
Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku pun langsung tersentak ketika mendengar suara adzan yang sedang berkumandang.
Saat melirik ke arah jam dinding, mata ku langsung terbelalak dengan mulut yang menganga lebar.
"Hah, udah adzan isya!" pekik ku.
Dengan gerakan tergesa-gesa, aku segera bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai, aku langsung membentangkan sajadah dan memakai mukena, kemudian melaksanakan shalat isya.
Selesai shalat, aku kembali bergegas memakai pakaian kerja dan berdandan di depan cermin. Setelah itu, aku cepat-cepat memakai sepatu dan menyampirkan tas di pundak.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam ku sambil keluar dari kamar dan mengunci pintu.
Dengan langkah yang sedikit terburu-buru, aku pun menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai dasar, dan terus saja melangkah sampai ke tempat kerja.
Sesampainya di lokasi, aku segera mengisi absen dan duduk di bangku panjang bersama teman-teman lain nya.
"Woy, lampir! Kemana aja kau semalam? Kenapa kau gak masuk kerja?" tanya Ririn sambil menepuk pundak ku kuat.
Akibat perbuatan Ririn, aku pun langsung reflek melatah sambil mengelus-elus dada karena saking terkejut nya.
"Eh mampus kau eh mampus kau." latah ku
"Dasar kamvreeeet! Bikin jantung ku hampir copot aja gombreng satu ini." umpat ku kesal.
"Hahahaha," gelak Ririn sambil duduk di sebelah ku.
"Kau kemana semalam, Ndah?" tanya ririn. mengulang pertanyaan nya.
"Kepo," balas ku cuek.
"Ck, gara-gara kau gak ada datang, terpaksa lah aku minta tolong orang lain buat bantuin aku pindahan." ujar Ririn kesal.
"Oiya aku lupa, sorry ya bestie! Aku bener-bener gak ingat soal nya." balas ku dengan wajah memelas.
"Helehh, alasan. Bilang aja malas bantuin aku." sungut Ririn sambil memanyunkan bibir nya.
"Eh, dodol. Kuping mu ini mulai pekak ya. Tadi kan udah ku bilang kalau aku lupa, masa kau gak percaya sih!" gerutu ku kesal.
"Iya, aku percaya. Emang nya kemarin kau dimana? Jangan bilang kalau kau masih di hotel sama tamu itu." selidik Ririn.
"Iya," jawab ku lirih.
"Whaaaattt, kalian nginap nya nyambung terus ya?" pekik Ririn.
"Sssttt, muncung mu ini jangan kuat-kuat kalo ngomong! Nanti kalo di dengar sama yang lain kan gak enak jadi nya." gerutu ku.
Aku menutup mulut Ririn dengan kedua telapak tangan ku, lalu menatap tajam pada sahabat resek ku yang satu itu.
__ADS_1
"Hehehe, maaf ya aku gak sengaja. Habis nya aku kaget banget dengar nya tadi." bisik Ririn.
"Iya, gak papa." balas ku.
"Emang nya laki-laki itu kuat main nya ya, Ndah? Trus, berapa ronde kalian main selama dua hari ini?" tanya Ririn penasaran.
"Seratus kali." jawab ku asal.
"Apa?" pekik Ririn lagi.
"Ssstttt, bisa diem gak sih! Berisik kali muncung mu ini dari tadi." umpat ku kembali menyumpal mulut Ririn dengan tangan ku.
"Lagian kau pun aneh-aneh aja, masa sampe seratus kali sih main nya. Bener-bener gila kalian berdua tuh!" ujar Ririn.
"Yang gila itu kau, bukan kami. Kepo aja urusan orang!" omel ku.
"Gimana aku gak kepo coba? Kalian itu nginap sampe dua hari loh, Ndah. Apa gak dower bibir bawah mu itu di gempur terus." balas Ririn.
"Ya gak lah, mana pulak dower. Malah tambah enak kok rasa nya, hahaha." jawab ku asal.
"Gila," sungut Ririn.
"Gak papa lah gila-gila dikit, yang penting dapat duit banyak." balas ku.
Setelah mendengar jawaban ku, Ririn pun terus saja memandangi ku dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. Dia seperti nya masih tampak penasaran dengan cerita ku tadi.
"Kau ini kenapa sih, kumat kau ya? Sibuk aja dari tadi ngurusin urusan pribadi orang, kayak gak ada pertanyaan lain aja." gerutu ku.
"Ya aku penasaran aja sih, kok bisa sampe dua hari kalian nginap nya. Pasti kalian main terus kerjaan nya di kamar, iya kan?" tanya Ririn semakin menjadi-jadi.
"Kalau iya emang kenapa, hah?" tanya ku balik.
