
Sesampainya di dalam kamar, aku segera berganti pakaian dan duduk selonjoran di lantai. Baru saja hendak menyalakan rokok, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Buka pintu nya, Ndah!" pekik Haris.
Mendengar suara Haris, mata ku langsung terbelalak dengan mulut menganga.
"Hah, Haris! Kok dia bisa tau ya, kalau aku udah ada di kos?" gumam ku bingung.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ku, Haris pun kembali mengetuk-ngetuk pintu sembari memekik kuat.
"Indah, bukan pintu nya, Ndah!"
"Ya bentar, bang!" jawab ku sembari beranjak dari lantai dan membuka pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, Haris langsung nyelonong masuk, tanpa mengucapkan salam atau pun sekedar menyapa ku.
"Dia kenapa? Sikap nya kok aneh gitu? Apa dia lagi kesurupan, ya?" batin ku menduga-duga.
Aku masih terpaku di depan pintu, dan terus saja memperhatikan gerak-gerik Haris, yang cukup aneh menurut ku.
Haris mendudukkan diri nya di pinggir kasur, dengan wajah yang cukup horor dan menakutkan. Aku menautkan kedua alis, aku bingung melihat ekspresi wajah Haris yang tidak seperti biasa nya.
"Kau kenapa, bang? Muka nya kok aneh gitu, kesambet ya?" tanya ku.
Bukan nya menjawab, Haris malah menatap tajam pada ku.
"Siapa laki-laki yang mengantar mu pulang?" tanya Haris.
"Aduh, mati aku. Dia kok bisa tau ya?" batin ku mulai gelisah.
Aku berusaha menormalkan ekspresi wajah ku, agar terlihat tetap tenang di depan Haris. Kemudian, aku duduk di samping nya, dan menyandarkan punggung ku di dinding.
"Oh itu, bukan siapa-siapa kok, bang. Dia itu teman nya Ririn, nama nya Hendra. Emang nya kenapa, bang?" tanya ku balik.
"Teman nya Ririn?" balas Haris.
"Iya, emang nya kenapa sih? Bikin penasaran aja." desak ku.
"Teman Ririn, atau teman kencan mu?" tebak Haris.
__ADS_1
"Ngomong nya kok gitu, sih? Kau itu lagi nanya, atau lagi nuduh?" balas ku sewot.
"Ya lagi nanya lah, Ndah." jawab Haris.
Haris menggeser badan nya, dan ikut menyadarkan punggung nya di dinding, tepat di sebelah ku.
"Itu bukan nanya nama nya, tapi nuduh. Tadi kan udah aku jawab, kenapa masih nanya lagi?" balas ku tak mau kalah.
"Itu karena abang gak percaya dengan jawaban mu tadi, Ndah. Abang lihat, kalian sangat mesra sewaktu di dalam mobil lelaki itu." tutur Haris.
Degh...
Dada ku langsung berdegup kencang, setelah mendengar penuturan Haris. Aku menghela nafas berat, lalu melirik ke arah Haris, yang masih menatap ku dengan mata elang nya.
"Waduhhh, gimana ini? Kalau sampai Haris tau, bisa runyam urusan nya." batin ku semakin gelisah tidak karuan.
"Kok diam, Ndah?" tanya Haris lagi.
"Hmmm, dia...itu..."
Aku menjeda kata-kata. Aku gugup sekaligus bingung, mau menjawab apa lagi kepada Haris.
"Dia itu, apa? Siapa dia sebenarnya, Ndah?" desak Haris semakin bertambah penasaran.
Mata Haris langsung membulat, saat mendengar jawaban ku. Dia tampak sangat syok, atas kejujuran ku barusan. Haris mengacak-acak kasar rambut nya sendiri.
"Maksud nya tamu yang bagaimana, Ndah? Tamu minum, atau tamu kencan?"
Haris bertanya dengan wajah yang memerah, karena menahan emosi.
"Ta-tamu mi-minum, bang." jawab ku gugup.
Aku menundukkan kepala di depan Haris. Aku sama sekali tidak berani menatap wajah nya, yang tampak semakin menyeramkan saat ini.
