The Heaven

The Heaven
046


__ADS_3

Kini hanya tersisa kurang dari lima minggu sebelum kerajaan mengerahkan pasukannya untuk meluluhlantahkan Kota Arvinci. Semua orang telah bersiap untuk mati demi kota tercinta. Sins, demi menepati janjinya, dia menciptakan sebuah penghalang untuk melindungi semua orang.


Namun, sedikit pun dia tidak berniat untuk berpartisipasi dalam peperangan tersebut. Alasannya jelas, karena lawannya bukanlah sosok yang bisa diremehkan. Berbeda dengan Sins, Felicia dengan sepenuh hati berpartisipasi dalam peperangan itu bersamaan dengan penduduk dan prajurit lainnya.


Alasannya benar-benar tak bisa dimengerti oleh Sins—karena dia ingin melindungi penduduk dan anak-anak yang selalu bermain bersamanya—tetapi Sins tidak menghentikan ataupun menghalanginya untuk turut serta.


"Sins, aku akan mengikuti perang ini," lirih Felicia dengan sorot mata berani.


"Hmm ...."

__ADS_1


"Aku benar-benar ingin mengikuti peperangan ini, dan tidak ada yang memaksaku un—"


"Lakukan saja sesukamu. Jika menurutmu itu yang harus dan ingin kau lakukan, maka lakukan saja. Tapi, jika kau mati ... kuharap kau tidak menyesalinya," sela Sins.


Kata-kata Sins langsung membungkam Felicia. Tubuhnya getir, kedua tangannya terkepal erat. Dia mengigit sedikit bibirnya hingga berdarah.


"Haa ... lakukan yang terbaik, dan jangan mati," lanjut Sins.


Dia berhenti di dinding kota, menatap kota itu dari ketinggian. Memorial indah kembali diputar di dalam otaknya, menciptakan ilusi tentang kejadian sebelumnya. Sekalipun mentari telah terjatuh, Sins masih berdiri teguh menatap kota itu.

__ADS_1


Dilanda oleh dilema, membuatnya tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama tak menarik pedang, dia menarik sepasang bilah itu dari sarungnya. Pedang hitam itu telah hancur, dan hanya tersisa gagangnya dan sedikit serpihan. Sementara pedang putih itu terlihat tak jauh berbeda dengan pedang biasa.


Entah apa yang kini dipikirkan olehnya, Sins kembali menyarungkan pedangnya setelah cukup lama menatap mereka. "Haa ... merepotkan saja," gerutu Sins berbaring menatap langit.


Satu bulan sebelum peperangan terjadi, beberapa pembunuh bayaran mencoba untuk memasuki kota dan menciptakan teror dengan membunuh orang secara asal. Beruntung Sins menghentikan mereka dan tanpa welas kasih membunuh semua pembunuh itu. Dia mendapatkan informasi yang cukup menarik dari orang-orang yang telah dibunuhnya, yaitu fakta bahwa mereka dikirim oleh faksi lain yang juga membenci Baron Elfistia.


Semakin hari semakin banyak saja pembunuh yang datang, bahkan para bandit gunung mulai mencoba untuk melakukan penjarahan secara terang-terangan. Beruntung Sins membantu Kota Arvinci dari balik bayangan, jika tidak sudah lama kota itu menjadi reruntuhan dan sejarah.


"Haa ... semakin hari semakin merepotkan saja. Apa aku harus membersihkan para baji*gan itu?" gumam Sins bertanya-tanya tentang apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Pada akhirnya, Sins tetap membantu Kota Arvinci dengan cara memusnahkan kota-kota terdekat dan bandit yang mencoba untuk ikut campur. Semua terjadi dalam sekejap mata, tak menyisakan apa pun selain sebuah puing-puing.


"Hmm ... bahkan setelah membunuh ratusan ribu orang, aku sama sekali tidak merasakan apa pun. Haa ... sepertinya aku benar-benar telah menjadi monster," lirih Sins menatap kota yang telah ia hancurkan dari angkasa.


__ADS_2