
Sekitar jam 21.06 di sebuah ruangan yang sangat sunyi dan tenang dengan sebuah cahaya dari kobaran api obor sebagai media penerang serta suara dari berbagai macam hewan malam yang di temani oleh cahaya bulan sebagai teman dan musik alam.
Di dalam ruangan itu terdapat 1 orang anak laki-laki yang tengah duduk manis di atas sebuah ranjang dan tengah menatap dua orang gadis cantik yang saat ini tengah tertidur lelap di dekatnya dengan kursi sebagai media penyangga. Anak itu menatap sekitarnya dan kedua gadis itu dengan perasaan bingung, ia bertanya-tanya tentang kenapa dirinya bisa berada di sana dan kenapa saat ini seluruh tubuhnya merasakan rasa sakit.
"Arkh.." Anak itu sedikit merasa kesakitan di bagian kepalanya lalu secara perlahan dirinya menarik selimutnya dan berjalan mendekati jendela. Ia berjalan mendekati jendela seperti seorang mayat hidup yang tengah mengejar mangsanya, fisik anak itu saat ini masih sedikit lemah karena suatu kejadian tak terduga.
Ketiga anak itu tak lain dan tak bukan adalah Hikari, Bella dan Miya. Hikari jatuh pingsan dan tak sadarkan selama beberapa hari setelah kejadian di mana ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan karena hal itu juga ia hampir saja membunuh kepala sekolah izuki jika saja saat itu tak ada Lucifer yang membantunya untuk menenangkan dan menyegel kekuatannya itu.
**//**
Sebelumnya Miya begitu sangat cemas dan khawatir seketika melihat kalau hikari ketika itu di gendong oleh sasuke dan dibawa kerumah sakit untuk melakukan perawatan. Miya tanpa fikir panjang langsung mengikuti Sasuke keruang perawatan untuk menjaga dan melihat kondisi Hikari yang saat itu tak sadarkan diri, "Haa.... anak ini" ucap bella sembari menghela nafas dalam ketika melihat tingkah dan ekpresi wajah miya.
Miya terus merawat dan menjaga Hikari sembari bergantian dengan Bella. Beberapa hari berlalu tetapi Hikari tak kunjung sadar juga yang membuat Miya menjadi begitu sedih dan bahkan ia tak mau pergi ke sekolah serta lupa untuk memakan sarapannya hanya demi menjaga Hikari dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, "Haa..." Bella tak bisa berkata apapun dan hanya bisa menghela nafas dalam ketika melihat tingkah laku Miya yang begitu mengkhawatirkan Hikari.
**//**
"Indah" Seru Hikari sembari menatap langit malam dan bulan yang di temani bintang-bintang di angkasa yang terlihat begitu indah dan menawan. Hikari hanya bisa menatap keindahan langit malam dan di temani nyanyian melodi indah dari suara hewan malam tanpa bisa berkata-kata, ia terus menatap langit malam yang indah selama berjam-jam lamanya.
Miya pun secara tak sengaja terbangun dari tidurnya dan ia sedikit kebingungan ketika melihat kalau saat ini di tubuhnya sudah terdapat sebuah selimut yang begitu hangat tetapi di sisi lain ia menjadi begitu terkejut dan bahkan hampir saja berteriak ketika melihat kalau hikari sudah tak ada lagi ditempat tidurnya. Miya dengan perasaan takut dan khawatir langsung memperhatikan sekelilingnya untuk melihat dan mencari Hikari dan ketika ia melihat kalau hikari saat ini tengah berdiri di tepi jendela dan dengan tenang tengah memandangi langit malam, Miya pun langsung tersenyum dan membiarkan Hikari menikmati langit malam.
Miya merasa begitu senang dan merasa begitu lega ketika melihat kalau hikari saat ini telah sadarkan diri dan tengah memandangi langit malam. Bahkan, Miya hampir saja meneteskan air mata bahagia dan syukur karena Hikari telah sadarkan diri.
