Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Menolak Keinginan Andre


__ADS_3

Dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan, Andre terus saja meyakinkan ku dan juga bang Rian, tentang apa yang baru saja di alami nya. Dia tampak serius dengan ucapan nya tersebut.


Melihat ketakutan Andre, aku dan bang Rian pun saling pandang-pandangan satu sama lain. Kami berdua seolah-olah sedang berbicara lewat tatapan mata.


Setelah beberapa saat hening, bang Rian pun menyuruh Andre untuk menutup pintu kembali, dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Udah, gak usah panik gitu. Cepat tutup pintu nya!" titah bang Rian.


Tanpa menjawab apa pun, Andre langsung melaksanakan perintah atasan nya tersebut. Setelah itu, dia pun duduk bersila di samping bang Rian.


Wajah Andre terlihat sedikit pucat, dan keringat dingin yang masih bermunculan di kening nya. Aku yang memang ada jiwa penakut pun jadi ikut-ikutan gelisah, dan berpindah posisi duduk di sebelah bang Rian.


Bang Rian yang mengerti akan ketakutan ku pun, langsung merangkul pundak ku dan membawa ku ke dalam dekapan nya. Setelah itu, bang Rian mengalihkan pandangan nya kepada Andre.


"Coba ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi dengan mu tadi, Ndre?" titah bang Rian.


Sebelum memulai cerita nya, Andre terlebih dahulu menarik nafas hingga berulang-ulang, lalu menghembuskan nya secara perlahan.


Setelah merasa agak tenang, Andre pun mulai bercerita tentang kejadian yang di alami nya, sewaktu membeli makanan di luar tadi.


"Tadi pas masuk ke dalam gerbang, bulu kuduk ku langsung merinding. Trus tiba-tiba, ada bayangan hitam yang terus mengikuti ku sampai kesini. Hiiiiii, serem banget lah pokok nya." jelas Andre sembari bergidik ngeri.


Aku dan bang Rian fokus mendengar kan penjelasan Andre, dengan mimik wajah serius. Sesudah menjelaskan, Andre pun kembali terdiam dan melamun seketika.


"Udah, gak usah di pikirin! Mungkin cuma perasaan mu aja itu. Ayo lah kita makan, perut ku udah lapar nih!" seru bang Rian.


"Mungkin juga sih."


Balas Andre sembari manggut-manggut, lalu mengambil jatah minuman nya dan meneguk nya hingga habis setengah cup. Aku yang melihat tingkah Andre pun langsung melongo, dengan mata terbelalak lebar.


"Haus ya, Ndre?" ledek ku lalu tersenyum miring.


"Iya, haus pake banget, hehehe." jawab Andre nyengir kuda.


"Itu nama nya bukan haus kamvret, tapi doyan." cibir bang Rian.


"Hahahaha, iya ya. Bener juga apa yang abang bilang itu." gelak ku membenarkan ucapan bang Rian.


"Yeeee, mana pulak doyan. Orang memang haus beneran kok." balas Andre sewot.


"Heh, dodol. Kau dengar baik-baik ya, sehaus-haus nya orang, gak mungkin bisa menghabiskan jus dingin sampe setengah cup gitu, paham!" oceh bang Rian ketus.


"Iya iya, aku paham kok. Ngalah aja lah, dari pada kena hukum lagi nanti." gerutu Andre.

__ADS_1


"Naaah, tu tau, hahaha." gelak bang Rian.


Bang Rian terus saja mentertawai Andre, tanpa memperdulikan lawan bicara nya yang sudah memasang wajah masam di sebelah nya.


"Senang kali mempermalukan orang di depan umum." gerutu Andre pelan.


"Udah udah, asik nak berantem aja kerjaan nya. Bosan tau gak denger nya." oceh ku menengahi perdebatan mereka berdua.


"Andre tu, Ndah. Bising terus mulut nya, udah kayak kaleng rombeng aja." cibir bang Rian.


Mendengar ucapan bang Rian, aku pun reflek menoleh pada nya. Lalu memandangi wajah nya dengan tatapan sinis.


"Bukan cuma Andre aja, tapi abang juga. Mulut abang juga gak bisa diem dari tadi, udah kayak beo aja." oceh ku lagi.


"Hahahaha, kapok! Akhirnya singa galak kena juga omel sama pawang nya." gelak Andre.


Tawa Andre langsung pecah seketika, setelah mendengar ocehan ku pada bang Rian. Sedang asyik mentertawai bos nya, tiba-tiba Andre langsung terdiam, saat melihat biji mata bang Rian yang sudah sebesar jengkol menatap tajam pada nya.


"Eh maaf, bos. Aku kebablasan, hehehe." ujar Andre salah tingkah.


