
Seseorang mendatangi dan lekas bertanya kepada Astaroth. Ia pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena dia sendiri tak tahu harus menjawab apa. "Hanya konsol game, kan? Tunggu sebentar," ujarnya kembali masuk ke dalam toko itu.
Beberapa saat kemudian, dia ke luar tanpa membawa apa pun dengan raut wajah penuh kebingungan. "Ngomong-ngomong, kau tinggal di mana?" tanyanya.
"Eh?"
"Jangan hanya eh doang. Aku bertanya kamu tinggal di mana?" tanyanya lagi.
"Aku tidak punya tempat tinggal. Jika kusebut sebagai rumahku, itu bukan milikku. Benar juga, aku tidak memiliki tempat tinggal," balas Astaroth. "Terima kasih atas bantuannya," imbuhnya lekas pergi.
Apa-apaan bocah ini? Apa dia benar-benar tidak memiliki tempat tinggal? Dilihat dari penampilannya sih ... mungkin saja? Apa dia anak dari panti atau anak orang kaya yang kabur dari rumah? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, kayaknya mustahil deh kalau anak orang kaya yang lari dari rumahnya, batin Salivan.
"Haa ... kau ini. Namaku Salivan. Aku punya saran untukmu. Daripada harus membeli alat ini, lebih baik untuk sementara kau mencari tempat tinggal dan bermain di tempatku saja. Kebetulan aku menjalankan bisnis sampingan," ujarnya.
__ADS_1
Astaroth hanya memiringkan kepalanya karena tidak mengerti dengan perkataan Salivan. "Apa maksudmu?" tanya Astaroth.
Eh? Serius ni? batin Salivan.
"Seben–lupakan. Ikut denganku," ajak Salivan.
Jelas Astaroth enggan, karena ia tak tahu orang seperti apa Salivan itu. Selain itu, ini kali pertama mereka bertemu. Tentu saja Astaroth tidak akan percaya begitu saja, terlebih setelah apa yang ia lalui selama ini. "Terima kasih atas sarannya," ujar Astaroth pergi dari sana. "Ini alamatku. Kamu bisa mengantarkannya ke sana, dan ini uangnya. Terima kasih," imbuhnya kembali membungkukkan kepala.
Astaroth memberikan semua uangnya kepada Salivan, karena ia tidak punya pilihan selain percaya. "Kau bisa pulang duluan, aku akan mengantarkannya secepat yang kubisa," kata Salivan sembari tersenyum.
Ketika kembali ke gubuknya, Salivan telah berdiri di depan pintu rumahnya. Sungguh sebuah tempat tinggal yang benar-benar tak layak untuk dihuni. Di mana-mana ada sampah berserakan, bau tak sedap bahkan tikus dan kecoa dapat ditemukan di mana pun.
"Yo!" sapa Salivan ketika melihat Astaroth dari kejauhan.
__ADS_1
Anak ini ... apa dia benar-benar tinggal di tempat seperti ini? Selain itu ... apakah ini bisa disebut sebagai rumah? pikirnya dipenuhi tanya.
Rumah yang begitu tua, bahkan terdapat begitu banyak lubang di mana-mana. "Apa kau benar-benar tinggal di sini?" tanya Salivan.
Astaroth hanya mengangguk.
Gila! Aku tak mengira jika anak ini ... dia adalah orang yang begitu ....
"Hei, Astaroth. Aku tahu kalau ini pertama kalinya kita bertemu. Tapi ... apa kau berminat untuk tinggal di tempatku?" tanya Salivan karena tak tega.
"Aku tak butuh belas kasihanmu!" jelas Astaroth.
"Hmm ... bagaimana kalau begini? Aku akan membiarkanmu tinggal di tempatku, tetapi kamu harus membayar uang sewa perbulan. Untuk bulan pertama ... kau bisa membayarnya di akhir bulan dan bahkan boleh melakukan pembayaran bertahap. Bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak, terima kasih!" tegas Astaroth menolaknya dengan tegas.