begitu juga dengan Haris, dia menjawab salam ku dan mengikuti langkah ku sambil menenteng koper.
Setelah berada di dalam kamar, Haris mengunci pintu kembali dan langsung memeluk tubuh ku dari belakang.
Aku yang sedang membuka baju dan ingin berganti pakaian pun langsung terkejut, karena mendapatkan serangan mendadak dari Haris.
"Abang kangen banget, Ndah."
__ADS_1
Haris berbisik di telinga ku. Dia juga menciumi ceruk leher ku dari belakang. Aku hanya tersenyum saat mendengar penuturan Haris. Aku langsung menggenggam erat jari-jari tangan nya yang sedang bertengger cantik di atas perut ku.
"Aku juga kangen banget dengan mu, bang." balas ku.
"Dua minggu di tinggalkan oleh dirimu, rasa nya lamaaa banget, Ndah!"
Haris membalas ucapan ku sembari memutar posisi tubuh ku untuk menghadap kepada nya. Dia menatap wajah ku dengan serius sambil memegangi kedua bahu ku.
"Tiap malam abang tidur di kamar ini, hanya untuk mengobati rasa rindu abang dengan mu, sayang." lanjut Haris lagi.
Haris kembali mencurahkan isi hati nya pada ku, dengan mata yang sudah memerah dan mulai berembun. Melihat raut wajah sedih Haris, aku pun kembali berkata...
"Iya abang ku, sayang. Aku juga kangen banget dengan mu." balas ku sambil mencium kedua pipi Haris.
"Aku mau ganti baju dulu ya. Rasa nya udah gerah banget nih badan ku pengen mandi biar seger." lanjut ku.
Aku mendorong pelan tubuh Haris, agar sedikit menjauh dari ku dan mulai membuka satu persatu pakaian yang sedang aku kena kan.
"Iya mandi lah, sana! Biar fresh, biar gak bau acem, hihihi." ledek Haris.
Haris terkikik sendiri sambil menutup hidung nya di depan ku. Mata ku langsung terbelalak setelah mendengar ledekan Haris barusan.
"Whaaat, bau acem? Tadi waktu meluk-meluk aku, kenapa gak bilang kalo badan ku bau acem?" tanya ku mulai sewot.
"Hahaha, abang cuma bercanda kok, Ndah. Gitu aja kok marah sih, gak ada yang bau acem kok wangi semua dari atas sampe bawah." ujar Haris.
Haris terus saja mentertawai ku sembari mendudukkan diri nya di tepi kasur. Aku pun menjadi semakin kesal akibat ulah nakal lelaki ku itu.
"Ejek aja lah, terus! Gak aku kasi jatah nanti, baru tau rasa." ancam ku sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Eits, jangan gitu lah, sayang. Udah dua minggu puasa pun, masa tega sih sama abang? Gak kasian apa lihat dedek yang di bawah ini?" tutur Haris.
Haris memasang wajah memelas, sembari menarik tangan ku yang hendak melangkah keluar. Lalu dia pun menunjuk ke arah pangkal paha nya.
"Biarin, weeek!" cibir ku.
Aku menjulurkan lidah dan melepaskan tangan ku dari cengkraman Haris. Setelah itu, aku langsung berlari kecil menuju kamar mandi, meninggal kan Haris yang masih terpaku di tempat duduk nya.
Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah yang sudah segar, rambut yang terurai basah dan handuk yang melilit di tubuh ku.
Dan itu berhasil membuat Haris menelan ludah nya dengan kasar. Dia tampak terpesona dengan pemandangan yang ada di hadapan nya yang sangat menggairahkan bagi nya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi, Haris pun langsung menerkam ku. Dia melepaskan handuk yang aku kenakan, dan mencampakkan nya ke sembarang tempat.