"Kalau dia hanya tamu minum, kenapa dia yang mengantarkan mu pulang? Coba jelaskan kejadian yang sebenarnya, Ndah!" ucap Haris.
Aku menghembuskan nafas kasar, lalu aku mendongak kan kepala, dan menatap mata Haris.
"Semalam, aku dan Ririn di ajak ke diskotik. Trus, kami berdua di bayar untuk menemani mereka bersenang-senang di sana." jawab ku lirih.
"Bersenang-senang, maksud nya?" tanya Haris lagi.
__ADS_1
"Ya, bersenang-senang seperti di tempat kerja ku lah, bang. Masa gitu aja gak paham sih."
"Aku dan Ririn, hanya menemani mereka minum dan berkaraoke saja, gak lebih. Tamu-tamu itu, menyewa ruangan VIP room di diskotik itu." jelas ku panjang lebar.
"Kamu yakin hanya menemani mereka saja, gak lebih dari itu?" selidik Haris penuh curiga.
"Kalau abang gak percaya dengan jawaban ku, lebih baik abang gak usah nanya-nanya lagi lah! Bikin emosi aja."
"Udah di jawab bener-bener pun, masih aja gak percaya, heran aku!" balas ku sewot.
Aku bersidekap dan membuang muka ke samping kanan, dengan bibir yang mengerucut.
"Mudah-mudahan aja Haris percaya dengan ucapan ku tadi." batin ku.
"Kok malah ngambek sih, Ndah? Seharusnya yang ngambek itu abang, bukan dirimu. Kok malah terbalik sih?" gerutu Haris.
Haris menarik tubuh ku ke dalam pelukan nya. Dia menciumi bibir ku dengan lembut dan mata yang terpejam.
"Hmmmm, dasar orang aneh. Sedang marah kayak gini kok masih nyosor juga." batin ku heran.
Beberapa saat kemudian, ciuman Haris yang tadi nya santai dan lembut. Kini berubah menjadi liar dan sedikit kasar. Hingga membuat ku sesak, dan kesusahan untuk bernafas.
Melihat tingkah Haris yang semakin tidak terkendali, akhir nya aku pun mulai berusaha melepaskan diri dari pelukan nya. Kemudian, aku mendorong kuat tubuh Haris, hingga membuat nya sedikit terpental ke belakang.
"Kau itu sebenar nya kenapa sih, bang? Sikap dan kelakuan mu semakin lama semakin menjadi-jadi aja!" pekik ku kesal.
Karena mendengar suara ku yang cukup memekakkan telinga, Haris pun langsung tersadar dan mendekati ku kembali.
"Maaf, Ndah. Abang khilaf, abang bener-bener gak sadar melakukan nya tadi." jawab Haris dengan wajah yang merasa bersalah.
Haris tampak sangat menyesali perbuatan nya barusan. Dia menggenggam tangan ku, dan mengecup kening ku dengan lembut, sembari berucap...
"Abang cemburu, Ndah. Hati abang sakit, saat melihat kemesraan mu dengan lelaki itu tadi." ungkap Haris.
"Maafin abang ya, sayang. Abang sudah berbuat kasar dengan mu. Abang tidak bisa mengendalikan emosi dan kecemburuan abang tadi." lanjut Haris dengan penuh penyesalan.
Tanpa terasa, air mata ku pun jatuh menetes, membasahi kedua pipi ku. Aku sangat terharu, mendengar penuturan Haris. Aku juga merasa sangat bersalah, karena sudah mengingkari janji ku pada nya.
"Maafkan aku, bang. Aku sudah menduakan cinta mu. Aku sudah menyakiti hati dan perasaan mu. Dan aku juga, sudah mengkhianati cinta dan kasih sayang mu." jerit ku dalam hati.
Aku memeluk erat tubuh Haris, dengan linangan air mata di kedua pipi ku. Aku menyesal karena telah tega menyakiti lelaki baik, seperti diri nya.
__ADS_1
Haris melepaskan pelukan ku. Dia menghapus air mata ku dengan jari-jari tangan nya.
"Udah, jangan nangis lagi, Ndah! Abang janji, abang gak akan cemburuan lagi seperti tadi." ucap Haris dengan wajah serius.