The Heaven

The Heaven
027


__ADS_3

Segerombolan serigala tengah mengepung kelompok Sins, bahkan tanpa mereka sadari kedatangannya. Hal itu jelas menjadi momok bagi mereka, terlebih lagi anak-anak. Jumlah yang terlampau jauh jelas menjadi ancaman tersendiri, tak peduli seberapa kuatnya mereka.


Serigala? Tunggu! Apa mungkin ini daerah kekuasaannya? batin Sins memerhatikan sekitarnya.


Sekawanan monster itu masih dalam posisi bersiap, seolah tengah menunggu sesuatu.


"Tunggu. Jangan ada yang menyerang," ujar Sins perlahan mendekati serigala yang berada di barisan terdepan.


"He-hei Sins, apa maksudmu? Ja-jangan bertindak ceroboh!" teriak Mera cemas.


Tentu semua orang juga mencemaskan Sins, bahkan kebingungan akan maksudnya. Sins hanya acuh tak acuh dan meminta mereka untuk tetap bersiaga, karena dia sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Sepasang katananya masih disarungkan di pinggang, sedikit pun tak terlihat niat untuk menariknya.

__ADS_1


"Apakah ini wilayah penguasa putih?" tanya Sins begitu di hadapan sang pemimpin.


Serigala lain hendak menyerang, tetapi dihentikan oleh pemimpinnya.


Siapa kau? tanya Sang Pemilik melalui pikiran.


Telepati, ya? Kemampuan yang cukup menarik. Dan siapa aku itu tidak penting. Maaf karena telah memasuki wilayah putih tanpa izin. Tolong tarik kawananmu dan biarkan kami pergi. Aku tidak ingin ada darah yang tumpah secara percuma, balas Sins.


Maaf, aku sama sekali tidak bermaksiat untuk meremehkan pihak mana pun. Hanya saja ... jika kita bertarung, pihak kami pasti akan gugur. Namun, apa kau yakin pihak kalian juga tidak akan ada yang terluka dan parahnya binasa*? pikir Sins.


Mereka berdua tengah berbincang menggunakan kemampuan telepati, sebuah kemampuan khusu yang memungkinkan seseorang untuk bisa berbicara melalui pikiran. Di saat Sins tengah mencoba untuk mencari jalan tengah, Sirca dan rekannya semakin gelisah. Bahkan Felish yang merupakan satu-satunya anak perempuan, menangis histeris.

__ADS_1


Leo dan Gemini mencoba untuk menenangkannya, tetapi gagal. Rasa takut terlampau hebat disebabkan tekanan yang begitu mengerikan dari gerombolan serigala. Sins yang mendengar hal itu pun, sedikit merasa kesal.


"Akan kutanya sekali lagi. Apakah kalian masih ingin kukuh untuk saling membunuh?" tanya Sins.


Sins yang mulai kehilangan kesabaran, memperlihatkan niat membunuh yang teramat mengerikan, seakan telah membinasakan jutaan nyawa. Aura yang hanya bisa dirasakan oleh para serigala, membuat seluruh kawanan itu mulai menjadi gelisah. Pemimpin mereka pun terdiam, bahkan gemetar ketakutan.


"Kalau kau masih diam, maka kuanggap negosiasinya berjalan lancar dan kalian akan membiarkan kami ke luar tanpa gangguan," lirih Sins. "Sampaikan salam ku pada si putih," imbuhnya melambaikan tangan dan kembali pada rekannya.


Baru berjalan beberapa langkah, Sins kembali berhenti untuk sejenak. "Oh, iya. Aku hampir lupa. Tolong segera bubarkan mereka," ujar Sins kembali melangkah.


Kawanan serigala itu saling menatap satu sama lain. Mereka sangat kebingungan sekaligus ketakutan. Tepat setelah Sins kembali berkumpul dengan rekannya, lolongan serigala terdengar dengan lantang. Di saat yang bersamaan, satu per satu serigala itu mulai menghilang di bawah hujan salju.

__ADS_1


Sirca dan yang lainnya pun bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya di lakukan Sins. Tetapi dia masih acuh tak acuh, bahkan berdalih. "Sudah mulai turun salju lagi. Sebaiknya kita segera kembali, dan untuk masalah buruan kalian tak perlu khawatir," lirih Sins menggendong Felish yang masih menangis.


__ADS_2