
"Udah, jangan nangis lagi, Ndah! Abang janji, abang gak akan cemburuan lagi seperti tadi." ucap Haris dengan wajah serius.
Haris kembali membawa ku ke dalam pelukan nya. Dia membelai rambut ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Udah makan belum, Ndah?" tanya Haris sembari merenggang pelukan nya pada ku.
"Udah, bang." jawab ku lirih.
"Serius, udah makan belum? Kalo belum, biar abang keluar cari makanan." tanya Haris lagi.
"Serius, bang. Aku udah makan tadi." jawab ku.
"Oh, ya udah kalo gitu." ucap Haris sembari merebahkan tubuh nya di atas kasur.
Begitu juga dengan ku, aku merebahkan diri di samping Haris. Kemudian, aku menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya, dan memeluk separuh tubuh Haris.
"Hari ini abang gak kerja, ya?" tanya ku.
"Enggak, Ndah. Tadi abang sempat juga datang ke tempat kerja. Ternyata bahan-bahan bangunan nya udah pada habis."
"Yang punya ruko belum sempat membeli nya. Maka nya hari ini kami libur dulu, besok baru kerja lagi." jelas Haris.
"Ohhh, pantesan." ucap ku.
Aku menciumi leher Haris, dengan nafas yang mulai memburu. Aku juga semakin mempererat pelukanku di tubuh nya.
"Hmmm, jangan mancing-mancing gitu, Ndah! Nanti kalau si junior bangun, gimana? Emang nya dirimu mau tanggung jawab?" tanya Haris dengan suara serak nya.
"Iya, bang. Aku akan tanggung jawab atas perbuatan ku ini." bisik ku.
Haris pun kembali tersenyum, dan mulai menikmati perbuatan nakal ku itu. Dia terlihat gelisah dan menggeliat-geliat karena kegelian.
Ciuman ku yang semakin liar pun, berhasil membuat Haris tidak bisa menahan hasrat nya lagi. Dan akhirnya, Haris pun membalas perbuatan ku, dengan menciumi bibir dan seluruh wajah ku.
"Apakah kau menginginkan nya, sayang?" bisik Haris.
"Iya, bang. Aku sangat menginginkan nya saat ini. Tolong layani aku, bang!" pinta ku.
Haris tersenyum menyeringai, setelah mendengar permintaan ku.
"Baik lah, sayang. Jika itu yang kau inginkan, dengan senang hati abang akan memberikan nya pada mu." bisik Haris lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, Haris pun langsung mencumbui dan menggerayangi tubuh ku. Setelah puas menikmati cumbuan Haris, aku pun meminta Haris untuk segera melakukan permainan nya.
"Cepat lakukan, bang! Aku udah gak tahan lagi nih." rengek ku manja.
"Oke, sayang. Abang akan menuruti keinginan mu." jawab Haris.
Kemudian, Haris pun mulai melakukan aksi nya dengan kecepatan tinggi. Setelah selesai, Haris menjatuhkan diri nya di samping ku, dengan nafas yang masih ngos-ngosan, dan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.
"Bang, aku capek. Aku mau tidur bentar, ya!" ucap ku.
__ADS_1
Aku memakai pakaian, dan berbaring miring di atas kasur sambil memeluk guling.
Iya, tidur lah, Ndah! Abang juga mau tidur nih. Ngantuk banget rasa nya mata ini."
Haris yang sedang memakai celana pendek nya pun, langsung ikut berbaring dan memeluk ku dari belakang.
Dan pada akhirnya, kami berdua pun tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku pun terbangun dengan sendirinya.
Setelah menguap dan mengucek-ngucek mata, aku melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh sore.
"Hah, udah jam tujuh!" pekik ku dengan mata yang terbelalak lebar.
"Aku harus cepat-cepat mandi nih. Kalau tidak, aku bisa terlambat masuk kerja." gerutu ku sembari beranjak dari kasur.
Dengan gerakan cepat, aku langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, aku kembali ke dalam kamar, dan langsung bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Sebelum pergi, aku membangun kan Haris terlebih dahulu. Aku ingin meminta nya, untuk mengantarkan ku ke tempat kerja.