"Ya gak papa sih, aku kan cuma pengen tau aja, hehehe." jawab Ririn salah tingkah.
"Huuuu, dasar orang aneh!" umpat ku sambil menoyor jidat Ririn.
Setelah selesai berdebat, kami berdua pun sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing. Setelah beberapa saat hening, Ririn pun kembali membuka suara nya.
"By the way, cowok mu apa kabar, Ndah? Apa dia gak curiga kau menghilang selama dua hari?" tanya Ririn khawatir.
"Huh, entah lah. Kayak nya sih dia udah mulai curiga sama ku. Tadi aja sikap nya udah berubah drastis waktu datang ke kos ku." jelas ku sambil menghela nafas berat.
"Berubah gimana maksud nya?" tanya Ririn dengan kening mengkerut.
"Sikap dingin gak kayak biasa nya. Dia kebanyakan diam, trus dia juga bilang kalau dia ada mimpi aku tidur dengan laki-laki lain." jawab ku.
"Hah, masa sih dia ngomong gitu?" tanya Ririn kembali terkejut.
__ADS_1
"Iya serius, dia juga gak percaya waktu aku bilang aku nginap di kos mu." tambah ku lagi.
"Waduh, bisa gawat lah urusan nya kalo kayak gitu. Takut nya lama-kelamaan cowok mu tau pulak tentang masalah itu." ujar Ririn semakin khawatir.
"Ah entahlah, aku juga bingung. Kalau aku tolak ajakan kencan tamu itu, dari mana lagi aku bisa dapat kan uang untuk membiayai keluarga ku. Kau kan tau sendiri tanggungan ku itu banyak." jelas ku.
"Iya juga sih, Ndah. Aku pun ngerti kok, kenapa kau mau di ajak kencan sama tamu itu." balas Ririn.
"Tu lah, kan gak mungkin aku minta duit dia terus-terusan kalau aku mau ngirim ke ayah ku, ya kan?" ujar ku meminta pendapat Ririn.
"Ya iya lah, nanti di kira nya kita cewek matre pulak, asik minta duit terus sama dia. kecuali dia ngasih sendiri, itu udah beda ceritanya." jawab Ririn membenarkan ucapan ku.
"Ya maka nya itu, aku mau di ajak ke hotel sama tamu itu, Rin." ujar ku.
"Yang aku pikirkan itu banyak, bukan hanya menjaga satu hati aja. Tapi aku juga harus memikirkan banyak perut yang harus aku kasih makan di kampung sana." lanjut ku lagi.
"Iya aku tau maksud mu, Ndah. Kau itu satu-satunya tulang punggung di keluarga mu. Kalau bukan kau yang membiayai mereka, siapa lagi?" tambah Ririn.
"Iya bener banget yang kau bilang itu, Rin." balas ku lirih sambil menundukkan kepala.
"Sabar aja ya, Ndah! Mudah-mudahan aja gak terjadi apa-apa dengan hubungan kalian berdua." ujar Ririn memberi semangat untuk ku.
"Amin, makasih banyak ya, Rin. Kau memang selalu mengerti tentang keadaan ku. Kau memang benar-benar sahabat terbaik ku." balas ku sambil tersenyum kecut pada Ririn.
"Halah, gak usah lebay biasa aja keles. Kau itu kebanyakan nonton film ikan terbang, jadi nya ya gini ini gampang mewek." cibir Ririn.
"Ya ya ya, suka hati kau lah situ mau bilangin aku apa." balas ku pasrah.
"Hihihi," Ririn hanya cekikikan mendengar jawaban ku.
Selesai bertukar pikiran dengan sahabat karib ku, tiba-tiba datang tamu sebanyak dua mobil.
Setelah memarkirkan kendaraan nya, tamu laki-laki yang berjumlah enam orang itu pun melangkah masuk ke dalam ruangan karaoke. Lisa sang kapten pun mengekori langkah mereka dari belakang.
Tak lama kemudian, Lisa kembali keluar dan memanggil ku untuk masuk ke dalam ruangan karaoke.
"Ndah, kamu di suruh masuk sama tamu yang pakai baju kemeja hitam!" ujar Lisa.
"Oke, Lis." balas ku sembari beranjak dari bangku dan berjalan masuk mengikuti langkah Lisa.
Sesampainya di meja tamu itu, mata ku langsung membulat sempurna saat melihat lelaki yang sedang duduk sambil tersenyum manis pada ku.
"Hai, sayang apa kabar?" tanya lelaki itu.
"Ka-kabar baik, ba-bang." jawab ku gugup.
"Aduh, mati aku. Bisa-bisa bakalan di culik lagi aku malam ini sama dia." batin ku cemas.
__ADS_1