The Heaven

The Heaven
043


__ADS_3

Setibanya di alun-alun kota, ia sedikit terkejut melihat seorang baron yang ternyata berusia 20 tahun. Semua orang yang ada di sana mendengarkan dengan saksama. Namun, di tengah pidatonya, Sins merasakan aura membunuh yang tertuju pada baron.


Seorang pria yang ditemuinya di tempat makan sebelumnya lah yang melakukan hal itu. Dengan tergesa-gesa, Sins langsung melompat ke udara tepat ketika sihir bola api dilepaskan.


"Menunduk!" teriak Sins memperingati semua orang.


Menggunakan kemampuan blackmist dan elemen manipulasi, dia menciptakan sebilah pedang menggunakan elemen air. Sins membelah sihir bola api itu dengan sedikit usaha, menciptakan kembang api di udara. Karena efek ledakan, dia terpental dan beruntung mendarat tepat di samping Baron Elfistia.


Serangannya tak berhenti hanya sampai di situ. Kali ini, lima sihir bola dari lima elemen dasar melesat ke arah baron. Sins mencoba untuk menahan seluruh serangan itu sembari mencoba untuk menyembunyikan kemampuannya. Felicia yang juga ada di sana, mencoba untuk membantu di tengah kerumunan masa yang tengah dalam keadaan panik.


Namun, entah mengapa dia tak dapat menggunakan keterampilan memanahnya, seolah-olah saja kemampuannya tersegel.

__ADS_1


"Percuma, di bawah pengaruh sigril, seluruh keterampilan tidak akan bisa digunakan. Jadi, diam dan lihat saja pertunjukan ini," lirih pria itu yang tiba-tiba telah berada di belakang Felicia sembari mengarahkan senjatanya.


Di bawah pengaruh keterampilan milik pria itu, Sins juga tak dapat mengaktifkan keterampilannya—anti magic. Dengan tenang dia mengamati situasinya, dan mendapatkan sebuah kesimpulan.


Hmm ... jadi begitu. Jika skilku adalah menghilangkan dan menyegel mana dan sihir, maka skil miliknya adalah meniadakan keterampilan yang tidak berkaitan dengan sihir. Menarik, batin Sins sembari tersenyum.


Sins terdiam untuk sejenak, perlahan mana tubuhnya diselimuti oleh cahaya dan kegelapan. Kedua pedangnya menghilang, digantikan dengan belati hitam dan putih.


Sins hanya tersenyum, dan secara tiba-tiba menghilang.


"Bodoh! Kalau begini ak–teleportasi, 'kah?" ucapnya sedikit berkeringat dingin. "Tidak. Kurasa itu bukan teleportasi. Karena jika memang kau menggunakan teleportasi, mustahil ada jeda," imbuhnya menyadari trik Sins.

__ADS_1


Belati Sins kini telah berada di leher pria itu, tetapi sedikit pun dia tidak terlihat ketakutan. Tawa keras terdengar dari arah yang berlawanan, dan di saat yang hampir bersamaan sosok di depan Sins perlahan memudar. Sins masih tetap bersikap tenang, karena tujuannya bukanlah bertarung, melainkan menyelamatkan rekannya.


"Namaku Hiyori, Hiyori Astri. Siapa namamu, aku sedikit tertarik. Setidaknya biarkan aku mengetahui namamu sebelum aku membunuhmu," ucap Hiyori yang kini telah berpindah lagi di belakang Baron Elfistia.


Hiyori menodongkan sebuah pistol tepat di kepala Baron Elfistia. Para pengawalnya hanya bisa terdiam, tak dapat mengikuti pergerakan lawannya, belum lagi karena pemimpin mereka yang kini telah menjadi sandera.


"Apa yang kau inginkan dengan membunuhnya?" tanya Sins.


"Hei, hei, seharusnya kau menjawab pertanyaanku, sebelum balik bertanya. Sela—"


"Apa kau berniat menghancurkan kedamaian kota ini?" sela Sins lanjut bertanya.

__ADS_1


"Arghh ... kau membuat kepalaku sakit! Jika memang iya, apa hubungannya denganmu!" balas Hiyori yang terlihat sangat kesal.


__ADS_2