*Hmm... maaf ya, karena aku membuatmu terbangun!*
"Heum... tidak! tidak kok, kamu tak salah. memang akunya saja yang mau bangun" Miya tersenyum bahagia tetapi juga air matanya terlihat ingin menetes.
"Apa tubuhmu baik-baik saja? apa tak ada yang terasa sakit atau aneh?"
*Tidak kok, tubuhku baik-baik saja" ucap Hikari sembari tersenyum lembut.
"Apa kamu benar-benar yakin bahwa tak ada bagian tubuhmu yang merasakan sakit?" Miya sedikit khawatir.
*Aku baik-baik saja kok*
*Kenapa aku bisa berada disini? dan ruangan apa ini sebenarnya?* Hikari menatap Miya dengan ekpresi wajah bingung.
"Saat ini kita berada di ruangan medis sekolah izuki."
*Kenapa aku bisa berada di sini? Apa yang terjadi padaku?*
"Apa kamu tak ingat dengan apa yang terjadi sebelumnya?"
Hikari menggelengkan kepalanya yang menandakan bahwa dirinya tak ingat apapun sebelum ia bangun. Tetapi, hanya ada satu hal yang ia ingat bahwa dirinya merasa sangat kesal dan marah kepada kepala sekolah izuki karena telah membuat miya menjadi sedih dengan perkataannya itu.
"Baiklah, akan ku jelaskan kenapa kamu bisa sampai di sini" ucap miya sembari menjelaskan semua yang ia ketahui kepada hikari.
**//**
Beberapa jam telah berlalu dan akhirnya miya selesai menceritakan tentang apa yang terjadi dan bagaimana Hikari bisa sampai ada di ruangan ini. Hikari sedikit terkejut dan bingung ketika mengetahui bahwa dirinya telah berada di dalam ruangan medis itu dan tak sadarkan diri selama lebih dari 3 hari lamanya. Tetapi, ada satu hal yang membuatnya begitu kebingungan dan penasaran yaitu tentang bagaimana bisa dirinya dan kepala sekolah izuki tak sadarkan diri tanpa terluka sedikitpun padahal di ruangan tersebut semuanya begitu hancur dan begitu banyak goresan dan retakan seperti baru saja terjadi sebuah pertarungan di sana.
*Apa kau yakin bahwa di sana tak ada orang lain selain kami?* ujar hikari dengan ekpresi wajah dan sorot mata yang begitu serius.
"Eh.." Miya sontak terkejut ketika melihat ekpresi dari raut wajah dan sorot matanya Hikari yang kini terlihat begitu serius tetapi tenang. Miya sampai tak percaya jika yang di hadapannya saat ini adalah Hikari yang sama. karena, pasalnya Hikari sebelumnya selalu terlihat begitu kekanak-kanakan dan tak banyak bicara bahkan ekpresi wajahnya selalu terlihat begitu polos dan kebingungan.
*Apa yang miya lamunkan?*
"Eh! T-tidak, tidak ada apa-apa kok."
"Hikari tadi bertanya sesuatu kan? Kalau boleh tau apa yang kamu tanyakan sebelumnya?"
*Haa... aku hanya ingin bertanya dan memastikan apakah di sana tak ada orang lain selain kami berdua ketika kejadian mengerikan itu terjadi?*
"T-tidak kok, tidak ada orang lain lagi selain kalian berdua." Ucap Miya dengan raut wajah yang sedikit panik karena ia tak mungkin memberitahu Hikari bahwa semua itu adalah perbuatannya.
*Begitu ya? Aneh! Apa tak ada jalan masuk yang lainnya lagi selain dari pintu utama?*
Miya sekali lagi terkejut mendengar pertanyaan dari Hikari yang seperti menunjukkan bahwa dirinya bukanlah Hikari yang di kenal oleh Miya. "Tidak ada kok! tidak ada jalan lain selain di sana" ucap Miya.
*Hmm... Begitu ya?* ucap hikari sembari berbalik arah dan kembali menatap langit malam yang begitu indah.