"Bang, bangun, bang! Ayo, antar kan aku kerja!" ucap ku sembari mengguncang pelan bahu Haris.
"Hmmmm, emang nya udah jam berapa, Ndah?" tanya Haris sembari menggeliat.
"Udah jam setengah delapan, bang. Ayo cepetan! Nanti aku bisa terlambat nih." desak ku.
"Iya, bentar! Abang cuci muka dulu."
"Udah selesai, bang?" tanya ku sembari memakai sepatu.
"Udah, Ndah. Ayo, kita berangkat sekarang." jawab Haris.
"Oke," balas ku.
Saat hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba Haris memeluk ku. Lalu, dia juga mencium kening dan kedua pipi ku.
"Aduuuh, cantik nya wanita ku ini. Hati-hati kerja nya ya, Ndah! Jangan nakal-nakal di sana!" ucap Haris.
Haris memberi peringatan, sembari menghirup dalam-dalam, aroma wangi yang ada di tubuh ku.
"Iya, bawel." jawab ku.
Haris mulai melepaskan pelukan nya, dan mengunci pintu kamar. Kemudian, dia menggenggam tangan ku, dan mengajak ku berjalan di samping nya, untuk menuju ke parkiran mobil.
Sampai di dalam mobil, Haris langsung melajukan kendaraan nya menuju ke lokasi tempat kerja ku.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di halaman gedung karaoke, tempat ku bekerja. Sebelum keluar dari mobil, aku mencium punggung tangan Haris, dan mengecup kedua pipi nya.
"Aku kerja dulu ya, bang!" pamit ku.
"Iya, hati-hati ya, Ndah. Kalau sudah pulang, kabari aja ya! Biar abang jemput." balas Haris.
__ADS_1
"Oke, bang. Nanti aku kabari." ucap ku.
Selesai berpamitan, aku segera keluar dari mobil Haris, dan berjalan menuju bangku panjang, tempat para waiters berkumpul.
Setelah melihat ku sudah bergabung dengan teman-teman lain nya, Haris pun kembali melajukan mobil nya menuju kos, tempat tinggal ku.
"Hai, guys!" sapa ku kepada Ririn dan Rara.
"Siapa yang mengantar mu tadi, Ndah?" tanya Rara.
"Itu cowok nya Indah, Ra. Masa kau gak tau, sih?" jawab Ririn.
"Aku kan memang gak tau sih, Rin. Kalo aku tau, ngapain juga aku nanya-nanya lagi!" balas Rara sewot.
"Udah udah, kok jadi kalian yang ribut, sih! Kalian berdua udah pada makan belum?" tanya ku.
"Belum, Ndah. Kami juga baru aja nyampe kok." jawab Ririn.
"Ya udah kalo gitu, ayo kita makan! Hari ini aku yang traktir kalian berdua." ucap ku.
"HAH, beneran, Ndah?" pekik Rara dan Ririn bersamaan.
"Ssstttt, jangan berisik, dodol! Gak enak kalo kedengaran sama yang lain." balas ku.
Aku membungkam mulut Rara dan Ririn, dengan menggunakan kedua telapak tangan ku.
"Hehehe, maaf lah, Ndah. Aku keceplosan." ucap Rara.
"Iya, aku juga kebablasan, karena saking seneng nya." sambung Ririn.
"Udah, gak usah banyak bacot lagi. Ayo, kita ke kantin!" ajak ku.
"Ayo!" jawab Ririn dan Rara.
Kami bertiga pun mulai melangkah menuju kantin, yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami.
Sampai di dalam kantin, Ririn duduk di sebelah ku. Sedangkan Rara, dia duduk di depan kami berdua.
"Kalian mau makan apa?" tanya ku.
"Aku ayam bakar aja lah, Ndah. Sama jus jeruk." jawab Rara.
"Kau Rin, mau makan apa?" tanya ku menoleh kepada Ririn.
"Sama in aja kayak pesanan Rara, Ndah." jawab Ririn.
"Oke," balas ku.
"Mbak, pesan ayam bakar tiga porsi. Trus, jus jeruk nya tiga juga ya!" pinta ku kepada si pelayan kantin.
"Oke, kak." balas si pelayan.
__ADS_1