
Sebuah esensi kehidupan terkonsentrasi pada dua titik—satu mengikuti penjaga dungeon dan satunya lagi terfokus pada sekitar Razel—menciptakan sebuah fenomena. Mana yang terkonsentrasi pada penjaga dungeon, menciptakan ledakan cahaya dan menjulang tinggi menembus angkasa, meluluhlantahkan sekitarnya.
Sementara itu, mana di sekitar Razel malah berubah menjadi sebilah katana. Cahayanya begitu indah menyilaukan mata, membelah segala hal yang menghadang jalannya. Sebelum kembali tak sadarkan diri, Yui sempat mengucapkan beberapa patah kata, walaupun suaranya enggan terdengar.
Sempat bingung memenuhi isi kepala, memberikan beban berlebihan kepada dirinya. Seolah pedang itu adalah bagian dari tubuhnya, ia dapat memaksimalkan kekuatannya. Hanya butuh satu ayunan, seluruh kabut menghilang untuk sejenak.
Menggunakan satu tangan, Razel memasang kuda-kuda menyerang. Katanya mengarah ke depan, kembali memejamkan mata. Demikian juga dengan si penjaga, dia mengeram menatap Razel. Matanya dipenuhi niat membunuh dan rasa benci yang mendalam. Keduanya tahu, bahwa satu serangan adalah penentu kemenangan.
Tak peduli siapa pun yang mati, mereka sama sekali tidak akan merasa senang. Razel mengerahkan semua tenaga yang tersisa, mencurahkan segalanya pada serangan itu. Sedikit pun tidak terasa sebuah kebencian, apalagi niat membunuh. Sebaliknya, perasaan hangat dan cinta kasih berkumpul di ujung pedangnya.
Demikian dengan si penjaga, sekali pun tubuhnya penuh dengan luka, ia tak menyerah. Tubuhnya berubah warna menjadi kemerahan, menciptakan sebuah tekanan yang teramat mengerikan. Ia meminjam energi kematian—iblis—dari sekitar, membuatnya kehilangan akal.
__ADS_1
"Roarrr!" Begitu suara raungan terdengar, kedua pihak mulai menyerang. Cahaya hitam kemerahan dan garis keemasan terlihat cukup jelas ketika kedua serangan telah selesai diberikan.
Keduanya berdiri untuk sejenak, hingga akhirnya dampaknya mulai terlihat. Dua buah cakaran hampir membunuh Razel—darah bercucuran bak hujan—membuatnya langsung terkapar. Di sisi lain, monster harimau itu terlihat berdiri tegap, wajahnya seperti tersenyum.
"Roaarr!" Kembali ia meraung, sebelum akhirnya tubuhnya terbelah menjadi dua dan menciptakan hujan bewarna merah cerah. Seluruh kabut benar-benar menghilang, cahaya surya perlahan kembali, dan pepohonan mulai menumbuhkan dedaunan hijau. Sebelum Razel benar-benar kehilangan kesadaran, dia berusaha mendekati Yui.
Samar terdengar suara yang tak asing di telinga, dan beberapa bayangan pun ikut terlihat hingga akhirnya pandangannya benar-benar menjadi gelap gulita.
"Tenanglah, sekarang sudah aman. Nona Saint tengah beristirahat di sana."
Seorang perawat yang tak dikenal, langsung mencoba untuk menenangkannya. Razel bertanya tentang di mana dirinya saat ini, sembari terus memperhatikan sekitar. Hatinya pun sedikit lega, karena Yui terbaring di atas kasur tepat di sebelahnya, walaupun sedikit terlihat kecemasan di wajahnya.
__ADS_1
"Saat ini kalian ada di ruang perawatan Black Crow. Ketua sendiri yang membawa kalian ke sini untuk dirawat secara pribadi oleh grup," lirihnya sembari tersenyum. "Oh, iya. Perkenalkan, nama saya Olivia Erza, seorang Priest pemula," imbuhnya tersenyum.
"Black Crow? Ketua? Tunggu! Ketua yang kau maksud ... apa itu Cloud?" tanya Razel mencengkeram pundak perawat itu, membuatnya sedikit merasakan sakit.
"Eh, ba-bagaimana kau tahu? Apa kalian saling mengenal?" Balik Olivia bertanya.
"Dimana dia sekarang?"
"Ketua, dia ... kami tidak tahu di mana dia sekarang. Selepas membawa kalian, dia langsung pergi entah ke mana," lirih Olivia.
Olivia dengan lembut menjelaskan apa yang telah terjadi, bahkan memberitahu bahwa mereka telah tertidur lebih dari 1 Minggu.
__ADS_1