Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Berlanjut


__ADS_3

Bang Hendra dan Alex terus saja berebut untuk mendapatkan keinginan nya. Tidak ada yang mau mengalah satu pun di antara mereka. Kedua lelaki tampan itu masih saja otot-ototan demi memenuhi hasrat mereka.


Aku yang sedang terlena oleh sentuhan-sentuhan lembut mereka pun, akhirnya memutuskan untuk melayani mereka sekaligus.


"Udah sekarang gini aja, aku siap melayani kalian berdua tapi main nya gantian ya. Jangan rebutan kayak gini lagi!" ujar ku kepada Alex dan bang Hendra.


"Oke, sayang." jawab mereka bersamaan.


Sesudah mendapatkan persetujuan ku, bang Hendra dan Alex pun mulai melakukan kegiatan nya masing-masing.


Setelah puas mencumbui tubuh ku, bang Hendra langsung naik dan dan mulai melakukan gerakan dengan semangat yang menggebu-gebu.


Sedangkan Alex, dia masih aktif dengan cumbuan dan sentuhan-sentuhan nakal nya. Setelah beberapa saat berpacu, bang Hendra pun menghentikan kegiatan nya lalu di lanjutkan oleh Alex.


Tenaga dan permainan Alex juga tak kalah hebat dengan bang Hendra. Alex memacu gerakan nya dengan cepat, sehingga membuat ku semakin tidak terkendali karena mendapatkan kenikmatan dari Alex.


Setelah permainan berakhir, kami bertiga pun langsung beranjak dari ranjang dan melangkah ke dalam kamar mandi. Selesai membersihkan diri, aku dan kedua lelaki itu pun kembali duduk di tepi ranjang.


"Seru juga permainan kita tadi ya, Hen." tutur Alex pada bang Hendra.


"Bagi mu mungkin seru, tapi bagi ku enggak tuh." jawab bang Hendra dingin.


"Loh, emang kenapa?" tanya Alex heran.


"Aku lebih suka main berdua aja sama Indah, rasa nya lebih puas dari pada main bertiga kayak tadi." jawab bang Hendra.


"Ya sekali-kali kan gak papa sih, Hen. Kan gak tiap hari juga kita main kayak tadi." tutur Alex.


Aku hanya berdiam diri, sambil terus mendengarkan celotehan kedua lelaki yang ada disisi kanan dan kiri ku itu.


"Udah pulang sana, tinggalkan aku sama Indah disini! Mengganggu kesenangan kami berdua aja kerjaan mu." usir bang Hendra.


"Gak, aku gak mau pulang. Aku mau nginap disini aja dengan kalian." tolak Alex.


"Ini orang kok ngeyel kali sih di bilangin. Aku itu mau bersenang-senang sama Indah, masa kau gak ngerti-ngerti juga sih." omel bang Hendra lagi.


"Ya sama lah, Hen. Aku pun juga mau happy-happy sama Indah sampe besok." jawab Alex santai.


"Boleh kan, Ndah?" tanya Alex.


Alex memeluk ku dari samping sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher ku. Melihat kelakuan Alex, bang Hendra pun langsung melepaskan pelukan Alex dari tubuh ku, dan membawa ku ke dalam dekapan nya.

__ADS_1


"Jangan kau sentuh-sentuh wanita ku! Kau cari wanita lain sana, jangan ganggu punya ku!"


Ujar bang Hendra sembari mempererat pelukannya pada ku. Dia tampak marah dan tidak rela jika Alex dekat-dekat dengan ku, apa lagi sampai memelukku seperti tadi.


"Aku mau nya cuma sama Indah aja, Hen. Aku gak mau sama wanita lain." tutur Alex lagi.


"Indah ini milik ku, dan kau tidak boleh memiliki apa yang sudah menjadi milik ku, ingat itu!" jelas bang Hendra penuh penekanan.


"Ck, masa sama kawan sendiri gak mau berbagi sih, Hen. Kau gak boleh pelit-pelit jadi orang, nanti kuburan nya sempit loh." tutur Alex.


"Bodo amat." jawab bang Hendra ketus.


"Huuuuu, dasar batu! Keras kepala kali di bilangin." umpat Alex kesal.


"Yang keras kepala itu kau, kamvret! Kau sendiri yang kurang kerjaan ngekorin kami sampe kesini." omel bang Hendra.


Alex tidak menjawab ucapan bang Hendra lagi. Dia hanya memanyunkan bibir nya sembari mendengarkan nyanyian-nyanyian merdu dari bibir bang Hendra.


