Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kedatangan Haris


__ADS_3

Selesai bercanda ria plus otot-ototan dengan bang Rian, kami berdua pun saling berdiam diri satu sama lain. Setelah beberapa saat suasana hening, bang Rian pun kembali membuka suara nya.


"Dari pada kita bengong-bengong kayak gini, mendingan kita cari keringat lagi yok, Ndah!" usul bang Rian.


"Cari keringat dimana, bang?" tanya ku pura-pura tidak tahu.


"Ya udah pasti di atas ranjang ini lah, sayang. Emang nya mau cari keringat dimana lagi, hah?" tanya bang Rian.


"Siapa tau aja mau nyari keringat di luar, hehehe." jawab ku cengar-cengir.


"Ah, kamu ini ada-ada aja. Di ajak ngomong serius kok malah bercanda terus kerjaan nya." balas bang Rian sembari tersenyum manis pada ku.


"Ya kan siapa tau aja sih, bang." lanjut ku.


"Ngapain juga kita mesti capek-capek nyari keringat di luar? Mending kita bersenang-senang aja di atas ranjang yang empuk ini." balas bang Rian lagi.


Tanpa meminta persetujuan dari ku, bang Rian pun mulai melancarkan aksinya. Dia kembali mencumbui seluruh tubuh ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Sayang, apakah kamu menikmati setiap sentuhan yang abang lakukan pada mu?" tanya bang Rian setelah selesai mencumbui ku.


"Iya, aku sangat menikmati nya, bang. Ayo lakukan lagi, bang! Aku masih ingin merasakan sensasi dari sentuhan tangan nakal mu itu!" rengek ku manja.


"Baik lah, sayang ku. Abang akan memenuhi keinginan mu itu." balas bang Rian dengan senyum menyeringai nya.


Setelah mendengar rengekan manja yang keluar dari bibir ku, bang Rian pun kembali mencumbui ku dengan mesra.


Dan itu berhasil membuat ku lepas kendali tidak karuan. Hingga tanpa sadar, suara-suara indah pun mulai keluar dari bibir tipis ku.


Setelah puas melakukan pemanasan dengan tubuh ku, bang Rian pun meminta izin kepada ku untuk memulai kegiatan nya.


"Kita lakukan sekarang ya, sayang!"


Bisik bang Rian dengan suara serak, akibat di selimuti oleh gairah nya yang sudah mulai naik sampai ke ubun-ubun.


"Iya, bang. Cepat lakukan lah, aku juga sudah tidak sabar ingin segera menikmati permainan liar mu itu." desak ku sembari tersenyum manis kepada lelaki gagah yang ada di hadapanku saat ini.


Setelah mendapat kan jawaban ku, bang Rian pun langsung memasukkan tombak kenikmatan nya, dan mulai melakukan gerakan maju mundur nya di atas tubuh ku.


Raut wajah bang Rian tampak sangat bahagia dan berseri-seri, saat sedang menikmati keindahan tubuh ku itu.

__ADS_1


Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku semakin mengeraskan suara ku dan menggeliat-geliat tidak karuan, karena saking nikmatnya bercinta dengan bang Rian.


"Udah capek belum, sayang?" tanya bang Rian sambil terus melakukan gerakan nya.


"Belum, teruskan aja, bang! Aku masih belum puas merasakan tombak kenikmatan mu ini, sayang." jawab ku dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Oke, Indah ku sayang. Abang akan terus melayani hasrat mu ini, sampai kau benar-benar mendapatkan kepuasan dari abang." balas bang Rian.


"Makasih ya, bang. Udah mau menuruti keinginan ku ini." ujar ku.


"Iya sama-sama, sayang ku." jawab bang Rian sembari menciumi bibir ku dengan rakus.


Setelah merasa lelah, bang Rian pun menyelesaikan kegiatan nya dan menjatuhkan tubuh nya di sebelah ku. Nafas nya masih tampak begitu sesak dengan keringat yang membasahi seluruh badan nya.


"Hadehh, kalau kayak gini terus, lama-lama kita gak bisa jalan lagi nih, Ndah." ujar bang Rian.


