
Sunyi kembali menemani, elegi terdengar begitu lirih. Rembulan perlahan memudar, hendak tergantikan cahaya surya. Ayunan pedang hitam dan putih terlihat begitu indah. Setiap ayunan terlihat penuh perasaan, lembut nan anggun. Sins bertelanjang dada di tengah derasnya badai salju.
Menari seorang diri di tengah badai salju hanya demi melampiaskan segala duka di hati. Sins membentuk kuda-kuda menyerang—kaki kanan sedikit di depan dengan dua bilah pedang pada posisi yang saling berlawanan. "Dual sword skil, ninth form. absence!" ujar Sins fokus menatap ke depan.
Sins tak terlihat bergerak sama sekali, kecuali berbalik arah sembari menyarungkan kembali kedua pedangnya. Namun, begitu kakinya melangkah—langit terbelah menjadi dua, lebih dari setengah tumbuhan dan hewan musnah tak bersisa, bahkan gunung bersalju lenyap tanpa jejak. Cahaya mentari mengiri setiap langkahnya, seolah-olah saja berkata bahwa dia lah sosok yang dicintai cahaya.
Mana menyelubungi tubuhnya, perlahan berubah menjadi jubah dua warna—hitam dan putih. Hari kemarin adalah hari terakhir ia bersama Sirca dan rekan lainnya, karena hari ini Sins memutuskan untuk kembali berpetualang mencari makna dari hidupnya.
Terjebak dalam kesedihan dan masa lalu, membuat mentalnya menjadi tak stabil. Seringkali Sins menghancurkan segala hal yang ada di sekitarnya, bahkan tanpa sadar membunuh sesama jenisnya. Tangannya yang ternoda oleh darah, membuatnya enggan memaafkan segala dosa yang pernah tercipta.
__ADS_1
Tiba diperbatasan, ia dihadang oleh sosok serigala putih dan seekor naga petir. Mereka menatap tajam ke arah Sins, seakan hendak menerkamnya.
"Apa kau akan pergi?" tanya Serigala Putih, Fefnir.
Sins hanya diam, memandangi mereka dengan mata yang tertutupi oleh kain.
"Bisakah kami ikut bersamamu?" tanya Naga Petir, Light.
"Sins, kami tidaklah selemah yang ka—"
__ADS_1
"Kalian tidaklah lemah, tetapi kalian akan mati jika berada di dekatku," sela Sins sembari terus melangkah dan perlahan menghilang di tengah gelapnya hutan.
Light dan Fefnir mencoba untuk mengejarnya. Namun, baru saja mereka bergerak, sebuah rantai muncul entah dari mana dan mengikat tubuh mereka untuk waktu yang cukup lama. Mereka meraung dan melolong sekuat tenaga, mencoba untuk menghancurkan rantai di tubuhnya. Rantai itu bukanlah rantai biasa, melainkan rantai jiwa yang hampir mustahil untuk dirusak oleh mahluk fana.
***
Tak jauh dari sebuah kota, terdapat hutan lebat yang biasa dilewati oleh semua orang untuk bepergian. Di wilayah bagian selatan, terdapat sebuah kota yang terdengar akan keramahan dan keindahannya. Sebuah kota di mana kebanyakan ras hidup saling berdampingan. Kota itu disebut sebagai Kota Surga, Regial.
Namun, itu semua hanya cerita dahulu. Saat ini, kota tersebut menjadi kacau disebabkan oleh penguasa yang sama sekali tak berguna. Perbudakan, perdagangan manusia dan berbagai macam tindak kejahatan terjadi di sana.
__ADS_1
Sins telah tiba di kota tersebut beberapa hari yang lalu. Selama dua hari, dia terus mengamatinya dengan saksama. Di kota itu, selama mereka memiliki uang dan kekuatan, mereka akan memiliki segalanya. Sins mengunjungi kota tersebut dengan satu tujuan, yaitu sebuah item yang dikabarkan dapat membangkitkan yang telah mati.
Jelas hal itu membuatnya sangat tertarik. Namun, informasi yang didapatkan masihlah sangat sedikit dan belum tentu valid.