Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Berbagi sesama teman


__ADS_3

"Iya, bang. Aku sudah punya pacar." jawab ku.


"Oh, maaf ya, Ndah. Abang bener-bener gak tau, kalau dirimu sudah ada yang punya. Abang pikir dirimu masih single." balas bang Heru.


"Gak papa, bang. Santai aja, hehehe." jawab ku.


Aku menuangkan minuman ke dalam gelas bang Heru, lalu memberikan gelas itu ke tangan nya.


"Silahkan di cicipi minuman nya, bang!" canda ku sembari tersenyum pada bang Heru.


"Hahaha, kayak makanan aja, pake di cicipi segala." gelak bang Heru.


"Aku minta rokok nya ya, bang." ujar ku.


iya, ambil aja, Ndah! Gak usah sungkan-sungkan." balas bang Heru.


Setelah mendapatkan persetujuan dari bang Heru, aku merentang tangan ke atas meja untuk mengambil rokok dan menyalakan nya. Setelah itu, aku meletakkan rokok itu kembali ke tempat semula.


"Sayang banget ya, Ndah. Padahal sejak pertama kita jumpa, abang udah pengen banget mengajak mu nginap di hotel." jelas bang Heru.


Aku menoleh pada bang Heru, yang sedang memandangi ku dengan penuh rasa kecewa.


"Pantesan aja waktu abang ajak hari tu, dirimu langsung menolak nya. Ternyata dirimu sudah punya pacar." lanjut bang Heru.


"Iya, bang. Maaf ya, aku gak bisa memenuhi permintaan abang." balas ku lirih.


"Ya, gak papa kok, Ndah. Abang udah maklum." ujar bang Heru.


"Ayo, kita minum lagi, bang!" ajak ku.


Aku mengangkat gelas, dan meminum minuman itu sampai tandas. Begitu juga dengan bang Heru, dia meminum minuman nya sampai habis tak bersisa.


Waktu terus bergulir, tanpa terasa minuman yang ada di atas meja kami pun sudah habis. Bang Heru menyuruh ku untuk mengambil tagihan minuman nya di meja kasir.


"Minta tagihan nya sana, Ndah! Abang mau pulang." perintah bang Heru.


"Oke, tunggu bentar ya, bang!" balas ku.


Aku segera beranjak dari tempat duduk, dan melangkah menuju meja kasir.


"Bil, tolong hitung tagihan meja kami sekarang!" ujar ku pada Billy sang kasir.


"Oke, Ndah." balas Billy.


Sambil menunggu Billy menghitung, aku duduk di kursi bartender, lalu meletakkan kepala ku di meja yang berada di depan Billy.


"Kau kenapa, Ndah? Mabok ya, atau lagi sakit?" tanya Billy tanpa menoleh pada ku.


Mendengar pertanyaan Billy, aku reflek mengangkat kepala, dan menatap Billy yang masih tampak sibuk dengan mesin penghitung nya.


"Kepala ku pusing, Bil. Mungkin, karena kebanyakan minum tadi dengan mereka." balas ku.


"Oh, kirain lagi sakit." ujar Billy.

__ADS_1


"Gak kok." balas ku lagi.


Setelah selesai menghitung, Billy langsung menyerahkan kertas tagihan itu ke tangan ku.


"Ini tagihan nya, Ndah!" ujar Billy.


"Oke, Bil." balas ku.


Aku kembali melangkah menuju ke meja bang Heru, sambil membawa kertas tagihan di tangan ku.


"Ini tagihan minuman nya, bang." ujar ku.


Aku menyodorkan kertas itu ke tangan bang Heru. Kemudian, aku kembali mendudukkan tubuh ku di samping nya.


Setelah melihat jumlah yang tertera di kertas itu, bang Heru segera membuka dompet nya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah. Lalu, dia menyerahkan uang itu ke tangan ku.


"Ini uang nya, Ndah." ujar bang Heru.


"Oke, aku bayar kan kesana dulu ya, bang." balas ku.


Bang Heru mengangguk sebagai jawaban. Aku bergegas berjalan ke meja kasir, dan menyerahkan uang itu kepada Billy. Setelah itu, aku duduk kembali di samping bang Heru.


Melihat aku sudah duduk di samping nya, bang Heru pun langsung menyelipkan uang ke dalam genggaman tangan ku, sembari berkata...


"Makasih ya, Ndah. Sudah menemani abang malam ini." ujar bang Heru.


"Iya, sama-sama, bang." balas ku.


"Oke lah, Ndah. Abang pulang sekarang, ya." pamit bang Heru.


"Iya, hati-hati di jalan ya, bang." balas ku sembari mencium punggung tangan nya.


Aku dan bang Heru beranjak dari tempat duduk, dan berjalan menuju pintu keluar. Begitu juga dengan yang Ririn dan Rara, mereka juga ikut beranjak dari tempat duduk nya masing-masing, bersama dengan pasangan nya.


