
Masih di bawah atap sederhana, semua orang tengah menikmati kegembiraan. Melewati malam dengan penuh bahagia, yang harusnya dingin menjadi hangat seketika. Ketika fajar tiba, hanya ada Sins dan Mera yang masih berjaga. Sins ke luar sejenak untuk menghirup udara segar, diikuti Mera di belakangnya.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Sins pada pria berambut kuning.
"Ayolah, aku juga punya nama. Sesekali panggil aku dengan namaku," balas Mera. "Haa ... sudahlah. Sins, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" imbuhnya kemudian.
"Sesukamu saja. Sekalipun kularang, kau tetap akan menggangguku," balas Sins menatap langit bersalju.
"Aku sedikit penasaran mengapa ada seseorang yang tidak dikenali oleh siapa pun hidup sendirian di tempat yang sudah jelas kekurangan bahan makanan. Belum lagi ... setiap kali kami ke sini, tidak ada satu pun monster yang terlihat. Siapa sebenarnya dirimu, Sins?" tanya Mera penasaran dengan sorot mata serius.
"Hmm ...." Sins hanya bersikap acuh tak acuh padanya, dan terus memandangi langit.
"Baiklah, kalau kau tidak ingin menjawabnya. Tapi ... ada satu hal yang selalu terpikirkan olehku. Apakah kau ... juga salah satu dari kami?" tanya Mera.
__ADS_1
Kali ini Sins sedikit penasaran, bahkan dia langsung menatap ke arahnya.
"Kami? Apa maksudmu?"
"Ternyata bukan, ya? Kupikir kau salah satu dari Player Arcadia," lirih Mera mengembuskan napas dalam.
"Hmm ...." Sins kembali pada posisinya, memalingkan wajah, menatap langit tanpa bintang. Sementara itu, Mera kembali ke dalam rumah. Matanya seolah menunjukkan kesan kecewa, seakan-akan mengharapkan sesuatu yang besar dari Sins.
Player, ya? Sudah lama aku tidak mendengar sebutan itu. Sepertinya mereka sudah benar-benar menyatu dengan dunia ini.
"Yang benar saja, apa mataku tak salah lihat?" kata Sirca.
Mereka semua terkejut dan termenung melihat Sins yang tengah menguliti dan memotong-motong tubuh monster.
__ADS_1
"Hmm ... cepat kemari, dan potong semua ini. Setelah itu pulang dan berhentilah menggangguku, terlebih lagi para anak kecil ini!" titah Sins sembari melemparkan sebuah kapak besar ke arah Barrack.
Mereka masih termenung, tak tahu harus berkata apa. Masih tersirat rasa tak percaya, lebih tepatnya enggan.
"Bu-bukankah itu Beruang Cakar Besi? Monster yang berada di kelas B, bahkan A?Ba-bagaimana caramu bisa membunuhnya?"
Tirto yang biasanya diam, kini membuka kata dan mengajukan sebuah pertanyaan. Namun, jawaban yang diberikan Sins sungguh membuatnya tidak puas bahkan kebingungan.
"Tidak sulit. Aku hanya mengayunkan pedang sekali, dan dia langsung mati."
"Ya-yang benar saja! Apa kau ini monster? Mana ada yang bisa membunuhnya hanya dengan sekali serang. Beruang Cakar Besi dikategorikan dalam peringkat B ke atas bukan tanpa sebab. Melainkan karena kulitnya yang keras dan kekuatannya yang begitu mengerikan, bahkan yang dewasa bisa menghancurkan sebuah kota," jelas Tirto yang masih enggan untuk percaya.
Barrack dan Mera hanya menghela napas dalam, kemudian menepuk pundak Tirto hampir bersamaan. Sementara itu, anak-anak malah terlihat sangat bersemangat dan terus memuji-muji Sins. Mereka berlari memutari Sins sembari berteriak dan tertawa.
__ADS_1
"Oh iya, jangan lupa juga untuk membawa barang rongsokan di dalam. Setidaknya itu lebih baik dari senjata di tangan kalian," lirih Sins masih sibuk memotong daging monster. "Hei, bocah! Bisakah kalian diam sehari saja!?" imbuh Sins kesal.