Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Hufff, Syukurlah


__ADS_3

"BANG RIAN, BANGUN, BANG! Hiks hiks hiks... Jangan tinggalkan aku sendirian, bang!" pekik ku kuat.


Aku menangis sejadi-jadinya, saat melihat darah segar yang menetes dari perut bang Rian. Aku langsung memeluk erat tubuh bang Rian, dan menempelkan telapak tangan ku di perut nya, agar darah nya tidak mengalir lebih banyak lagi.


"Bang, bangun bang! Jangan tinggalkan aku, bang. Hiks hiks hiks..."


Haris menatap sendu kepada ku. Raut wajah nya tampak sedih, ketika melihat keadaan ku yang sangat kacau, dan menangisi lelaki yang sudah di celakai nya.


Setelah beberapa saat terdiam sambil memperhatikan ku, Haris pun akhirnya menarik paksa tangan ku kembali.


"Ayo, ikut aku! Untuk apa juga kau tangisi laki-laki gak berguna kayak dia. Buang-buang energi aja." omel Haris sambil terus menarik tangan ku menuju pintu keluar.


"Lepaskan aku, bajingan! Aku gak mau ikut dengan mu. Aku mau tetap disini menemani bang Rian." pekik ku.


Dengan linangan air mata yang membasahi kedua pipi, aku meronta-ronta dan berusaha melepaskan tangan ku dari cengkraman kuat Haris. Tapi ternyata, usaha ku itu hanya sia-sia. Tenaga ku kalah jauh di banding kan tenaga Haris.


"Udah dong, sayang. Jangan berontak terus, nurut aja kenapa sih?" ujar Haris dengan senyum menyeringai di bibir nya.


"Enggak, aku gak akan nurut dengan laki-laki luknut seperti mu. GAK AKAN PERNAH." pekik ku lagi.


Karena sudah tidak sabar dengan sikap egois ku, akhirnya Haris pun melayang telapak tangan nya dan...


Plak plak plak...


Tiga tamparan keras pun mendarat indah di pipi mulus ku. Haris tampak sangat geram dan emosi, saat melihat sikap ku yang terus saja melawan pada nya.


"Ayo, cepat! Kita harus pergi dari sini, sebelum ada orang yang mengetahui kejadian ini." ujar Haris lalu kembali menyeret ku dengan kasar dan mendekap ku.


"Gak, aku gak mau. Lepasin, aku mau sama bang Rian aja. Bang Rian, tolong aku, hiks hiks hiks..." rengek ku kembali terisak.


Tangis ku kembali pecah, saat melihat bang Rian yang sedang tergeletak tak berdaya di lantai. Darah segar terus saja keluar dari perut nya, dan mulai mengalir di lantai keramik hotel tersebut.


Aku kembali meronta-ronta dan berusaha sekuat tenaga, untuk melepaskan diri dari dekapan erat Haris. Aku menggigit kuat lengan Haris yang sedang melingkar di dada ku.


Dan itu berhasil membuat Haris menjerit kesakitan, lalu mendorong tubuh ku dengan kasar, hingga membuat ku kembali terjatuh dan tersungkur ke lantai.


"Aaaaaaa, sakiiiiit!" pekik Haris sembari meringis kesakitan.


"Kurang ajar, berani-beraninya kau mengigit tangan ku. Dasar perempuan bodoh, perempuan murahan! Awas kau ya, akan ku balas perbuatan mu ini." umpat Haris dengan emosi yang meledak-ledak.


Mendapat perlawanan dari ku, Haris pun semakin tersulut emosi dan mengumpat ku dengan kata-kata yang sangat menyayat hati.

__ADS_1


Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapan kasar Haris. Aku segera bangkit dari lantai, dan mendekati tubuh lemah bang Rian, lalu kembali memeluk nya.


"Bang Rian, bangun sayang. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini. Aku mohon, tolong buka mata mu, bang! Hiks hiks hiks..." rengek ku dengan air mata yang semakin mengucur deras di pipi ku.


Haris yang sudah sangat geram dan kecewa dengan perbuatan ku pun, kembali datang mendekati ku dengan pisau yang masih di ada genggaman nya.


Haris berjongkok di sebelah ku, lalu menarik kuat rambut ku, hingga membuat ku mendongak ke atas menatap langit-langit kamar.


Mendapat perlakuan kasar dari mantan kekasih ku itu, aku pun hanya meringis sambil terus menahan sakit di kepala ku, akibat tarikan kuat nya tersebut.


"Kau ingin menemani laki-laki ini kan, sayang? Oke, aku akan turuti keinginan mu itu." bisik Haris lalu tersenyum sinis pada ku.


"A-apa maksud mu?" tanya ku tergagap dengan mata terbelalak lebar.


Melihat ketakutan di raut wajah ku, Haris pun semakin menjadi-jadi dengan perbuatan nya. Dia semakin menarik rambut ku, dan menyeret ku seperti layak nya seekor binatang.


Setelah sampai di depan pintu kamar mandi, Haris menghempaskan tubuh ku dengan kuat, hingga membuat ku terjengkang dan kepala ku nyaris membentur tembok.


Dengan gerakkan lemas, aku berusaha untuk bangkit dan duduk bersandar di tembok kamar mandi tersebut. Aku kembali meringis menahan sakit di sekujur badan ku, akibat aksi brutal Haris.


