The Heaven

The Heaven
044


__ADS_3

Dua orang yang ditakdirkan untuk saling menghancurkan, kini dipertemukan secara tak terduga. Alun-alun kota kini menjadi panggung untuk mereka berdua. Sins pun sadar jika lawannya bukanlah orang biasa, dan tidak seharusnya dia menyembunyikan kekuatannya, sekalipun telah melemah.


Baron Elfistia masih terdiam, sedikit berkeringat karena ketakutan. Namun, dia mencoba untuk tetap terlihat tegar.


"Siapa yang mengirim mu? Aku akan membayar dua kali dari mereka bayar," ujar Baron Elfistia.


Baron Elfistia mengira jika dia mungkin bisa mengendalikan situasi dengan uang, karena kebanyakan dari para penjahat adalah orang yang tamak. Namun, dia tidak menyangka sama sekali jika Hiyori akan menolaknya mentah-mentah.


"Hahaha ... apa kau berpikir kalau aku ini sama seperti pembunuh rendahan di luar sana?" balas Hiyori memancarkan aura membunuh.


"Haa ... aku tak punya waktu untuk bermain denganmu, dan Baron, berhentilah berbicara jika kau tidak ingin memperkeruh suasana," lirih Sins yang telah berpindah di sebelah Hiyori.


"Ka-kau ... ber—"


Wush!

__ADS_1


Sebuah sinar hitam melesat melewati prajurit itu, tepat ketika dia hendak berbicara kasar kepada Sins.


"Diamlah, aku sedang tidak berbicara kepada kalian. Dan lain kali, aku tidak akan meleset!" ingat Sins. "Dan untukmu, Hiyori 'kan? Berhentilah membuang-buang waktu. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jika kau benar-benar bermaksud untuk membunuhnya, kau tidak akan buang-buang waktu dengan bermain seperti ini. Aku tahu tidak ada satu pun orang di sini yang bisa melawanmu," imbuh Sins.


"Hahaha ... kau benar-benar orang yang menarik!" balas Hiyori tergelak dan menjauhkan senjatanya.


"Revolver? Sepertinya itu bukan hanya senjata biasa," ujar Sins.


"Hoo ... aku tak mengira jika orang buta sepertimu bisa menebaknya dengan benar. Haa ... terserahlah, yang kuinginkan hanya pedangnya saja," ujar Hiyori. "Oh iya, sekitar 2 bulan dari sekarang, kerajaan akan mengirim pasukannya untuk menghancurkan kota ini dan akulah yang akan memimpinnya, mungkin?" imbuhnya.


Siapa sebenarnya pria itu? Dan apa yang dia inginkan dengan pedang milik baron dari kota yang kecil ini? pikir Sins mencoba menebak jalan pikiran lawannya.


Di saat dia tengah berpikir, Baron Elfistia langsung mengucapkan terima kasih. Sins tetap acuh tak acuh, dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya membuat bawahan Baron Elfistia kesal, tetapi mereka tidak berani untuk mengungkapkannya. Namun, tanpa diduga Baron Elfistia menghentikan Sins dan memintanya untuk datang ke tempatnya.


"Tu-tunggu sebentar. Jika berkenan, maukah Anda ikut denganku? Ada hal penting yang ingin kubahas de—"

__ADS_1


"Maaf, aku tidak tertarik. Ayo, kita pulang Felicia," sela Sins mengajak Felicia untuk kembali mengingat ia cukup tertekan karena tidak mampu melakukan apa pun.


Sins yang melihat Felicia masih getir, langsung menggendongnya sembari memperlihatkan senyuman hangat. Akan tetapi, hal tak terduga kembali terjadi. Di tengah alun-alun kota, Baron Elfistia membungkuk memohon kepada Sins untuk membantunya.


"Haa ... berhentilah memper—"


Tanpa terduga, para prajurit yang sebelumnya membenci Sins, kini malah bersujud meminta bantuannya. Semua orang yang melihat kejadian itu, mereka semua ikut bersujud dan meminta bantuannya.


"Kumohon, demi rakyatku. Tolong bantulah kota ini. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan, ka—"


"Kalau begitu, matilah!" sela Sins berbalik menatap mereka.


"A-apa maksudmu dengan memintanya mati? Ap—"


"Aku tidak meminta pendapat kalian. Selain itu, aku tak pernah bilang kalau hanya Baron saja yang harus mati, melainkan kalian, para prajurit bodoh!" sela Sins memancarkan aura membunuh.

__ADS_1


__ADS_2