Bang Rian tidak menjawab ucapan Andre. Dia masih saja menatap bawahan nya tersebut dengan wajah horor nya. Melihat suasana yang mulai tidak bersahabat, aku pun kembali membuka suara.


"Ya udah, kalian lanjutin aja berantem nya ya, aku mau makan dulu." ujar ku santai.


"Lololoh, kok makan sendiri gitu sih, Ndah? Kami gak di tawarin nih?" oceh bang Rian.


"Iya bener, masa kami gak di ajak makan sih, tega banget." sambung Andre menimpali ucapan bang Rian.


"Ooohh, kalian lapar juga rupanya. Kirain udah kenyang tadi, hihihi." balas ku cekikikan.


Bang Rian dan Andre hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya, saat melihat tingkah aneh ku.


Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka berdua mengambil semua bungkusan itu, lalu mulai membuka nya satu persatu. Bang Rian memakan ketoprak, sedangkan Andre memakan mie ayam.


Aku hanya tersenyum melihat kekompakan mereka, yang tampak sedang asyik menyantap makanan nya masing-masing. Selesai makan, kami bertiga duduk selonjoran di lantai, dengan punggung yang menyandar di dinding.


"Siap ini, kita balek ke hotel aja ya, bang!" tutur ku membuka percakapan.


Aku mengambil rokok dan korek yang ada di depan bang Rian, kemudian menyalakan nya. Begitu juga dengan Andre dan bang Rian, mereka juga ikut menyalakan rokok nya masing-masing.


"Oke, sayang." balas bang Rian.


"Lah, trus aku gimana?" tanya Andre dengan wajah bingung nya.

__ADS_1


"Ya kau pulang lah, masa mau ngikutin kami sih, aneh." oceh bang Rian ketus.


"Iiiisss, tega kali sih. Masa aku di suruh pulang gitu aja, gak asik banget." gerutu Andre.


"Lah, trus kau mau ngapain lagi, kalau bukan pulang ke kos mu?" tanya bang Rian bingung.


"Ya siapa tau aja, si bos mau ngajak aku juga nginap di hotel, hehehe." jawab Andre sembari nyengir kuda.


Bang Rian langsung membelalakkan mata nya, setelah mendengar penuturan Andre. Dia tidak habis pikir, dengan permintaan aneh bawahan nya tersebut.


"Gila, siapa juga yang mau ngajak kau nginap di sana. Ogah banget, yang ada kau malah jadi pengganggu kesenangan kami nanti nya." oceh bang Rian.


"Tenang aja, aku gak bakalan ganggu kok, bos. Aku janji, aku gak akan macam-macam di sana." ujar Andre dengan wajah memelas.


"Gak boleh, enak aja mau gabung sama kami. Udah gak waras kau ya?" omel bang Rian ketus.


"Ya, kali aja bos ngizinin, hehehe." balas Andre cengar-cengir salah tingkah.


Bang Rian tidak lagi menghiraukan ocehan Andre, dia malah mengalihkan pandangan nya pada ku, lalu berkata...


"Udah siap beberes nya, sayang?" tanya bang Rian.


"Udah, emang kenapa?" tanya ku balik.


"Kita balek sekarang, yok! Abang udah ngantuk nih, hoamm." rengek bang Rian sembari menguap.


Bang Rian merengek dan bergelayut manja di lengan ku. Dia berpura-pura mengantuk, agar bisa cepat-cepat kembali ke hotel. Andre memutar bola mata malas, saat melihat tingkah nyeleneh bos nya tersebut.


"Bayi kolot mu udah haus tuh, Ndah. Minta mimik cucu dia tuh." ledek Andre sembari memiringkan bibir nya.


"Mimik cucu?" tanya ku bingung.


"Iya, minum susu maksud nya. Susu cap nona, hahaha." gelak Andre.


Mendengar ledekan Andre, aku pun ikut tertawa di buat nya. Sedangkan bang Rian, dia sama sekali tidak perduli dengan kata-kata Andre. Dia masih saja bergelayut manja di lengan ku, sambil sesekali mencium pipi dan juga leher ku.


"Tuh lihat, Ndah! Anak mu udah gak tahan lagi tuh, pengen cepat-cepat mimik cucu, hahaha." lanjut Andre.


"Aaagghhh, berisik kau, Ndre! Pulang sana, kami mau balek ke hotel nih!" omel bang Rian.


Bang Rian mengusir Andre, tanpa menoleh sedikit pun pada nya. Tanpa rasa malu atau pun canggung, bang Rian masih saja menempelkan wajah nya di ceruk leher ku.


Dia tidak memperdulikan tatapan mata Andre, yang sedari tadi memperhatikan tingkah manja nya pada ku.

__ADS_1


"Udah, gak usah pada berisik. Ayo kita balek ke hotel! Aku juga udah mulai ngantuk nih, hoamm." ujar ku.


__ADS_2