"Lah, emang nya kenapa kok bisa gitu?" tanya ku bingung


Aku menoleh kepada bang Rian dengan kening yang mengkerut.


"Ya karena kelelahan akibat permainan ranjang kita ini lah, sayang." jawab bang Rian sembari mencubit pelan hidung ku.


"Ooohhh, kirain karena apa tadi." balas ku santai.


"Emang nya kamu gak merasa capek ya, kalau abang mengajak mu untuk terus melakukan kegiatan itu?" tanya bang Rian heran.


"Ya gak lah, bang. Kan abang yang lebih banyak megang kendali nya. Kalau aku kan lebih banyak menerima dari pada berpacu nya." jawab ku.


"Iya, bener juga sih." balas bang Rian sambil manggut-manggut.


"Kita mandi yok, sayang! Habis tu kita langsung tidur. Abang udah ngantuk banget nih." ajak bang Rian.


"Oke, bang!" balas ku.


Aku mulai beranjak dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, yang di ikuti oleh bang Rian dari belakang.


Selesai mandi, aku dan bang Rian merebahkan diri di atas ranjang dan masuk ke dalam selimut.


Setelah itu, kami berdua pun mulai memejamkan mata masing-masing dan tertidur pulas.

__ADS_1


Aku dan bang Rian terlelap dengan posisi yang saling berpelukan, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Baru saja beberapa menit tertidur, tiba-tiba...


Tok tok tok...Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar sangat jelas di telinga ku. Dengan keadaan setengah sadar karena masih mengantuk, aku pun mengambil handuk yang tergantung di dalam kamar mandi.


Setelah melilitkan handuk itu ke tubuh ku, aku pun kembali melangkah untuk membuka kan pintu. Dan saat pintu terbuka lebar, mata ku langsung terbelalak saat melihat seorang lelaki yang ada di hadapan ku saat ini.


"Berarti benar dugaan ku selama ini, kalau kau sudah mengkhianati kepercayaan ku."


Sindir Haris sembari tersenyum miring. Dia juga memandangi tubuh ku dari atas sampai bawah dengan tatapan sinis nya.


Melihat kedatangan Haris, aku pun langsung terpaku di tempat dengan wajah pucat dan berkeringat dingin yang membasahi dahi ku.


"A-apa maksud mu, bang? A-ada perlu apa kau kesini?" tanya ku gugup dan mulai gelisah tak menentu.


"Seharusnya aku yang bertanya kepada mu. Apa yang kau lakukan disini? Dengan siapa kau menginap di kamar hotel ini, HAH?" tanya Haris lantang.


"A-aku lagi sama..."


Saat hendak menjawab pertanyaan Haris, tiba-tiba bang Rian datang dan memeluk ku dari belakang. Dia menempelkan dagu nya di pundak ku sembari berbisik...


"Ada apa, sayang? Siapa laki-laki ini?" tanya bang Rian sambil menciumi leher ku.


Aku langsung terlonjak kaget karena mendapat kan perlakuan yang secara tiba-tiba seperti itu dari bang Rian. Dan yang lebih parah nya lagi, bang Rian melakukan nya tepat di depan mata Haris.


"Aduh, mati aku!" gerutu ku.


Aku terus saja menatap wajah Haris yang sudah mulai tampak memerah akibat menahan emosi dan amarah nya.


"Kok malah diem, sayang. Siapa sebenarnya lelaki ini? Apakah kamu mengenal nya?" tanya bang Rian.


Aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan bang Rian. Setelah melihat anggukan kepala ku, bang Rian pun kembali melontarkan pertanyaan nya.


"Trus mau apa dia kesini, sayang? Apakah kalian berdua ada hubungan spesial?" tanya bang Rian lagi sembari mengeratkan pelukannya pada ku.


"Di-dia..."


Belum sempat aku menjawab pertanyaan bang Rian, tiba-tiba Haris pun kembali membuka suara nya.

__ADS_1


"Saya adalah kekasih Indah, dan kami sudah berhubungan selama satu tahun." jelas Haris sambil melipat kedua tangan nya di atas perut.


"APA?" pekik bang Rian dengan suara menggelegar.


__ADS_2