The Heaven

The Heaven
026


__ADS_3

Hari-hari indah terus dilewati dengan penuh bahagia. Di tengah salju abadi, suara tawa terdengar. Sekolompok anak manusia saling bahu-membahu untuk menciptakan hidup yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya, agar tak ada sedikit pun yang terlewati secara percuma.


"Sins, ikut berburu yuk?" ajak Barrack ramah.


"Nah, ide bagus tu. Rasanya lebih tenang kalau Sins juga ikut," imbuh Mera tersenyum.


Mereka semua setuju untuk mengajak Sins. Sayangnya, ia menolak dengan dingin.


"Tidak terima kasih. Akan lebih baik bagiku untuk menjauh dari kalian," ujar Sins sinis.


Mereka yang sudah terbiasa dengan sikapnya, hanya bisa menghela napa sembari tertawa. Nahas bagi Sins, sebab Sirca sama sekali tidak menerima penolakan. Dia menyeret Sins sembari membawa pedang besar di punggungnya, bahkan tanpa terlihat kesulitan.


Haa ... terserahlah. Toh tidak ada banyak hal yang bisa kulakukan di sana. Tapi ... yang benar saja. Orang ini apa masih bisa disebut sebagai wanita? Mengerikan! batin Sins yang pasrah.

__ADS_1


Anak-anak mengikutinya dari belakang, sembari memegang senjata mereka. Berbeda dengan biasanya, wajah semua orang tampak lebih serius dan waspada, termasuk anak-anak juga. Begitu mereka melihat mangsa, tanpa keraguan anak panah langsung dilepaskan.


Hmm ... komposisi mereka tidak buruk. Sirca, Barrack dan Killa bertugas di garis depan, sementara ketiga bocah itu berperan sebagai support dengan memainkan peran sebagai pemanah, sama halnya dengan Tirto dan Rages. Sementara Mera berperan sebagai magician, yang mana memainkan peran paling penting sebagai penyerang sekaligus support, menarik, batin Sins terus mengamati.


Sementara semua orang tengah berburu, Sins terus berbaring seraya mengamati. Sikapnya seolah acuh tak acuh, seolah benar-benar tidak peduli.


"Hoi, Sins. Bahkan anak-anak jauh lebih berguna darimu. Cepat ke sini dan bantu kami berburu!" teriak Sirca penuh kesal.


"Gak mau, merepotkan," balas Sins masih pada posisi nyaman.


"Ha? Siapa juga yang mau ikut. Sedari awal kau yang menyeretku ke sini!" balas Sins meninggikan suaranya.


Sins dan Sirca semakin meninggikan suaranya, menarik perhatian beberapa monster di sekitarnya. Mera mencoba untuk menenangkan mereka berdua, sedangkan anak-anak malah semakin memprovokasi mereka.

__ADS_1


"Haha ... sudah-sudah. Biarkan saja Sins bersantai. Toh, nantinya dia juga yang paling bisa diandalkan ketika semuanya dalam bahaya," lirih Mera tertawa kecil mencoba menenangkan situasi.


"Ha!?"


"Bocah kurus sepertinya mana bisa diandalkan!" tegas Sirca.


"Maaf, ya. Aku memang tidak bisa diandalkan. Tidak seperti wanita barbar di sana,", balas Sins dengan raut wajah mengejek.


Sins yang biasanya selalu tenang dan dingin, kini berubah semenjak kehadiran Sirca dan kelompoknya. Dia yang biasanya tidak menunjukkan emosi apa pun, malah yang paling aktif sekarang.


"Siapa yang kau sebut wanita barbar? Dasar tengkorak hidup!"


"Ho ... siapa lagi kalau bukan kau, Nenek Keriput!"

__ADS_1


Sins dan Sirca semakin menjadi, saling mengejek satu sama lain. Barrack yang sudah tidak tahan lagi akan sikap mereka, langsung mendekat dan memukul mereka agar lebih tenang. Karena itu, suasananya semakin panas dan berisik.


"Ha ... kalian ini. Bersemangat dan saling menyayangi itu boleh-boleh saja. Tetapi, berkat kalian bertiga kita kedatangan banyak sekali tamu," lirih Killa menjadi penengah sembari menunjuk ke arah gerombolan monster yang saat ini tengah mengepung mereka.


__ADS_2