
"Ck ck ck, aku gak habis pikir dengan ayah mu, Ndah. Bisa-bisa dia mengambil kesempatan seperti itu," ujar Ririn berdecak kesal.
Aku hanya diam, dan terus mendengarkan ocehan sahabat ku tersebut.
"Masih untung ada laki-laki yang mau menikahi wanita seperti kita ini. Kalau tidak, bakalan ngejomblo seumur hidup kita," lanjut Ririn sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Iya, bener banget," sambung ku membenarkan ucapan Ririn.
Aku dan Ririn kembali terdiam. Kami sibuk dengan lamunan dan isi kepala masing-masing. Tak lama kemudian, sang pelayan pun tiba dengan dua nampan di tangan nya.
Setelah menghidangkan makanan dan minuman itu di atas meja, ia pun pamit sembari berucap...
"Silahkan, kakak!" ujar sang pelayan dengan ramah dan sopan.
"Oke, makasih ya, mbak," jawab ku menyunggingkan senyum.
"Sama-sama, kak," balas nya lalu melangkah pergi dan melayani pelanggan lain nya.
Setelah itu, aku dan Ririn pun mulai menyantap sop iga sapi itu dengan lahap dan hening tanpa percakapan apa pun lagi. Tak butuh waktu lama, makanan kami pun ludes tak bersisa.
"Ayo, Ndah! Kita gabung sama mereka," seru Ririn lalu menunjuk ke arah teman-teman waiters lain nya, yang sedang duduk berjejer di bangku panjang.
"Oke," balas ku.
Setelah membayar tagihan makanan, aku dan Ririn pun berjalan beriringan, dan duduk bergabung dengan teman-teman lain nya.
Saat hendak menyalakan rokok, tiba-tiba aku terlonjak kaget saat melihat kehadiran Haris yang sedang berjalan menuju ke arah ku, sambil bergandengan mesra dengan wanita seksi.
"Ck, malas kali pun jumpa sama orang gila satu ini," gerutu ku dalam hati.
Aku memutar bola mata malas, dan berpura-pura tidak mengetahui kedatangan mantan pacar ku tersebut. Ririn yang sedari tadi sibuk mengotak-atik ponsel nya pun, langsung menyenggol bahu ku, ketika melihat apa yang ku lihat barusan.
"Ndah, lihat tuh! Mantan gila mu itu datang lagi kesini," bisik Ririn sambil menatap sinis ke arah Haris.
"Iya, aku udah tau. Biarin aja, kita pura-pura gak lihat aja," balas ku lalu menyalakan rokok dan berpura-pura sibuk dengan ponsel ku.
"Oke," jawab Ririn dan kembali fokus dengan benda pipih nya.
Saat Haris tiba di depan ku, ia pun langsung menyapa ku dengan senyum mengembang.
"Hai, cewek! Temani kami ke dalam yok!" sapa Haris kepada ku.
Aku tidak menggubris ucapan nya, aku tetap menunduk sambil terus mengotak-atik ponsel yang ada di tangan ku. Karena merasa di abaikan, wajah Haris pun langsung berubah masam. Ia mengalihkan pandangan nya kepada Lisa, sang kapten para waiters.
"Lisa, sini!" panggil Haris sambil melambaikan tangan nya ke arah Lisa.
__ADS_1
"Ya," jawab Lisa lalu bergegas menghampiri Haris.
Setibanya di hadapan Haris, Lisa pun melirik ke arah ku yang tampak acuh dan cuek. Setelah itu, ia pun kembali menatap Haris lalu bertanya...
"Ya, ada apa, bang?" tanya Lisa kepada Haris.
Lisa memandangi wanita seksi yang sedang bergelayut manja di bahu Haris, dengan tatapan heran.
"Kami berdua mau minum. Tapi aku mau dia yang melayani kami di dalam," ucap Haris lalu menunjuk pada ku.
Lisa tersentak seketika, saat mendengar permintaan Haris. Ia tampak semakin heran, karena ia tahu bahwa Haris itu adalah kekasih ku.
"Ndah, bukan nya dia ini pacar mu ya?" bisik Lisa ke telinga ku.
"Bukan, aku nggak kenal sama dia," jawab ku asal.
"Ah, masa sih?" tanya Lisa dengan kening mengkerut.
"Iya, beneran. Kalo gak percaya, tanya aja sama orang nya langsung," jawab ku masih dengan mode cuek-cuek bebek.
