
Melodi kematian terdengar begitu indah, ribuan orang menari di bawah hujan panah, dan jutaan nyawa menghilang dalam satu malam. Hanya seorang pria yang menjadi saksi dari sebuah malapetaka. Dia terus memperhatikan dari angkasa seraya menggendong seorang wanita.
Semoga di kehidupan selanjutnya kalian semua akan melakukan perbuatan bajik, batin Sins pergi menjauh.
Sins terus terbang tanpa arah, dan berhenti di pedalaman Hutan Surya, surga bagi para monster. Sins mendirikan sebuah rumah menggunakan sihir miliknya. Sins membaringkan wanita itu di atas ranjang, menatapnya untuk sejenak.
Gadis malang. Health, batin Sins.
Seluruh bekas luka di tubuh Elf itu langsung menghilang. Dia tertidur dengan lelap, sementara Sins di luar memandangi langit malam sembari berjaga. Selepas puas memandangi langit berbintang, dia kembali membalut matanya menggunakan kain putih berlapis. Entah apa yang dipikirkan olehnya, semua tindakannya sangatlah kacau.
Baru sejenak ia merasakan ketenangan, puluhan monster langsung berlari ke arahnya. Sins hanya acuh tak acuh. "Haa ... merepotkan! Silent," ujar Sins.
__ADS_1
Sepasang pedang hitam dan putih muncul di kedua lengannya. Ia menari di antara puluhan monster, menciptakan kolam darah dalam satu malam. Di saat fajar datang, pertarungan pun berakhir dengan banyaknya tubuh monster berserakan. Sins mengambil salah satu monster di sana, untuk dijadikan bahan makanan.
Aku pernah dengar kalau daging dari Banteng Emas dan Badak Kulit Baja itu rasanya sangat enak dan sangat bagus untuk memulihkan orang yang terluka, pikir Sins mencincang tubuh kedua monster malang itu menjadi beberapa bagian.
Menggunakan keterampilan blackmist, Sins menciptakan beberapa alat memasak lengkap dengan kompornya. Menggunakan berbagai macam bahan yang dibeli sebelumnya, ia menciptakan berbagai macam hidangan nikmat. Setelah selesai memasak, dia dengan sengaja membawanya ke dalam kamar Elf yang tengah dalam perawatan.
Elf itu bernama Felicia Starlight, seorang Elf dengan kemampuan penyembuhan. Jelas Sins sudah tahu nama dan kemampuan Felicia, sebab sebelumnya dia telah membuka mata kanannya.
"Yo, pagi. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Sins lembut. "Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, semoga kau menyukainya," imbuhnya menunjuk ke arah meja di dekatnya.
Felicia langsung siaga dalam posisi bertarung, bahkan matanya terlihat sangat tajam. Namun, setelah memerhatikan sekitar dan mengingat tentang banyak hal, dia kembali tenang dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
Iya, benar. Aku adalah seorang budak. Orang ini pasti yang telah membeliku, batin Felicia gelisah.
Ada banyak hal dalam pikirannya, hingga membuatnya sangat gelisah dan ketakutan. Dirinya yakin bahwa kesucian telah direnggut oleh Sins, tepat di saat ia tak sadarkan diri. Namun, Felicia hanya bisa pasrah, karena seorang budak tidak akan pernah bisa menyerang tuanya.
Rantai atau kalung yang terpasang di tubuh seorang budak, memiliki kemampuan untuk melumpuhkan budak dan membuatnya merasakan sakit yang teramat gila jika memiliki keinginan untuk menyakiti tuannya.
Sins hanya tersenyum, kemudian menyuruh Felicia untuk makan. Dia jelas tahu apa yang dipikirkan oleh Felicia, dan mengatakan hal yang membuatnya kebingungan.
"Tenanglah, dan makanlah. Tubuhmu sangat kurus dan belum pulih sepenuhnya. Selain itu ... apa kau tidak malu memperlihatkan bagian sucimu kepadaku, Felicia?" tanya Sins sedikit menggodanya.
Wajah Felicia langsung merona begitu melihat pakaiannya yang begitu seksi, hanya menggunakan bikini, tanpa sadar kalau kalung budaknya telah hilang.
__ADS_1
"Haha ... maaf, aku hanya bercanda. Selain itu, kau tenang saja. Tidak ada racun dimakananmu dan kau sudah bukan lagi seorang budak, Felicia," lirih Sins tersenyum hangat.