
"Haa ... benar saja? Merepotkan!" gerutu Sins menatap Baron Elfistia. "Serahkan nyawamu dan prajuritmu yang ada di sini, itu pun jika kau benar-benar menginginkan keselamatan bagi rakyatmu!" imbuh Sins memancarkan aura membunuh.
Kebisingan menjadi hening, menciptakan suasana mencekam. Semua mata terbelalak, enggan percaya dengan apa yang didengar telinga. Jelas mereka enggan memilih untuk mengorbankan seseorang.
"Kenapa diam? Kalian menginginkan keselamatan tanpa mau berjuang dan kerepotan! Egois!" hardik Sins dengan suara lirih.
Baru hendak pergi, Baron Elfistia mengambil pedang milik pengawalnya. Dia berteriak kepada seluruh rekan dan rakyatnya. "Demi rakyatku tercinta! Kumohon, lindungilah kotaku tercinta dan rakyatku!" teriak Baron Elfistia mengubah pedang bewarna perak menjadi pedang merah.
Semua pengawalnya terkejut, mereka tak tahu harus bagaimana. Di tengah heningnya suasana, pengawal setia Baron Elfistia mengambil pedangnya. "Untuk Baron dan rakyat yang ia cintai!" teriaknya menusukkan pedang di dada.
__ADS_1
Dimulai dari seorang Baron, diikuti sosok ksatria yang setia dan seluruh prajurit di sana. Genangan darah mengalir dengan indah, sebuah jiwa murni mungkin akan sirna. Jerit isak tak lagi tertahankan, menggema ke sudut kota.
Dari satu orang, menjadi hampir ratusan prajurit yang mengikutinya tepat setelah mendengar kejadian itu. Sins benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kata-katanya itu hanyalah sebuah gertakan belaka, guna melihat apakah mereka layak dibantu. Namun, semua itu di luar perkiraannya.
Felicia mengeluarkan isi perutnya, tak tahan melihat kejadian yang begitu mengerikan. Air matanya pun tak lagi terbendung, dan ikut memohon kepada Sins agar membantu semua orang. Selain itu, dia pun bergegas menyembuhkan mereka sekalipun tubuhnya tak kuat melihat begitu banyak noda merah.
"Haa ... aku benar-benar tak tahu harus bilang kalian ini berani atau terlalu bodoh? Jelas-jelas apa yang dikatakan orang itu belum tentu kebenaran, tetapi kalian dengan mudahnya putus asa dan menyerahkan nyawa kalian yang tak berharga itu. Haa ... heals," lirih Sins lekas memulihkan seluruh prajurit yang sekarat, termasuk Baron. "Selidiki dulu, kemudian pastikan apa informasi itu benar-benar akurat. Setelah semua itu benar-benar akurat, mungkin aku akan membantu kalian," imbuh Sins.
"Apa? Aku sudah lelah, ayo pulang!" ajak Sins. "Kali ini berjalanlah sendiri," imbuhnya.
__ADS_1
Sins sebenarnya cukup kesal dengan kebodohan semua orang, tetapi ia juga sangat senang karena masih ada segelintir orang yang rela mati demi orang lain.
"Sins, tunggu aku!" teriak Felicia mengejar Sins dari belakang.
Ketika menjelang malam, Sins berdiri di atas atap tempatnya tinggal. Dia terus menatap ke arah surya yang kian memudar. "Hiyori Astri, ya? Siapa dia sebenarnya, dan apa yang diinginkannya? Pedang itu ... kurasa tidak ada yang istimewa darinya? Selain itu, kemampuannya juga terbilang unik, hampir seperti milikku. Haa ... terserahlah, cepat atau lambat aku akan mengetahui siapa dia sebenarnya!" gumam Sins.
Seminggu telah berlalu, Baron Elfistia datang mengunjungi Sins secara pribadi. Sikapnya masih saja dingin, dan hangat hanya untuk orang tertentu. Seorang Baron mengabaikan kehormatannya hanya untuk meminta bantuan seorang petualang yang tak dikenal.
Kedatangannya adalah untuk memberikan semua informasi tentang penyerangan yang akan dilakukan kerajaan sekitar dua bulan dari sekarang. Sekali lagi, jawaban yang diberikan Sins benar-benar diluar dugaan.
__ADS_1
"Lakukan sesuka kalian, dan aku akan melakukan apa yang aku inginkan," lirih Sins memperjelas maksudnya.