Melihat aku dan Lisa berbisik-bisik, Haris pun menautkan kedua alisnya lalu berkata...
"Heh heh heh, kok malah bisik-bisik gitu sih! Emang kalian berdua lagi ngomongin apaan?" tanya Haris penasaran.
"Kepo, mau tau aja urusan orang!" jawab ku ketus tanpa menoleh sedikit pun pada nya.
"Lis, pokoknya aku gak mau tau. Aku ingin cewek ini yang melayani kami di dalam," ujar Haris tegas.
"Ayo kita masuk, sayang!" ucap Haris kepada wanita seksi nya.
"Oke, sayang," jawab wanita itu.
Setelah itu, mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan karaoke, dan duduk di tempat yang sudah tersedia.
Melihat kepergian Haris, Lisa pun kembali menoleh pada ku.
"Ndah, gimana? Kau mau tidak melayani mereka?" tanya Lisa.
Aku menghembuskan nafas kasar, lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Oke, masuk lah! Mereka udah nungguin tuh," titah Lisa lalu kembali duduk di tempat semula.
"Ya," balas ku lemah dan segera bangkit dari bangku panjang yang sedari tadi aku duduki.
Melihat pergerakan ku, Ririn yang sejak tadi fokus dengan ponsel nya pun kembali membuka suara nya.
__ADS_1
"Kau serius mau melayani mereka di dalam, Ndah?" tanya Ririn.
"Iya, emang kenapa? Mereka berdua kan juga tamu disini, jadi kita juga wajib melayani mereka," jawab ku santai.
"Iya sih, tapi kan..."
Belum sempat Ririn melanjutkan perkataannya, aku pun langsung memotong nya dengan cepat.
"Udah, kau tenang aja. Gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok," ujar ku sembari tersenyum kecut.
"Yakin?" tanya Ririn tidak percaya.
"Yakin seyakin-yakinnya," jawab ku mantap.
Kemudian aku pun berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke, dan meninggalkan Ririn begitu saja. Sesampainya di meja Haris, aku pun bertanya pada nya, yang tampak sedang asyik bercumbu mesra dengan wanita seksi nya.
"Ekhem ekhem, permisi! Kalian mau pesan minuman apa?" tanya ku sambil berdehem.
Mendengar pertanyaan ku, Haris pun langsung menghentikan cumbuan nya dan menoleh pada ku.
"Oh, ada orang rupanya. Kirain tadi gak ada siapa-siapa," cibir Haris sembari tersenyum miring meledek ku.
Aku tidak menghiraukan perkataan nya, dan kembali bertanya kepada lelaki yang pernah singgah di hatiku tersebut.
"Mau pesan apa, bang?" tanya ku lagi.
Masih dengan senyuman miring di bibir nya, ia pun menjawab pertanyaan ku.
"Minuman hitam dua botol, sama rokok dua bungkus. Cepat ya, jangan lama-lama gerak nya! Kalau tidak, aku akan lapor pada bos mu. Biar kau di pecat dari tempat ini," perintah Haris sembari mengancam ku.
"Ya ya ya, suka-suka kau lah situ!" jawab ku dengan nada malas.
Kemudian aku pun meninggalkan meja Haris dan berjalan menuju kasir, tempat dimana Billy berada.
"Bil, pesan minuman hitam dua, rokok dua. Cepat ya, jangan lama-lama. Entar orang gila itu ngamuk-ngamuk, lagi!" pinta ku pada Billy.
"Orang gila? Siapa maksud mu?" tanya Billy bingung.
"Tuh, yang lagi duduk di pojok sama wewe gombel!" jawab ku asal, sambil menunjuk ke arah tempat duduk Haris dengan dagu ku.
Billy mengikuti arah dagu ku, lalu ia pun tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, itu kan cowok mu. Kenapa di bilang orang gila? Aneh-aneh aja nih bocah," ledek Billy sembari menoyor jidat ku.
Aku hanya tersenyum melihat kelakuan Billy, dan mengalihkan pandangan ku ke seluruh sudut ruangan. Selesai menyiapkan pesanan ku, Billy pun menepuk pelan lengan ku.
__ADS_1
"Heh, lampir! Itu pesanan mu udah siap, antar sana gih! Entar ngamuk pulak orang gila mu itu, hahahaha!" titah Billy kembali tergelak.
"Iya iya, cerewet kali sih muncung mu itu," cibir ku dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.