The Heaven

The Heaven
048


__ADS_3

Semua orang bersorak-sorai, mengumandangnkan segala nyanyian di medan perang. Tentu saja keinginan mereka hanya satu, kemenangan. Di pimpin oleh seorang wanita, semua prajurit kerajaan mulai melangkah ke Kota Elfisia.


Felisha dan seluruh tantara kota beserta beberapa sukarelawan mulai getir saat melihat ratusan ribu prajurit mendekati mereka seraya menyanyikan sebuah lagu kemenangan. “Dengarkan, aku akan memberikan kalian satu kesempatan terakhir. Bagi kalian yang masih ingin hidup, segera pergilah dari kota dan ini atau serahkan kepala milik Baron Elfisia serta tunduklah pada kerjaan. Akan tetapi, bagi mereka yang menolak untuk patuh, jangan pernah bermimpi bahwa kalian bisa mati dengan tenang!” titah Hiyori sembari tersenyum dengan ratusan ribu prajurit berdiri di belakangnya.


Hanya butuh sepatah kata saja untuknya membuat kota Elfisia menjadi reruntuhan belaka, dan membuat semua orang yang ada di dalamnya binasa. Akan tetapi, menguasai kota bukanlah tujuan utama Hiyori. Ia melakukannya hanya karena sebuah kesepakatan belaka.


Sins terus memerhatikan dari atap bangunan tertinggi di pusat kota, seraya duduk sembari bernyanyi. Nyanyian indah dengan bait yang cukup mengerikan, ia menceritakan tentang sebuah perang yang tak ada artinya. Untuk saat ini, Sins hanya menonton saja, dan sedikitpun ia tidak terlihat berniat untuk memberikan bantuan apa pun.

__ADS_1


Kboom!


Sebuah ledakan terdengar begitu menggelegar, nyala api dan asap kelabu menggumpal di sekitar Sins. Seorang wanita secara tiba-tiba muncul tak jauh dari tempat Sins berdiri, tertawa kecil sembari menyaksikan sebuah bangunan hancur di pusat kota.


“Hahaha … serangan telak, kuyakin sekarang dia sudah berubah menjadi abu!” kekehnya duduk di atas atap.


Suara yang dihasilkan dari ledakan itu bergema ke segala arah, bahkan mencapai medan perang. Sontak semua orang terkejut, dan mengira jikalau musuh telah berhasil menerobos kota. Elfisia langsung mengerahkan sebagian prajuritnya untuk memeriksa keadaan di kota. Dengan dipimpin oleh Yui, mereka pun lekas berlari ke dalam kota.

__ADS_1


Perlahan sebuah tornado besar tercipta di tengah kota. Mereka hanya tertegun saat menyaksikan sebuah kekuatan mutlak, berharap keajaiban akan datang dengan cara yang paling tak terduga. Hanya Yui seorang yang memutuskan untuk tetap berdiri dengan tegap, kian merapalkan sihir untuk mencoba menghentikan serangan itu.


Sementara itu, di sisi lain Elfisia benar-benar dibuat kebingungan oleh dua keadaan dari medan perang yang benar-benar tidak seimbang. Belum lagi kondisi kota yang terlihat sangat mencekam. “Haa … merepotkan! Kenapa kamu menyerangku? Apa salahku? Hei, apa sebegitunya kamu ingin mati? Kalua begitu, izinkan aku untuk membantumu!”


Untuk sesaat, waktu benar-benar terasa seperti berhenti, bahkan sihir milik semua orang benar-benar menghilang. Yang lebih anehnya lagi, Sins tiba-tiba telah berada di belakang Hiyori dengan sebilah pedang yang masih disarungkan.


“Mu-mustahil! Bagaimana bisa kamu tidak terluka setelah terkena serangan telak dariku? Tidak! Yang lebih anehnya lagi, bagaimana bisa sihirku tiba-tiba lenyap?” tanya Hiyori dengan mata terbelalak dan tangan yang gemetar. “Tel-telepor—”

__ADS_1


Bruak! Slash!


“Percuma!” Tanpa belas kasihan, Sins langsung menikam dada Hiyori, tepat di jantungnya.


__ADS_2