"Kalian berdua ini apa-apaan sih, dari mulai jumpa kok gak ada akur nya. Kayak kucing sama gukguk aja cakar-cakaran terus dari tadi." oceh ku.


Alex dan bang Hendra saling melirik dengan tatapan sinis nya. Raut wajah mereka tampak kesal, seperti sedang menahan emosi yang bergejolak di hati mereka masing-masing.


"Dari pada berisik terus, mending kita bobok aja yok! Mata ku udah ngantuk berat nih, hoam." seru ku sembari menguap lebar.


"Ayo!" jawab Alex dan bang Hendra serempak.


"Naaah, kalau kompak gitu kan bagus, hihihi." tutur ku sembari cekikikan.


"Alex aja yang gak tau diri. Kita mau senang-senang kok malah di ganggu pulak sama dia." gerutu bang Hendra.


"Siapa yang ganggu? Aku kan juga mau senang-senang juga sama Indah." balas Alex sinis.


"Udah ah, kok malah berisik lagi sih. Kalau kalian berdua masih ribut terus kayak gini, aku tinggal pulang nih sekarang." ancam ku.


"Eh jangan lah, Ndah! Kalau kamu pulang, trus siapa dong yang nemani abang disini?" tanya bang Hendra.


"Kan ada Alex, kalian berdua aja yang nginap disini, aku pulang ke kos aja. Gimana, mau gak?" tanya ku balik.


"Ya jangan lah, Alex aja yang pulang. Biar kita berdua aja yang nginap disini." jawab bang Hendra.


"Enak aja, kau aja yang pulang sana, Hen! Biar aku sama Indah aja yang tidur disini." balas Alex tak mau kalah.

__ADS_1


Perdebatan sengit pun kembali terulang. Alex dan bang Hendra sama-sama keras kepala, dan tidak ada yang mau mengalah satu orang pun.


"Kalian mau tidur, atau ku tinggal pulang?" tanya ku lagi.


"Tidur," jawab mereka serempak.


Alex dan bang Hendra langsung masuk ke dalam selimut, dan memposisikan diri mereka masing-masing di sebelah kanan dan kiri ku. Mereka berdua memeluk ku dan meletakkan tangan nya masing-masing di atas perut ku.


"Selamat tidur, sayang. Mimpi yang indah ya!" bisik bang Hendra sembari mengecup kening ku.


"Iya, bang." balas ku.


Setelah bang Hendra selesai, kini giliran Alex yang mengucap kata-kata penghantar tidur pada ku.


"Kita bobok ya, Indah ku sayang. Jangan lupa mimpiin aku ya, Ndah." bisik Alex sambil mengecup kening, pipi, dan juga bibir ku.


"Heh, gak usah kegatalan kali kenapa sih jadi laki-laki. Kalo mau tidur itu cukup cium kening nya aja, jangan semua nya kau sosori!" omel bang Hendra sembari menoyor jidat Alex.


"Cium dikit-dikit aja kok, Hen. Lagian Indah nya aja gak marah kok, kenapa malah kau pulak yang marah, aneh." gerutu Alex.


"Ya, Indah nya memang gak marah, tapi mata ku risih lihat kelakuan mu itu." balas bang Hendra ketus.


"Yeee, bilang aja kau cemburu, ya kan?" ledek Alex.


"Kalo iya emang kenapa, hah?" tanya bang Hendra balik.


"Ya gak papa sih, aku cuma mau mastiin aja kalau kau memang cemburu melihat kedekatan ku dengan Indah." balas Alex dengan santai nya.


"Ya pasti cemburu lah, karena yang kau dekati itu wanita yang aku sayangi."


"Lagian kau pun aneh, masa suka sama punya kawan sendiri. Kayak gak ada perempuan lain aja di luaran sana." omel bang Hendra.


"Sssttt, berisik! Gimana aku mau tidur, kalau kalian ngoceh terus kayak kaleng rombeng gitu!" pekik ku.


Dengan hati yang sedikit dongkol, aku pun menoleh ke arah Alex, lalu mengecup kilat kedua pipi serta bibir nya.


Setelah itu, aku beralih pada bang Hendra. Aku juga melakukan hal sama dengan nya. Aku juga mengecup kilat pipi dan bibir nya.


"Udah dapat jatah nya masing-masing kan, sekarang kita bobok ya!" tutur ku.


"Oke, sayang." jawab mereka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2