
29 Januari 2079
Hari-hari dihabiskan hanya dengan berlatih, mengasah pedang agar menjadi lebih tajam, menempa demi sebuah senjata terkuat. Sins masih menikmati kesendirian dengan nama samaran, bahkan membuang jati dirinya sebelumnya. Matanya persis seperti orang mati.
Namun, beberapa hari terakhir sedikit berbeda. Di tempat dengan salju abadi, seorang anak secara tidak sengaja bertemu dengan Sins. Anak itu tersesat dan terpisah dari rekannya ketika tengah berburu.
Anehnya, sedari awal bertemu dengan Sins, anak itu sama sekali tak terlihat ketakutan. Padahal jelas Sins memancarkan aura mengerikan dari tubuhnya, yang bahkan sampai membuat kebanyakan monster takut hanya dengan merasakan aura atau menatap mata Sins.
"Hei, berhentilah menggangguku. Pergi sana," ujar Sins sedikit kesal.
Anak itu acuh tak acuh, bahkan kini berlari kesana-kemari. Dia terlihat sangat bahagia, terlebih lagi ketika makan dan menggangu Sins menempa. Seorang yang begitu kejam terhadap lawannya, terlihat sangat kerepotan hanya karena ulah seorang anak kecil. Bahkan Sins tak berkutik di hadapannya.
Rumah yang sunyi pada awalnya, kini dipenuhi oleh tawa seorang anak setiap harinya. Namun, hal yang lebih membuatnya kesal—anak itu membawa teman-teman dan keluarganya ke kediaman Sins—semakin memudarkan kesan kesunyian yang selalu didambakan.
"Hoi, kalian! Tempatku bukan taman bermain anak-anak, sialan! Pergi dari sini kalian para berandalan!" titah Sins dengan kesal.
__ADS_1
Mereka semua acuh tak acuh, bahkan sampai bersikap seolah-olah tengah berada di rumahnya sendiri. Hasil buruan pun terkadang menjadi hidangan di sana, tanpa ragu menggunakan perlengkapan Sins untuk memasak. "Ayolah, santai sedikit napa. Sering marah-marah bisa membuat keriput di wajahmu lo, Anak Muda," lirih Barrack Kirota.
"Hoi, Ketua. Jangan ganggu Tuan Penyendiri kita," lirih Killa sembari meminum secangkir anggur.
"Siapa yang kau sebut penyendiri, sialan! Dan juga, berhenti mengacak-acak rumahku, bodoh!" teriak Sins dengan ekspresi kesal.
"Bocah, kenapa sikapmu begitu kasar? Padahal kami tak menyentuh apa pun di rumahmu," imbuh Sirca sembari terus memotong hasil buruan.
"Ha!? Tidak menyentuh apa pun? Lalu apa yang kau pegang itu, dasar Wanita Tua!" teriak Sins lagi kesal.
Tanpa sedikit pun keraguan, Sirca melemparkan pisau di tangannya hampir mengenai Sins. Wajahnya terlihat sangat marah, walau tersenyum. Bahkan Sirca sampai memukul kepala Sins, hingga menciptakan benjolan di atas kepalanya. Barrack, Killa, Tirto, Rages dan Mera serta anak-anak menjadi diam dan takut melihat kemarahan seorang wanita.
"Kenapa kau memukulku, Orang Tua!" tegas Sins.
"Ha!? Sepertinya Bocah satu ini harus diberi pelajaran bagaimana caranya memanggil dan menghormati seorang wanita!" balas Sirca.
__ADS_1
Pada akhirnya Sins dan Sirca saling baku hantam. Barrack mencoba untuk menghentikan mereka, tetapi nahas, malah dia yang dihajar selanjutnya. Dari luar Sins seolah menolak kehadiran mereka, walau sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia terlihat sangat senang.
Haa ... apa yang kulakukan? Kenapa dadaku terasa hangat? Kenapa rasanya begitu nyaman? Hmm ... tidak buruk juga, batin Sins.
Setelah saling baku hantam, dengan wajah babak belur, Sins tersenyum untuk sesaat. Senyuman itu benar-benar tulus dari hatinya. Mereka yang melihatnya, bahkan hampir tak percaya.
"Eehh? Apa tadi kau tersenyum, Sins?" tanya Rages mendekatkan wajahnya pada Sins.
"Eh, yang bener?"
"Iya, aku juga tadi sempat melihatnya."
"Hoo ... jadi Pangeran Api dan Es kita juga bisa tersenyum, ya?"
"Sialan, kalian kira aku ini apa?" tegas Sins.
__ADS_1
Perlahan hari-hari yang dilewatinya semakin menjadi hangat. Sins sangat menyukai dan menikmati hal itu. Akan tetapi, di sisi lain dia juga sangat takut. Ia takut pada sebuah ikatan yang begitu rapuh dan bisa hilang kapan pun.