
Sins mengajarkan dan menjelaskan banyak hal kepada mereka, dan menghabiskan sepanjang hari hanya untuk menemaninya. Sins mungkin memang berperan sebagai seorang petualang, tetapi ia tak terikat ataupun mengikuti suatu organisasi. Ia berpetualang hanya untuk kesenangan.
Malam harinya, Sins pergi ke dalam hutan jauh di luar wilayah Baron Elfistia. Di bagian utara dari wilayah Baron Elfistia, Sins merasakan suatu mana yang sangat mengganggunya. Seakan-akan ada seseorang yang memintanya untuk datang ke sana.
Hutan yang beri nama sebagai Kuburan Para Iblis—Sins tanpa takut memasuki wilayah inti—karena rasa penasaran. Ratusan pohon menjadi hal biasa di sana, bahkan sedikit pun tak terlihat pemandangan lainnya.
Aneh, kenapa dari tadi aku tidak mendengar suara hewan? pikir Sins sembari memerhatikan sekeliling.
Hampir setengah jam Sins berkeliling hutan, tetapi ia tak menemukan satu pun monster. Jelas baginya itu adalah hal yang aneh, karena pada dasarnya hutan itu tak mendapatkan julukan tanpa sebab.
Haa ... terserahlah. Pulang saja lah, batin Sins.
__ADS_1
Dia terus terjaga hingga fajar menyapa. Dari setibanya di penginapan, tak pernah sekalipun matanya berpaling dari angkasa. Begitu banyak kegelisahan yang tak pernah mampu diungkapkan.
Di saat yang bersamaan, Felicia sedikit merasa kebingungan melihat rekannya sudah tak ada di ranjangnya. Matanya berkeliling untuk sesaat, sembari mengumpulkan jiwa yang terpencar. Ketika di ruang tamu, matanya sedikit terbelalak melihat Sins yang tengah terpaut pada sang surya.
"Ngapain, Sins?" tanya Felicia.
Sins hanya tersenyum, mendekatinya lekas mengusap pucuk kepalanya. Senyuman itu terlihat begitu tulus, tak seperti dia biasanya.
Matanya yang membesar dan pose yang begitu indah, membuatnya terlihat sangat imut, hingga Sins tak dapat menolak keinginannya. Dia begitu gembira, bahkan tergesa-gesa membawamu ke sana. Tawanya lebih indah dari biasanya, dan semangatnya sangat membara.
Setibanya di sana, Sins masih tampak biasa saja. Hingga ketika melihat menunya, dia terlihat sangat terkejut dan langsung memesan sebuah minuman bersoda—cola. Begitu minumannya tiba, Sins langsung mencobanya tanpa berbicara. Ekspresinya terlihat begitu gembira.
__ADS_1
"A-ada apa, Sins? Ke-kenapa dengan ekspresimu itu?" tanya Felicia yang sedikit ketakutan melihat tawa gila Sins.
"Aku pesan 3 cola lagi!" teriak Sins penuh semangat.
Pikirannya masih tak karuan, tetapi tetap diam karena sangat jarang dirinya bisa melihat Sins mengekspresikan isi hatinya. Ikatan mereka semakin kuat, bahkan sudah bisa saling memahami tanpa berbicara. Sins memesan semua menu, dan menyantapnya dengan lahap. Perutnya membesar, dan wajahnya tak henti memperlihatkan rasa bahagia.
Seseorang terus memerhatikan sedari mereka tiba di sana, dan hanya Sins saja yang menyadarinya. Namun, karena Sins tak merasakan niatan jahat darinya, dia hanya diam. Di sisi lain, Sins juga jelas tahu jika orang yang membuat hidangan itu kemungkinan besar merupakan seorang player sama seperti dirinya.
"Bagaimana, apa kau menyukainya, Sins?" tanya Felicia tersenyum.
Sins hanya menganggukkan kepala, dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Di saat tengah bersantai, para tentara meminta semua orang untuk berkumpul di alun-alun kota dengan segera, karena baron akan memberikan sebuah pidato. Beberapa petualang bersikap acuh tak acuh, sedangkan yang lainnya langsung menuju alun-alun kota.
__ADS_1