
“TRING!!!” Sesaat sebelum tombak milik mael menebas leher milik villia secara tiba-tiba muncul seorang pria misterius yang entah muncul dari mana yang kini tengah menahan tombak milik mael dengan menggunakan dua buah bilah pedang yang memiliki warna merah darah dan hitam pekat. “Yo, maaf sepertinya aku datang sedikit terlambat! Syukurlah karena kalian bisa bertahan sampai aku datang ke sini! Apa kalian baik-baik saja?” ucap pria tersebut sambil tersenyum lembut ke arah villia dan yenika.
Semua orang yang ada di sana bahkan mael sendiri menjadi sangat terkejut ketika secara tiba-tiba muncul seseorang yang entah dari mana dan langsung menahan tombak milik mael dengan mudahnya, semua orang yang ada di sana sangat mengenali suara dan penampilan dari orang itu bahkan ketika ia baru saja tiba kecuali mael dan milia mereka sama sekali tak kenal dengan pria itu. Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Shota, “Hahaha.... ada apa dengan ekpresi wajahmu itu? Apa kau terkejut melihat ada seorang pemain yang dapat menahan seranganmu?” ucap Shota sambil tertawa dan langsung mencoba untuk menendang tubuh mael.
Mael dengan tenang dan cepat langsung menghindari serangan Shota dan mundur beberapa langkah lalu secara perlahan ia mulai mengumpulkan sebuah mana di ujung tombak miliknya yang secara perlahan mulai menciptakan sebuah kilatan petir, “Hmm... menarik! Sihir petir ya? Baiklah biar ku coba sesuatu yang menarik! Element petir, lightning strike” ucap Shota sambil tersenyum dan menganyunkan kedua bilah pedang miliknya itu.
“lightning stab!” ucap mael dengan nada dingin dan melemparkan tombak miliknya yang kini telah di lapisi oleh petir.
Beberapa kilatan petir langsung terlihat seketika kedua bilah pihak mengaktifkan sihir dan kemampuan dengan element petir yang mereka miliki dan seketika kedua serangan dari kedua belah pihak saling bertabrakan seketika itu juga sebuah ledakan petir langsung terlihat dan menyambar apapun yang ada di sekitarnya bahkan sampai hampir menyambar villia dan yenika jika saja Shota tak menahan sambaran petir tersebut. “Haa.. merepotkan saja! Apa kalian berdua baik-baik saja? Tetap di dekatku!” ucap Shota sambil tersenyum lembut ke arah villia dan yenika.
__ADS_1
“B-baiklah!” ucap Villa dan Yenika secara bersamaan dengan ekpresi wajah pucat dan ketakutan. Sementara itu di sisi lain milia dan mael yang melihat kalau Shota, villia dan yenika masih hidup dan bahkan dapat menahan setiap serangan yang di lancarkan oleh mael langsung menjadi sangat marah dan kesal lalu tanpa basa-basi milia langsung mengeluarkan sebuah tombak dari investory miliknya dan langsung mengaktifkan skil khusus untuk kelas dragon knight yaitu raungan kegigihan.
RAUNGAN KEGIGIHAN adalah sebuah skil yang hanya di miliki dan dapat di gunakan oleh kelas dragon knight dengan syarat pengguna tombak di mana ketika di aktifkan skil tersebut tak akan mengkonsumsi mana walau hanya sedikit saja tetapi ia akan mengkonsumsi setengah hp dari pengguna skil yang akan di akumulasikan sebagai kekuatan untuk pengguna skil dan Semua familiarnya.
Setelah milia mengaktifkan skil ruangan kegigihan secara perlahan seluruh tubuh milia dan mael di selimuti oleh sebuah aura berwarna merah darah yang membuat penampilan mael semakin menakutkan, “Haaa...... lightning rage “ ucap mael sembari membaca sebuah mantra dan terbang melesat ke arah Shota.
“Hmm... menarik! Tombak melawan tombak! Fate-determining weapons bentuk ke-4 light spears” ucap Shota sambil tersenyum dan merubah bentuk senjata miliknya menjadi sebuah tombak dan dengan cepat langsung berlari ke arah mael. Semua orang yang ada di sana termasuk villia sendiri langsung menjadi sangat terkejut seketika melihat kalau senjata milik Shota dapat berubah bentuk sesuai keinginan Shota bahkan saat ini senjata miliknya memancarkan sebuah cahaya yang sangat menyilaukan, “Tring!! Slahs!!” Suara benturan senjata dan rentetan kilatan petir muncul dan menyambar ke segala arah setiap kali kedua senjata milik Shota dan mael saling berbenturan yang menyebabkan area sekitarnya secara perlahan mulai hancur karena terkena dampak dari pertarungan Shota dan mael.
