Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
VIP room


__ADS_3

"Kapan kau balek, Ndah? Kok gak ada kabar berita nya?" tanya Rara.


"Iya, si lampir udah pulang dari kampung, tapi gak ada ngabarin kita ya, Ra? Tau-tau, udah nyampe sini aja dia." sambung Ririn.


"Ssstttt, berisik kali pun beo yang dua ini. Yang penting kan, aku udah sampe sini. Ngapain mesti tanya-tanya lagi, sih?" jawab ku sewot.


Aku membuka satu kotak Bika Ambon, dan menyerahkan nya ke tangan Ririn. Aku menyuruh nya untuk memotong-motong Bika Ambon itu, dan memakan nya bersama teman-teman lain nya.


"Rin, ini Bika Ambon nya di potong-potong, ya! Biar semua nya kebagian mencicipi nya. Kalian makan lah rame-rame dengan mereka!" titah ku pada Ririn.


Aku menunjuk ke arah teman-teman lain nya, yang pada ngumpul di sebelah kami. Ririn pun mengangguk, menuruti perintah ku.


"Oke, Ndah." jawab Ririn.


Ririn bergegas berjalan ke dalam kantin untuk meminjam pisau. Setelah mendapatkan nya, Ririn kembali duduk di samping ku, sambil memotong-motong Bika Ambon, yang aku bawa tadi. Selesai memotong, Ririn meletakkan kotak itu di tengah-tengah meja mereka.


"Guys, kita dapat makanan nih, dari si Indah. Bika Ambon, oleh-oleh khas Medan." teriak Ririn.


"Wiiih, enak nih. Makasih ya, Ndah." pekik Tia.


"Iya," jawab ku.


Begitu juga dengan teman-teman yang lain nya. Mereka semua memakan Bika Ambon itu, dan masing-masing mengucapkan terima kasih kepada ku. Selanjutnya, aku berjalan mendekati Lisa, yang sedang asyik menikmati oleh-oleh bawaan ku itu.


"Lis, mas bos ada di dalam gak?" tanya ku.


"Ada noh di dalam. Mas bos baru aja pulang dari jalan-jalan bersama keluarga nya." jawab Lisa sambil menunjuk ke arah rumah mas bos.


"Oh, ya udah kalo gitu. Aku kesana dulu ya, Lis. Mau ngasi ini sama mas bos."


Aku mengangkat kantong plastik, yang berisikan satu kotak Bika Ambon, di hadapan Lisa. Lalu, berjalan masuk ke dalam rumah mas bos.Sampai di depan pintu, aku mengetuk nya tiga kali sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum, mas bos."


"Wa'laikum salam," sahut mas bos sambil membuka pintu.


Setelah pintu terbuka lebar, aku segera memberikan bungkusan Bika Ambon itu kepada mas bos. Dan dia pun menerima nya, sambil bertanya...


"Kapan nyampe, Ndah?"


"Kemarin sore, mas bos. Ini ada sedikit oleh-oleh dari kampung, mas bos." jawab ku.


"Oh, iya. Makasih oleh-oleh nya ya, Ndah." balas mas bos sambil tersenyum pada ku.


"Iya, sama-sama, mas bos. Kalau begitu, aku pamit dulu ya, mas bos!" jawab ku.


"Oke," balas mas bos.


Aku mulai berjalan menuju bangku panjang, dan kembali bergabung bersama Ririn dan Rara. Ririn tampak masih asyik, mengunyah Bika Ambon sambil mengotak-atik ponsel nya.


sedang Rara, dia sibuk memoles wajah nya di depan kaca kecil, yang berada di dalam kotak bedak nya. Aku duduk di tengah-tengah mereka berdua, sambil menyalakan rokok, dan pandangan yang kosong, menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Sedang asyik mengkhayal, tiba-tiba datang tamu dengan mengendarai mobil berwarna hitam. Setelah memarkirkan kendaraan nya, kedua lelaki itu pun turun dari mobil, dan berjalan mendekati ku.


