
Semakin banyak waktu yang dilalui bersama, hubungan antar keduanya pun semakin erat. Felicia yang sebelumnya selalu memasang wajah sedih, sudah mampu tertawa lagi. Akan tetapi, Sins masih terus memainkan perannya, berpura-pura menjadi orang yang baik.
Bertepatan di Kota Arvinci wilayah dari seorang Baron baik hati. Wilayah-wilayah merupakan yang paling damai dan makmur, di mana seluruh ras bisa hidup dengan bebas tanpa memikirkan status. Kerajaan Selatan, Arvistia, merupakan sebuah kerajaan yang terkenal akan penguasa kejam.
Hampir seluruh pengikutnya menjunjung tinggi kekuatan, dan hanya yang memiliki status dan kekuatan saja yang bisa bertahan hidup di sana. Selain itu, Kerajaan Arvistia merupakan salah satu kerajaan yang paling tua, bahkan telah berdiri lebih dari 300 tahun.
Pada awalnya, itu merupakan kerajaan yang indah, di mana seluruh ras termasuk iblis bisa hidup di dalamnya. Seluruh wilayah dipenuhi tawa dan bahagia setiap harinya, tak pernah ada yang namanya pencurian ataupun pembunuhan. Namun, entah sejak kapan semua berubah. Kerajaan yang dulu dipenuhi tawa dan cahaya, berubah menjadi wilayah yang hanya menginginkan harta dan kekayaan semata.
Kini, Sins hidup sebagai seorang petualang biasa bersama dengan seorang teman yang bisa dipercaya. Di wilayah Baron Elfistia, mereka bisa berjalan dengan bebas tanpa perlu takut akan apa pun. Sins pun menikmatinya hidupnya yang sederhana itu.
Ketika berjalan di tengah kota, anak-anak menghentikannya. Pedang dan perisai kayu di arahkan pada Sins, dan dengan penuh semangat mereka langsung menyerangnya. Sins langsung menundukkan kelima anak itu, dan tertawa meremehkan mereka.
__ADS_1
"Haha ... masih butuh 300 tahun lagi untuk kalian bisa mengalahkanku," ejek Sins sembari tertawa di depan anak-anak itu.
"Arghh ... lihat saja, lain kali aku pasti akan mengalahkanmu, Sins!" teriak anak bernama Verry.
"I-iya, kami pasti akan mengalahkanmu," imbuh anak bernama Circus.
Ketiga anak lainnya pun mengangguk setuju, dan seorang anak perempuan bersembunyi di belakang Felicia. Meraka adalah anak-anak nakal yang selalu mengganggu warga sekitar. Namun, entah bagaimana mereka bisa menjadi sangat dekat dengan Sins dan Felicia.
Selain itu, di antara kelima anak itu, hanya Ana sajalah yang paling dekat dengan Felicia dan selalu bersembunyi di belakangnya. Sins mulai berubah semenjak bertemu dengan Felicia dan anak-anak itu, bahkan kini ia lebih sering tertawa.
"Ka-kakak. Bagaimana Kakak bisa melihat?" tanya Ana penasaran.
__ADS_1
"Iya, aku selalu penasaran. Apa yang terjadi pada matamu, Sins? Bagaimana kau bisa bergerak dengan bebas, padahal matamu saja tertutupi oleh kain?!" tanya Verry tanpa sedikit pun rasa hormat.
Sins hanya tersenyum, dan selalu mengabaikan pertanyaan mereka yang berkaitan dengan matanya.
"Dengan mana," balas Sins.
"Kakak, apa kau mau pergi berburu?" tanya Arka penasaran.
"Tentu, mau ikut?" balas Sins lagi.
"Iya!" teriak mereka serentak penuh semangat.
__ADS_1
Sins dan Felicia tertawa kecil melihat semangat dan tingkah mereka yang lucu. Anak-anak itu sudah sering ikut bersama Sins dan Felicia untuk berburu beberapa monster di pinggiran kota, dan tentu saja mereka pun diberikan ajaran yang berguna.