Sampai di luar ruangan, bang Heru dan teman-teman nya bergegas melangkah masuk ke dalam mobil, dan berlalu pergi meninggalkan lokasi tempat karaoke kami.


Aku masih terpaku di depan pintu utama, sambil memandangi kepergian bang Heru, yang sudah melajukan kendaraan nya ke jalan raya. Dan tiba-tiba aku tersentak kaget, karena mendapatkan tepukan kuat di bahu ku.


"Eh mampus kau eh mampus kau. Iiihhhh, kebiasaan kali sih, bocah gilak satu ini. Suka kali bikin aku jantungan!" omel ku pada Ririn.


Aku melatah sembari mengelus dada, akibat perbuatan Ririn yang mengejutkan ku dari belakang.


"Hahaha, maka nya jangan suka melamun jadi orang! Gampang kagetan jadi nya kan." gelak Ririn.


"Dasar kamvret kau, Rin." umpat ku.


"Jangan suka marah-marah lah, cayang! Ntar cepat tuek, loh. Ayo, kita bersihkan meja yang kita pakai tadi!" ajak Ririn.


Ririn menggandeng paksa tangan ku, dan menarik tubuh ku, masuk kembali ke dalam ruangan karaoke. Aku, Ririn, dan Rara, mulai membersihkan meja yang sudah kami gunakan, bersama bang Heru dan teman-teman nya.


Setelah meja dan kursi itu bersih seperti semula, kami bertiga pun kembali duduk di bang ku panjang, dan bergabung bersama teman-teman lain nya.


"Alhamdulillah, udah dapat uang makan buat besok." gumam Rara yang sedang duduk di samping kiri ku.

__ADS_1


Rara menghitung uang tip yang di berikan oleh teman bang Heru, dengan senyum yang sumringah.


"Tadi kau di kasih uang tip gak, Ndah?" tanya Rara.


"Iya, Ra. Aku di kasih kok." jawab ku.


Aku merogoh saku celana, dan mengeluarkan uang pemberian bang Heru.


"Alhamdulillah, lumayan juga dapat nya." gumam ku.


Aku tersenyum, melihat tiga lembar uang merah yang ada di tangan ku.


"Kalo kau dapat gak, Rin?" tanya Rara.


Rara menoleh pada Ririn, yang sedang duduk di samping kanan ku. Mendengar nama nya di sebut, Ririn yang tadi nya sedang menunduk, langsung mendongak kan kepala nya.


"Gak ada, Ra." jawab Ririn pelan.


"HAH, serius kau, Rin? Masa gak di kasih uang tip?" ujar Rara tidak percaya.


Aku dan Rara sangat terkejut, mendengar jawaban Ririn.


"Iya, aku serius, Ra. Lelaki yang aku temani tadi orang nya pelit, gak ada ngasih apa-apa sama ku." jawab Ririn.


"Ya, ampuun! Tega banget sih jadi laki-laki. Udah di temani bersenang-senang, kok malah gak ngasih uang sama sekali." gerutu Rara kesal.


Aku menatap wajah Ririn yang tampak sedikit murung, karena tidak mendapatkan uang sepeser pun, dari lelaki yang di temani nya.


"Kasian juga nih bocah, gak ada dapat uang sama sekali." batin ku sambil terus menatap wajah Ririn.


Karena tidak tega melihat Ririn, aku mengambil selembar uang yang di berikan bang Heru, lalu menyerahkan nya ke tangan Ririn.


"Nah, ini untuk uang makan mu besok!" ujar ku sembari tersenyum kepada Ririn.


Ririn menoleh pada ku, dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tampak sangat terharu, atas pengertian ku pada nya.


"Makasih banyak ya, Ndah." balas Ririn.


"Iya," balas ku.


Ririn menyimpan uang pemberian ku ke dalam saku celana nya, kemudian dia meletakkan kepala nya di bahu ku.


"Kalo gak ada uang pemberian mu ini, aku bingung mau makan apa besok, Ndah." ujar Ririn.


Mata ku langsung membulat sempurna, mendengar penuturan teman resek ku itu. Aku mengangkat kepala Ririn dari bahu ku, lalu menatap mata nya yang sudah merah dan berair.


"Emang nya, kau sama sekali gak megang uang ya?" tanya ku.


Ririn mengangguk, mengiyakan pertanyaan ku. Aku langsung menghela nafas berat, melihat wajah Ririn yang tampak sangat bersedih di depan ku.


"Kenapa kau gak bilang sih, Rin? Kalo kau gak ada uang, kau kan bisa pinjam dulu sama ku." ujar ku.


"Aku takut merepotkan mu, Ndah." balas Ririn.

__ADS_1


__ADS_2