
Ketika di luar gerbang Kota Arvinci, Sins dan Felicia memulai pelajaran tentang sihir dan pedang. Dia tidak langsung berburu, melainkan mendengarkan pendapat semua orang tentang apa itu sihir, mana dan pedang. Namun, tak ada satu pun jawabannya yang membuatnya puas.
"Sihir ... em, itu. Sihir itu mungkin seperti wush, lalu pyu dan kyu," kata Verry penuh semangat.
"Tidak-tidak! Sihir itu adalah cara kita untuk memahami konsep dunia dan memahami arti dari kehidupan manusia," ujar Ana.
Sins hanya bisa tersenyum, mendengarkan dengan saksama. Lalu, dia menatap ke arah Felicia, mencoba mendengarkan pendapatnya.
"Hmm ... benar juga. Kalau diingat-ingat aku belum pernah mendengar pendapatmu tentang sihir," lirih Sins menatap Felicia.
"Sihir itu perwujudan dari kehendak manusia dengan meminjam energi roh atau Dewa. Energi itu bisa berupa kekuatan kehidupan ataupun mana sebagai katalis. Namun, sihir kegelapan itu berbeda. Mereka tidak menggunakan energi kehidupan ataupun menggunakan energi alam, melainkan energi iblis dan energi kematian...," jelas Felicia.
__ADS_1
Sins cukup senang akan jawaban yang diberikan oleh Felicia, tetapi ia tidak setujui pada bagian meminjam kekuatan dari Dewa. Menurutnya, sihir itu bukanlah kekuatan Dewa, melainkan kehendak dari hati.
"Sihir itu adalah eksistensi dari harapan dan kehendak dari seseorang. Eksegesis dari ketidaktahuan. Kekuatan dari Dewa? Jangan bercanda! Ketika keinginan yang kuat bertemu dengan penafsiran yang tepat, sihir baru akan tercipta. Sihir itu sendiri adalah pemikiran dari manusia, ia tak terikat oleh hukum sebab-akibat, tetapi bagian dari hukum itu sendiri."
"Mana? Energi kehidupan? Energi iblis dan kematian? Semua itu tidak lah berbeda, melainkan satu-kesatuan. Jika mana adalah energi eksternal yang berasal dari alam, maka energi kehidupan merupakan energi yang berasal dari energi internal," kata Sins.
"Untuk beberapa bagian kami mengerti, tetapi ... apa maksudmu dengan kehendak dan harapan?" tanya Felicia kebingungan.
Begitu selesai merapalkan mantra, beberapa anak panah api muncul dan langsung menerjang pohon yang ditargetkan Sins sebelumnya. Pohon itu langsung terbakar oleh bara api.
"Seperti yang kalian lihat, itu adalah sihir kelas rendah, fire arrow. Lalu, pertanyaannya adalah apakah bisa mewujudkan sihir tanpa rapalan ataupun mengucapkan nama sihirnya?" tanya Sins tersenyum.
__ADS_1
"Mustahil! Tentu tidak! Entahlah, mungkin saja?" Beragam jawaban pun terdengar. Kembali Sins tersenyum.
"Salah. Tentu saja bisa," lirih Sins. "Selama kalian bisa membayangkan perwujudan dari sihir yang kalian inginkan, hal itu memungkinkan. Contohnya seperti ini," imbuhnya.
Di saat Sins tengah menjelaskan, beberapa anak panah lainnya tercipta—fire arrow. Mereka enggan untuk percaya, dan hanya rasa bingung dan kagum yang tertinggal.
"Mustahil! Ba-bagaimana itu mungkin? Sihir tanpa rapalan, hanya para Dewa saja yang mungkin bisa melakukannya!" tegas Felicia terbelalak.
"Mustahil? Pfftt ... lalu ini apa?" tanya Sins masih mempertahankan sihirnya. "Pertanyaan selanjutnya, apakah sihir bisa dibatalkan tepat setelah diaktifkan?" imbuhnya lagi.
Mereka semua terdiam, fokus memerhatikan.
__ADS_1
"Haa ... selama kalian memiliki kesadaran dan kendali atas mana di sekitar kalian, hal itu bisa terjadi," lirih Sins menjentikkan jarinya.