Aku yang sedang fokus dengan khayalan pun, langsung tersentak kaget, karena mendapatkan tepukan di bahu ku.


"Ndah, itu!" bisik Ririn.


Ririn menepuk-nepuk bahu ku, dan menunjuk dengan memajukan bibir nya, ke arah kedua lelaki yang sudah berdiri, tepat di samping ku. Setelah tersadar, aku pun mengikuti arah bibir Ririn.


Setelah melihat para tamu itu, aku langsung terlonjak kaget, dengan mata yang terbelalak. Ririn sempat heran, melihat reaksi ku seperti itu. Dan akhirnya, dia pun kembali menepuk bahu ku.


"Kayak nya, mereka berdua minta di temani sama mu tuh, Ndah! Soalnya dari tadi, mereka lihatin kau terus." bisik Ririn.


Sedang sibuk berbisik ria dengan Ririn, tiba-tiba Lisa datang, dan menghampiri kedua tamu lelaki itu. Lalu mengajak mereka untuk masuk, ke dalam ruangan karaoke.


"Pasti bentar lagi si Lisa memanggil mu, Ndah. Buat nemani tamu tadi." ujar Ririn.


"Ck, malas lah kalo nemani tamu yang itu!" balas ku.


"Emang nya tamu itu kenapa, Ndah? Resek ya, pelit ya?" selidik Ririn.


"Iiihhhh, berisik banget sih, kaleng rombeng satu ini!" umpat ku kesal.


Aku mengumpat kesal pada Ririn, yang sedari tadi sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan aneh nya. Aku menghela nafas sejenak, lalu kembali bersuara kepada Ririn.


"Bukan resek atau pun pelit, Rin. Tapi, malas aja rasa nya nemani mereka berdua." bohong ku.


"Kok bisa malas? Alasan nya apa?" tanya Ririn lagi.


"Alasan nya..."


"Ndah, tamu itu meminta mu untuk menemani mereka, di VIP room lantai empat!"


Lisa berucap dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan, akibat turun dengan tergesa-gesa, dari lantai empat tersebut. Lutut ku langsung lemas seketika, setelah mendengar perintah Lisa. Yang aku takutkan, akhir nya terjadi juga.


"Hhmmmm, kalo di temani sama yang lain, kira-kira mereka mau gak, Lis?" tanya ku ragu.


"Gak mau kata nya, Ndah. Mereka mau nya, cuma sama mu aja, gak mau sama cewek lain!" jawab Lisa.


"Hmmm, gimana ya, Lis? Aku...aku..."


Aku bingung harus bagaimana lagi. Kalau aku tolak, pasti aku kena marah sama mas bos. Tapi kalau aku terima, aku masih trauma dengan tamu itu.


"Hah, kayak buah simalakama jadi nya, posisi ku sekarang." batin ku.


Aku menghela nafas, sambil merenung. Melihat aku yang sedang melamun, Lisa pun langsung menggandeng tangan ku, dan membawa ku menapaki anak tangga, menuju ke lantai empat.


Dengan langkah gontai, aku pun menurut dan mengikuti langkah Lisa. Sesampainya di depan pintu VIP room, Lisa mengetuk pintu terlebih dahulu. Kemudian, Lisa masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu, sambil terus menggandeng tangan ku.


"Ini si Indah, bang! Dia yang akan menemani, abang disini! Dia cewek yang abang minta tadi." ujar Lisa.


Lisa mendudukkan tubuh ku, di tengah-tengah kedua lelaki itu. Setelah itu, Lisa pun pamit undur diri dari hadapan kami bertiga.


"Kalo butuh apa-apa, minta sama Indah aja ya, bang! Saya permisi dulu." sambung Lisa lagi.

__ADS_1


"Oke, makasih ya, dek!" jawab lelaki yang ada di samping ku.


"Sama-sama, bang."


Lisa menjawab, sambil mengacungkan jempol nya kepada kami bertiga, dan berjalan menuju pintu lalu menutup nya. Setelah kepergian Lisa, lelaki yang ada di samping kiri ku itu pun, langsung mengunci pintu itu rapat-rapat.