*DI DUNIA INI HAL YANG PALING INDAH ADALAH DUNIA ITU SENDIRI! TETAPI, TANPA KEKUATAN KEINDAHAN ITU HANYA AKAN BERUBAH MENJADI KEHANCURAN* gumam Hikari sembari terus menatap langit malam dengan senyum indah di wajahnya.
"Eh?! A-apa tadi kamu berbicara sesuatu, Hikari?"
Hikari hanya menoleh ke arah miya sejenak dan memperlihatkan sebuah senyuman lembut ke arahnya tanpa mengatakan sesuatu. Miya menjadi sangat kebingungan dan ia sebelumnya jelas-jelas seperti mendengar kalau hikari mengatakan sesuatu tetapi karena Hikari bilang seperti itu, maka Miya pun hanya bisa percaya dengan apa yang di katakan olehnya.
**//**
PAGI HARINYA
**//**
__ADS_1
"Yosha .." Miya dengan penuh semangat kini tengah bersiap-siap untuk pergi memasuki kelasnya dengan niat dan tujuan menuntut ilmu.
"Hmm ... Ada apa? Kenapa sepertinya dirimu terlihat begitu bersemangat? Jangan bilang karena hari ini adalah hari di mana Hikari bersekolah dan memilih kelasnya?"
"Hehehehe... Bisa aja lu tutup botol"
"Tu.. tu.. tutup botol? Anak ini. Siapa yang kau bi..."
"Awokwokwokwokwokeok..." Miya sembari tertawa dengan sangat keras langsung berlari keluar dari kamarnya dan langsung berlari menuju kelasnya.
"T-tunggu ... tunggu aku, dasar kau miya"
Miya dan Bella akhirnya mulai menuju ke kelas mereka masing-masing dan memulai semua persiapan untuk belajar sihir dan pedang demi menjadi seorang petualang yang hebat seperti yang mereka inginkan.
**//**
SEMENTARA ITU DI SAAT YANG BERSAMAAN DI DEPAN RUANGAN KEPALA SEKOLAH.
**//**
Suara langkah kaki dari seorang bocah yang tengah berjalan di sebuah lorong dengan tujuan untuk pergi ke dalam ruangan kepala sekolah. "Tap... Tap.. Tap.." Suara langkah kaki kian terdengar dengan sangat jelas dan semakin mendekati ruangan kepala sekolah. lalu, "Kreek" suara pintu yang secara perlahan mulai terbuka dan kemudian terjadilah sebuah percakapan.
"Hmm... Cepat juga kamu sampainya bocah."
"Benar, bukankah ini beberapa jam lebih awal dari waktu yang di janjikan?"
*Begitu ya? Ya sudah, saya pulang dulu mau lanjut tidur* ucap Hikari dengan ekpresi wajah bingung dan langsung berbalik arah.
Hikari dengan ekpresi wajah polos dan datar dengan perasaan bingung dan juga kesal langsung berbalik arah dengan tujuan untuk kembali ke kamarnya yang telah di siapkan oleh pihak sekolah untuk semua murid yang ada karena kehadirannya yang tak inginkan oleh kepala sekolah Izuki dan wakilnya Sasuke.
"Tunggu sebentar bocah. Karena dirimu sudah berada di sini, setidaknya duduk sebentar karena ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan kepadamu" Ucap kepala sekolah Izuki dengan ekpresi wajah serius.
Hikari pun berbalik badan ketika mendengar ucapan dari kepala sekolah Izuki lalu dengan ekpresi wajah polos dan tak berdosa ia pun berkata, *Saya?*.
"Bukan! anak tetangga sebelah rumah!" Kepala Sekolah Izuki mulai merasa kesal.
"Ohh... yaudah, saya mau kembali tidur dulu kalau gitu. permisi pak"
"Ya kamulah! masak orang lain?"
