
Taman Odori, Hokkaido—2 Maret 2075
Pada salah satu taman terindah di Jepang, sebuah gerbang muncul dan menciptakan ketakutan. Beberapa kelompok hadir untuk mencegah gerbang itu terbuka dan mengeluarkan gelombang monster. Kelompok berisikan sekitar 35 orang, kelompok itu dipimpin oleh Yui Auriel.
Beberapa kelompok lain yang cukup terkenal pun ikut turut, demi sebuah nama dan harta. "Hoi, hoi, hoi. Coba lihat, bukankah ini Nona cantik yang terkenal itu? Apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia berpikir kalau kita akan mengadakan kontes kecantikan?" ejek seorang warrior.
Warrior itu memiliki mata hitam, rambut merah pendek berantakan, dan pakaian yang cukup modis. Kapan besar di punggungnya ditambah postur tubuh kekar, membuatnya terlihat sangat sangar. Sementara dia terus mendekat dari belakang seraya terus mengejek, Yui hanya bersikap acuh tak acuh.
Namun, tidak dengan bawahannya. "Apa yang kau katakan! Beraninya kau menghina Guildmaster!" tegas Violet yang seorang magician.
Warrior itu berada dari kelompok bernama Scarlett Phantom, dan salah satu anggota yang pangkatnya hanya di bawah wakil guildmaster. Seorang warrior yang terkenal akan kebengisannya, Sirkuis atau yang lebih dikenal sebagai Penjagal Gila. "Ho ... aku tidak berbicara padamu!" balas Sirkuis menatapnya tajam dengan niat membunuh yang kuat.
Violet langsung terdiam, bahkan terlihat ketakutan. "Yui, daripada kau menunggu pria yang tak jelas asal-usulnya, aku menyarankanmu untuk tidur denganku saja,", imbuh Sirkuis terkekeh.
__ADS_1
Yui kini menoleh ke arahnya, karena kesal mendengarkan ocehannya. Katanya, "Gerbang ini berada di peringkat A, atau mungkin lebih. Berhati-hatilah di dalam, jangan sampai terbunuh!"
Mendengar kata-kata itu, Sirkuis langsung terdiam dengan keringat dingin menetes perlahan. Akan tetapi, tak berselang lama kemudian, dia kembali mengejek Yui dengan berbagai macam bahasa.
Namun, sebuah variabel tak terduga muncul. Razel datang untuk berpartisipasi dalam penyelesaian gerbang, tentu saja tujuan utamanya adalah melindungi keluarganya. Dia menepuk pundak Sirkuis, sembari tersenyum dia mengatakan beberapa patah kata. "Yo, ada baiknya untuk diam, karena terlalu banyak bicara juga tidak baik," lirih Razel.
"Ka-kau! Siapa kau berani men–eh?! Tu-Tuan Razel? Ma-maaf atas perka—"
"Hahaha ... santai saja. Tetapi ... hati-hati selama menjelajahi gerbang, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi," sela Razel sembari tersenyum dan mendekati Yui perlahan.
"Hahaha ... selain kau tidak ada yang berani memanggilku seperti itu," balas Razel tergelak. "Tampaknya kau dalam kesulitan, ya Yui. Selain itu, kenapa kau diam saja ketika dihina? Tak seperti dirimu saja," imbuhnya.
"Aku terlalu malas berurusan dengan mereka. Dan perlu diingat, aku yang di dunia itu dan diriku yang sekarang, adalah dua orang yang berbeda," balas Yui lagi dingin.
__ADS_1
Diriku yang kalian kenal, sudah lama tiada.
"Hmm ... apa perlu kubantu untuk membereskan mereka?" tanya Razel sembari menunjuk ke arah Sirkuis.
"Jangan ada darah yang tumpah secara sia-sia. Mau seperti apa pun sikap mereka, mereka masihlah seorang hero yang dibutuhkan oleh negara ini," lirih Yui menatap Razel.
"Tcih."
"Apa kau tidak menyukainya, Pak Tua?"
"Tidak-tidak! Mana berani aku melakukan itu," kata Razel. "Ayo, sebentar lagi gerbang akan dibuka," imbuhnya.
"Hmm ... apa kau juga akan berpartisipasi?"
__ADS_1
"Tentu, kenapa tidak? Sekalian jalan-jalan," balas Razel melangkah memasuki gerbang.