Semua orang kecuali villia menjadi sangat terkejut seketika melihat kemunculan dari ke-4 hewan panggilan Shota itu dan tak ada satupun dari mereka yang sadar bahwa di wajah Shota kini terdapat sebuah segel berwarna hitam pekat yang secara tiba-tiba muncul ketika matahari telah terbenam. Suzaku dan Byako dengan cepat langsung membawa villia dan yenika pergi sejauh mungkin dari tempat itu sementara itu seiryu dan genbu saat ini tengah sibuk melawan mael dan mencoba untuk memancing mael ketempat yang di inginkan oleh Shota di mana di tempat itu dirinya kelak akan di untungkan bahkan jikapun mael jauh lebih kuat dari dirinya sekalipun.
__ADS_1
“Yo nona, sekarang hanya ada kita berdua saja di sini. Apa kau masih ingin bertarung melawanku ataukah kau ingin mundur dan menghentikan pertarungan yang sia-sia ini?” ucap Shota sambil tersenyum dan mengarahkan tombak miliknya itu ke arah milia.
“Hee.. kau kira dirimu itu siapa? Apa kau fikir aku takut padamu hanya karena kamu berhasil menahan beberapa serangan dari familiar ku itu? Apa kau fikir dirimu itu hebat karena dapat bertahan sejauh ini? Dasar bod.... E-ehhh...A-apa ini? T-turunkan aku dasar monster aneh!” ucap milia yang menjadi sangat terkejut sekaligus menjadi sangat ketakutan seketika melihat kalau dirinya saat ini tengah di bawa terbang oleh seekor monster.
“Bawa dia ke tempat ayato dan krak dev dan bantu mereka untuk mengalahkan lawan-lawannya itu dark dragon salu!” ucap Shota sambil tersenyum dan langsung pergi ke tempatnya mael dan ke-2 familiar miliknya yang kini tengah sibuk bertarung. Shota yang kini tengah berlari ke arah tempat di mana yang ia rasa ia akan di untungkan jika bertarung di sana kini hanya bisa berharap kalau adiknya dan krak dev dapat bertahan sebentar lagi di sana tetapi ia tak terlalu risau karena saat ini di tangan adiknya itu ada 7 buah kartu yang akan melindungi dirinya ketika dalam bahaya dan dalam keadaan antara hidup dan mati.
Setelah berlari cukup lama dengan kecepatan cahaya akhirnya Shota sampai di lokasi di mana ia akan bertarung habis-habisan melawan mael dengan seluruh kekuatan yang ia miliki bersamaan dengan seluruh familiar yang ia miliki tetapi saat ini seiryu dan genbu tengah bertarung habis-habisan melawan mael yang bahkan ketika ia baru saja sampai Shota langsung menjadi sangat terkejut seketika melihat seluruh area yang ada di sana yang hampir saja hancur karena dampak dari pertarungan yang di lakukan oleh familiar miliknya melawan mael padahal pertarungan itu baru saja berlangsung sekitar 15 menit saja tetapi dampaknya sudah luar biasa.
“Gila! Apa ini masih bisa di sebut sebagai pertarungan ya? Bukankah ini lebih cocok di sebut sebagai penghancuran?” ucap Shota dengan ekpresi wajah heran. Suara auman dan suara ledakan dari akibat pertarungan yang di akibatkan oleh kedua belah pihak langsung membuat suasana di area tersebut semakin mencekam bahkan sampai membuat area tersebut menjadi kawasan mati tanpa adanya sedikitpun adanya tanda-tanda kehidupan dari sebuah monster, “Haa.... merepotkan saja! Kenapa aku harus berhadapan dengan lawan yang sangat merepotkan seperti ini? Haa... sudahlah!” ucap Shota sambil menghela nafas dalam dan dengan ekpresi wajah pasrah.
__ADS_1
Mael terus menerus mencoba untuk menahan setiap serangan yang di lancarkan oleh kedua familiar Shota yang menyerang secara membabi buta bahkan tak memperdulikan keberadaan dari Shota itu sendiri yang merupakan tuan mereka berdua, Shota hanya bisa terperangah dan menjadi sangat terheran-heran serta terkejut ketika melihat pertarungan membabi buta yang di lakukan oleh kedua familiar miliknya itu yang melawan mael. Shota tak bisa berkata-kata di buatnya dan hanya bisa terus-terusan menghindari setiap serangan yang mengarah padanya sambil dengan tenang terus menunggu hari yang menjadi semakin gelap untuk memaksimalkan kemampuan miliknya karena ia tau dan yakin kalau dirinya tak akan pernah mungkin bisa mengalahkan mael ketika mael telah memasuki mode amarahnya dengan kemampuannya yang normal.
“Issss.... haaa...... tehnik tombak petir bentuk ketiga, tangisan dewa petir” ucap mael sambil menarik nafas dalam dan melemparkan rombak miliknya ke langit.