*Tadi katanya anak tetangga sebelah rumah bapak kepala sekolah? bagaimana sih?*
"Haa... sabar-sabar..." Kepala sekolah Izuki mencoba untuk bersabar dan mulai mengelus-elus dadanya.
"Haaa.... Sudahlah. Cepat kemari dan duduk disini lalu segara jawab pertanyaanku"
*Sekarang?*
"Bukan, tahun depan!!" Teriak Kepala Sekolah Izuki dengan perasaan kesal.
"Sabar bree.. sabar! Hikari hanya anak kecil, jangan marah. Ingat kamu adalah kepala sekolah di sini dan ingat tentang prinsip dan moto kita" Sasuke mencoba untuk menenangkan Kepala Sekolah Izuki.
"Haa..... Benar katamu, aku harus bersabar. Sabar.. Sabar..."
*Kok gitu sih? Katanya tahun depan? tetapi kenapa malah di suruh duduk dan menjawab pertanyaan sekarang? Hikari gak bisa di giniin!*
"Et dah ni bocah! Pengen gue tampol" Ucap Kepala Sekolah Izuki dengan ekpresi wajah yang sangat kesal.
Sasuke hanya bisa tertawa terbahak-bahak ketika melihat tingkah konyol Hikari dan melihat Kepala Sekolah Izuki yang tengah mencoba untuk menahan amarahnya.
"Haa... Parah banget ni bocah! Ketemu di mana sih mereka? Kok bisa-bisanya mereka tahan dengan bocah yang begitu aneh dan menyebalkan ini?" Gerutu Kepala Sekolah Izuki.
*Saya?*
"Wahai penguasa ruang dan waktu bi...." Ucap Kepala Sekolah Izuki sembari melafalkan mantra sihir miliknya.
"Tahan Ki, tahan! Dia masih anak-anak, tahan!" Sela Sasuke dan mencoba untuk menghentikan kepala sekolah izuki yang tengah melafalkan mantra sihir miliknya untuk menyerang Hikari.
Kepala Sekolah Izuki menjadi sangat kesal bahkan ia hampir saja menyerang dan melukai Hikari jika tidak di halangi oleh Sasuke. Hikari hanya bisa menatap Sasuke dan Kepala Sekolah Izuki dengan ekpresi wajah polos dan bingung lalu bertanya tentang apa yang tengah mereka berdua lakukan, *Jika tak ada yang ingin kalian katakan, maka baiklah. Biarkan aku pergi tidur. Membuang-buang waktuku saja* ucap Hikari dengan angkuh dan sombong.
"Sring!!" Kali ini Sasuke yang menjadi sangat kesal dan marah ketika melihat tingkah sombong Hikari bahkan tapa fikir panjang ia langsung menarik keluar pedang panjang miliknya dan berniat untuk menebas Hikari.
"Sabar Sasuke, sabar! Ini anak murid kita, sabar!" Kepala sekolah Izuki berusaha menahan agar Sasuke tak melukai Hikari.
"Gak bisa bree .... Habis ni bocah ngeselin banget! Pengen bad dah saya nebas ni bocah"
"Sabar Sasuke, tahan. Coba tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan dari mata secara perlahan"
"Hembuskan dari matamu!"
"Bukan, matamu Sasuke!"
__ADS_1
"Matamu?"
"Iya, matamu."
"Mataku?"
"Iya, dari matamu... matamu... matamu.. ku me..."
"Bodoh amat! Lama-lama gue tebas juga lo bree."
"Hehehehe ... "
"Hehe.. hehe ... Gue tebas, tau rasa lo"
"Lu nantangin gue?"
"Siapa yang nantang?"
" lah itu tadi?"
"Itu apa?"
"Itu, tadi. Yang bilang mau nebas gue?"
"Lah, terus? Apa gue harus bilang uwaw gitu?"
"Nantangin ya?"
"Bodoh amat!"
Dan terjadilah sebuah perkelahian yang di lakukan oleh kepala sekolah dan wakil kepala sekolah di dalam ruangan kepala sekolah. Hikari yang melihat perkelahian antara dua orang dewasa hanya bisa bengong dan bingung tanpa bisa berkata-kata.