Setelah itu, dia kembali duduk di samping ku sambil mengulurkan tangan nya pada ku. Dengan perasaan dag-dig-dug tidak karuan, aku pun menyambut uluran tangan nya.


"Apa kabar, Ndah? Udah lama kita gak ketemu, abang kangen banget sama mu, Ndah." ucap bang Hendra.


Ya, tamu lelaki itu adalah bang Hendra. Orang yang pernah memasukkan obat perangsang di minuman ku, sewaktu berada di dalam diskotik.


"Alhamdulillah, aku sehat-sehat aja, bang." jawab ku.


Bang Hendra langsung tersenyum, mendengar jawaban ku. Dan dia juga memperkenalkan teman nya kepada ku.


"Oh iya, Ndah. Kenalkan dia teman abang, nama nya Alex!" ujar bang Hendra.


Lelaki yang bernama Alex itu pun langsung mengulur kan tangan nya pada ku. Dan aku pun menyambut uluran tangan nya, sama seperti bang Hendra tadi.


"Ayo kita bersulang, Ndah!"


Bang Hendra berucap, sembari mengangkat gelas nya ke depan ku. Begitu juga dengan bang Alex, dia mengangkat gelas nya ke hadapan ku.


Dan dengan terpaksa, akhir nya aku pun menurut. Aku mengangkat gelas dan, "Cheers" kami bertiga pun meminum minuman beralkohol itu, sampai habis satu gelas kecil.


Melihat gelas sudah pada kosong di atas meja, aku pun segera mengambil botol minuman itu, dan mulai menuangkan nya kembali ke dalam gelas. Setelah itu, aku menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.


Dengan perasaan yang sedikit was-was, aku menatap layar tv besar di depan ku dengan pandangan kosong. Suara dentuman musik di ruangan tertutup itu pun, sangat memekakkan telinga bagi ku.


Bang Hendra sengaja mengeraskan volume musik itu, agar semakin asyik dan santai, kata nya. Berhubung ruangan VIP room itu kedap suara, jadi sekuat apa pun suara yang ada di dalam nya, tidak akan kedengaran sampai keluar.


Di tengah dentuman musik itu, bang Hendra terus saja mengajak ku untuk meminum minuman itu. Sampai-sampai, aku merasa sangat pusing dan mulai sempoyongan, akibat terlalu banyak mengkonsumsi minuman tersebut.


Dalam keadaan yang setengah sadar dan mabuk berat, aku membaringkan tubuh ku di atas sofa yang berukuran panjang. Yang berada tepat di samping tv besar.


"Kamu kenapa, Ndah?" tanya bang Hendra.


Bang Hendra duduk di samping ku, sambil mengarahkan jari tangan nya ke wajah ku. Kemudian, dia membelai wajah ku dengan lembut, sambil berbisik...


"Kamu kenapa, sayang?"


Bang Hendra mencium dan menggigit kecil telinga ku. Dia juga mengendus aroma leher ku. Dan itu berhasil membuat ku menggeliat, karena kegelian.


Dengan tatapan mata yang sayu, aku memandang wajah bang Hendra dengan nafas yang memburu.


"Bang Haris, aku pengen!" rengek ku manja.


Ya, dalam keadaan mabuk berat, dan suasana yang minim pencahayaan seperti itu. Aku sama sekali tidak dapat melihat, dan mengenali seseorang dengan jelas.


Dalam pandangan ku saat ini, lelaki yang ada di hadapan ku itu adalah Haris, lelaki yang paling aku cintai. Dengan keadaan ku yang seperti itu, bang Hendra pun memanfaatkan ketidak sadaran ku itu.


Dia langsung tersenyum, setelah mendengar rengekan manja, yang aku ucapkan tadi. Kemudian, Bang Hendra pun kembali berbisik di telinga ku.

__ADS_1


"Oke, sayang. Abang akan menuruti keinginan mu itu. Abang akan melayani mu, sampai kau merasa puas dan nikmat, sayang." bisik bang Hendra.


__ADS_2