Dengan senyum menyeringai, Haris pun mulai melangkah mendekati ku. Dia mengayun-ayunkan pisau yang sedari tadi masih setia menempel, di genggaman tangan nya.


Belum sempat aku meneruskan kata-kata ku, tiba-tiba Haris memotong nya dengan cepat.


"Akan apa, hah? Akan menghajar ku? Atau akan melaporkan ku ke polisi?" tanya Haris dengan mendelik.


"Ya, aku pasti akan melaporkan mu ke polisi. Biar kau membusuk di dalam penjara." ancam ku dengan wajah serius.


Bukan nya takut, Haris malah semakin mentertawai ku. Dia tampak sangat bahagia, ketika melihat ketidakberdayaan ku saat ini.


"Hahaha, Indah...Indah... Nyawa udah di ujung tanduk pun, masih sempat-sempatnya mengancam ku. Apa kau tidak takut dengan pisau tajam ku ini, hah?" ancam Haris.


Haris berjongkok di depan ku, lalu menempelkan pisau nya di pipi kanan ku. Setelah itu dia menggores sedikit pipi ku, dan akhirnya darah segar pun menetes di lantai keramik kamar mandi.


"Auw, sakiiit. Hiks hiks hiks..." jerit ku.


Aku kembali menangis, dan memegangi pipi yang terluka, akibat sayatan pisau tajam Haris.


"Ampun, bang! Tolong jangan siksa aku seperti ini. Jika kau ingin melenyapkan ku, silahkan! Aku iklhas, aku... aku..."


Aku sudah tidak sanggup, untuk berkata-kata lagi. Rasa sakit dan perih yang saat ini aku rasa kan, sungguh sangat menyiksa hati dan jiwa ku.

__ADS_1


Mendengar kata-kata yang cukup menyayat hati dari mulut ku, Haris yang tadi nya berwajah garang dan beringas, kini mulai melunak. Raut wajah nya langsung berubah, dan kembali seperti Haris yang aku kenal dulu.


Dia mengulurkan tangan nya untuk menghapus air mata ku, yang sedari tadi mengalir tiada henti-hentinya. Haris memandangi ku dengan tatapan sendu, dan mata yang mulai berembun.


"Kenapa kau tega mengkhianati ku, Ndah? Apa salah ku pada mu? Apa kurang nya diri ini pada mu?" tanya Haris.


"Aku cuma minta kau jaga kepercayaan ku, tapi kau malah menghancurkan semua nya. Kau jahat, kau kejam, Ndah. Kau hancur kan harapan dan impian ku selama ini." tutur Haris lalu menunduk kan kepala nya.


Melihat keadaan Haris yang sedang meratapi nasib nya, aku pun mengambil kesempatan untuk kembali melawan nya. Aku menendang perut nya dengan sekuat tenaga, hingga membuat nya sedikit terpental ke belakang.


Haris terduduk di sudut pintu kamar mandi, sambil meringis memegangi perut nya. Melihat ada kesempatan, aku pun berusaha bangkit dan mengambil pisau yang ada di tangan nya.


Tapi lagi-lagi, usaha ku itu berakhir dengan kegagalan. Tenaga ku tetap kalah dengan kekuatan Haris. Dan akhirnya, aku pun kembali tersungkur akibat dorongan kuat dari kaki Haris.


Ya, Haris membalas tendangan ku tadi. Dia menendang ku dengan kuat, lalu mencengkram erat leher ku. Hingga membuat ku sesak dan susah untuk bernafas.


"Nyawa mu ada di tangan ku sekarang. Jadi bersiap-siap lah, untuk menyusul lelaki tercinta mu itu ke neraka, hahahaha." oceh Haris dengan tawa menggelegar.


Haris semakin mempererat cengkraman tangan nya di leher ku, lalu mengarahkan ujung pisau nya ke perut ku, dan...


"Aaaaaaa, tidaaak!" pekik ku dengan suara melengking.


"Ndah, bangun Ndah! Indah, bangun sayang. Kamu mimpi apa sih? Kok sampe nangis-nangis kejer gitu?" tanya bang Rian sembari menepuk-nepuk pelan pipi ku.


Setelah beberapa kali tepukan, akhirnya aku pun membuka mata dan mulai tersadar dari mimpi buruk tersebut.


Aku langsung beristighfar sampai berulang-ulang, lalu kembali menangis sambil memeluk tubuh bang Rian. Aku meluapkan kegembiraan ku, di dalam pelukan bang Rian.


"Hufff, syukur lah cuma mimpi." gumam ku lega.


Melihat keadaan ku yang sangat kacau, bang Rian pun mulai melepas pelukan ku, lalu memandangi wajah sembab ku dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kamu tadi mimpi apa, sayang? Kok sampe nangis gitu? Ayo, cerita sama abang! Biar hati mu bisa tenang, tidak ketakutan seperti ini lagi." ujar bang Rian sembari menghapus air mata ku dengan jari tangan nya.


Aku menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara perlahan sampai berulang kali. Setelah merasa sedikit tenang, aku pun mulai menceritakan mimpi yang sangat mengerikan itu kepada bang Rian.


"Tadi aku mimpiin Haris lagi, bang." ujar ku lirih.


"Loh, kok bisa? Emang tadi mimpi apaan sih, kok dirimu sampe teriak-teriak gitu?" tanya bang Rian penasaran.


"Haris...Haris ingin melenyapkan kita berdua, bang. Hiks hiks hiks..." jawab ku lalu kembali terisak.

__ADS_1


__ADS_2