*Hmm.. asik ni? Ada tontonan*
*Tapi keknya kurang asik deh kalau hanya beradu mulut? Mending saya kasih sedikit bumbu aja ah*
Lalu Hikari dengan akal bulusnya mulai beraksi, ia secara perlahan mulai mengeluarkan kata-kata mutiara untuk mengadu domba Kepala Sekolah Izuki dengan Sasuke agar mereka bertarung.
Hikari terus saja menambahkan minyak pada api dan ketika mereka sudah bertengkar, Hikari malah kabur dan kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur panjangnya. Hikari tertawa terbahak-bahak ketika membayangkan akan seperti apa jadinya pertarungan mereka berdua, Karena baik itu Kepala Sekolah Izuki ataupun Sasuke mereka sama-sama kuat dan mantan petualang rank $.
Setelah ia selesai membuat Kepala Sekolah Izuki dan Sasuke bertengkar, Hikari pun langsung pergi dari sana karena ia tak mau menjadi tersangka atau korban. Ia Bergegas untuk kembali ke kamarnya dengan tujuan untuk beristirahat sambil berpura-pura tak tahu dengan apa yang terjadi ataupun dengan apa yang ia lihat sebelumnya.
**//**
DI SAAT YANG BERSAMAAN
**//**
Di alam yang berbeda dengan dunia Hikari. Di alam itu semuanya tampak begitu indah namun mengerikan, Semua pepohonan dan tumbuhan hidup tetapi juga mati, Semua hewan dan mahluk hidup tetapi tak hidup. Iya! Itu adalah alam di mana yang mati tetapi tak mati dan yang hidup tetapi tak hidup.
Perbatasan antara alam kematian dan kehidupan adalah sebuah alam yang hanya bisa di datangi oleh dewa ataupun iblis tingkat tinggi dan di sana saat ini tengah berdiri 7 orang Iblis dan satu Dewi. Iya, ke-7 iblis itu adalah Pangeran Neraka dan dewi itu adalah Eirene Sang Dewi Kedamaian.
Mereka berkumpul di sana untuk mengamati Hikari dari kejauhan dan mereka selalu saja memperhatikannya karena Hikari adalah harta yang harus mereka jaga. Karena apa? Karena hanya Hikari saja yang memiliki potensi lebih besar untuk dapat menyelamatkan dunia yang saat ini tengah di tinggalin olehnya itu.
"Hee... " Tatap ke-6 Pangeran Neraka dan Dewi Eirene kearah Lucifer dengan tatapan mata aneh dan jijik.
Lucifer sontak terkejut dan langsung berkata, "Apa-apa dengan tatapan mata kalian itu?".
"Hmm...." Mereka hanya menatap Lucifer.
"Aku tak melakukan apapun pada Hikari. Aku kemarin hanya menyegel kenampuannya saja, tidak lebih kok! Sumpah."
"Hmm.... mencurigakan"
"Benar!" Ucap keenam pangeran neraka secara bersamaan sembari terus menatap Lucifer.
****NTR*
SARAN NOVEL RINGAN YANG ENAK DI BACA JIKA ADA PAKET DATA.
PERINGATAN.
INI NOVEL UNTUK DI BACA KARENA BUKAN KOMIK YANG PENUH DENGAN GAMBAR.
Nama Pena: Felisha Hana
Judul Novel: Sweet Fantasy
Genre: Fantasi, Romantis, Time-Travelled
Sinopsis: Kisah apa yang tersembunyi di dalam novel yang ditulis oleh kakak lelaki Hasper Laurensya Veranichii, Andreas Lauren Venichii? Apakah Time-Travelled benar-benar ada? Mengapa Haspy dan Neca bisa terdampar ke masa lalu dan harus pulang menggunakan sebuah portal di tempat terpencil bernama Kuil Utara***?
__ADS_1