
Setelah perdebatan yang cukup lama, pembahasan pun selesai walau tidak berjalan lancar. Ketika semua orang pergi, Razel masih duduk sembari menatap Yui. Dia yang mengertilah niat dari Razel, meminta pelayannya untuk pergi dan membiarkannya hanya berdua. “Jadi apa yang ingin kau katakan, Razel?” tanya Yui dingin.
“Hahaha ... mulutmu masih saja jelek seperti biasanya.”
“Apa hanya itu yang ingin kau katakan?” tanya Yui lagi.
“Haa ... Yui, berhentilah mengejar sesuatu yang belum tentu bisa kau gapai. Orang itu ... mungkin sampai saat ini masih di dunia itu. Dan apakah kau sadar, bahwa bahkan tubuh dari kebanyakan orang-orang yang memainkan itu, menghilang tanpa jejak. Anehnya lagi, kita yang dikatakan akan mati malah hidup kembali di dunia yang kacau ini! Apa kau mengerti apa maksud dari semua ini?” tanya Razel dengan raut wajah serius.
Yui hanya diam sembari menatap Razel. Jelas dia sadar tentang resiko dari apa yang dilakukannya.
__ADS_1
“Hanya karena kau sedikit lebih kuat dari yang lainnya, bukan berarti kau adalah penguasa. Hanya karena aku dan Cloud mendukungmu ... hanya karena kami menganggapmu sebagai keluarga dan akan selalu melindungimu, bukan berarti kami bisa terus melakukan itu. Setiap orang ada masanya, dan setiap kemenangan pasti ada kekalahan. Apa kau mengerti, Yui?” jelas Razel.
“Aku tak pernah meminta perlindungan apa pun dari kalian. Dan hanya karena kita dekat, bukan ber—“
“Hei, Yui. Berpikirlah sebelum berbicara. Anak itu bukanlah sesuatu yang bisa kau ataupun aku gapai. Dan tak peduli apa pun resikonya, ataupun sebenci apa pun kau padaku, kau tetaplah keluargaku. Karena itu, apa pun risikonya, aku akan selalu datang. Sama halnya seperti anak itu, yang suatu saat nanti akan datang ketika kita benar-benar membutuhkannya. Aku yakin itulah juga apa yang dipikirkan Cloud, karena itu dia dengan sabar menunggu, bahkan mengosongkan posisi teratas,” jelas Razel untuk kesekian kalianya.
Yui hanya diam, kemudian pergi dengan sikap dingin. Sementara Razel masih duduk sembari tersenyum, mencoba untuk memaklumi sifat Yui. "Siva," lirih Razel.
Entah bagaimana, secara tiba-tiba seseorang muncul di sebelah Razel dan dengan segera berlutut di hadapan. Seluruh tubuhnya kecuali matanya, tertutupi oleh pakaian hitam pekat. Pisau di punggungnya pun terlihat sangat tajam dan mengerikan. "Gunakan itu, dan bunuh orang-orang yang menentang adikku!" titah Razel.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Keinginanmu adalah perintah untukku," lirihnya dan langsung menghilang seolah tak pernah ada.
"Aiyo, bakal repot ini. Haa ... anak ini, selalu saja merepotkan Kakaknya," gumam Razel dan langsung pergi dengan wajah sedikit kusut.
Sementara Razel menjadi sosok yang kejam demi keluarganya, Cloud masih bersikap misterius. Nama, keberadaan ataupun kekuatan, hanya ada sedikit orang yang mengetahuinya.
Yui kembali ke kamarnya dengan wajah sendu. Kedua tangan terlekat di dada, berdoa kepada Tuhan. Saat mentari berada di puncak tertinggi, Yui ke luar dengan beberapa pelayanannya. Pakaian indah berwarna merah muda dengan empat kain panjang bak ekor di bagian pinggang—bahkan membawa senjatanya—bersiap pergi untuk memasuki gerbang.
"Nona, semuanya sudah siap. Kami menunggu perintah Anda," lirih pelayan di sebelahnya.
__ADS_1
Pelayan itu terlihat seperti seorang kesatria, dengan pedang besar yang terlihat begitu menonjol. "Tunjukkan jalannya," balas Yui masih sedingin es.