The Heaven

The Heaven
038


__ADS_3

Tak seperti dia yang biasanya, sikapnya begitu hangat di depan Felicia. Sins bahkan tersenyum ketika melihat wajah Felicia yang memerah seraya menutupi bagian intimnya. Sembari tertawa kecil, Sins menjentikkan jarinya. Butiran mana berkumpul di sekitar Felicia, kemudian berubah menjadi pakaian yang indah.


Set pakaian bewarna merah muda dengan ciri khas burung phoenix, semakin mengindahkan dirinya. "Hmm ... kau terlihat lebih baik dari yang kuharapkan," ujar Sins tersenyum sembari bersandar di kursinya.


Masih dalam keadaan linglung, dia tertegun di dekat jendela. Embusan angin menerbangkan ribuan benang keemasan dan ujung pakaiannya, menebarkan pesona gadis suci. Sins bersiul, kemudian kembali menyuruhnya untuk makan dan bersikap santai.


"Haa ... aku akan ke luar sebentar. Silakan dimakan sebanyak mungkin," lirih Sins beranjak dari kursinya. "Oh, iya. Aku hampir lupa. Kau tidak perlu khawatir ataupun memikirkan hal yang tidak-tidak, sebab aku sama sekali tidak melakukan apa pun pada tubuhmu. Selain itu, apa kau tidak sadar kalau kalung yang mengikatmu sudah tidak ada lagi?" imbuh Sins kembali melangkah dan meninggalkan sebuah senyuman.


Tepat setelah pintu tertutup, Felicia langsung memeriksa seluruh tubuhnya. Dia langsung terduduk lemas dan menangis ketika sadar bahwa sudah tak ada lagi kalung budak di lehernya, bahkan simbol budak pada lengannya pun sudah menghilang.

__ADS_1


Simbol budak memiliki pola mirip seperti matahari dan bulan dengan sebuah garis panjang di bagian tengah. Simbol itu menandakan bahwa seseorang pernah menjadi seorang budak dan hingga saat ini tidak ada yang tahu bagaimana cara menghapusnya.


Felicia terus menangis bahagia, walau resah masih memenuhi hatinya. Sementara itu, Sins yang telah berada di luar, terus menatap langit biru. Ia menghembuskan napas dalam, sedikit kesal mendengar tangisan Felicia.


Tidak seperti dirimu yang biasanya. Emosimu berguncang dan amarahmu meluap ketika bertemu gadis itu. Apa dia mengingatkanmu pada seseorang, Master?


Entah siapa yang tengah berbicara di dalam pikiran Sins, yang jelas dia hanya acuh tak acuh.


Lagi, seseorang berbicara di kepala Sins.

__ADS_1


"Summon, Fefnir, Ryuga, Argan, Berru, Darkness," lirih Sins melemparkan beberapa kartu.


Hampir di saat yang bersamaan, lambang beberapa hewan suci muncul. Warnanya transparan, sebelum akhirnya memunculkan wujud asli dari lambang hewan suci tersebut. Serigala, naga, phoenix, macan putih, dan pegasus, kelima hewan itulah yang muncul dari kartu yang dilemparkan Sins sebelumnya.


"Terima kasih, Master. Kami tidak akan mengecewakanmu," ucap mereka serentak dan langsung pergi ke lima arah.


"Hmm ...."


Sins terus berdiri di bawah teriknya mentari, menatap nanar langit biru. Mungkin karena merasa bosan, Sins mulai menempa. Menggunakan berbagai macam material langka, Sins mulai menempa beberapa senjata.

__ADS_1


Sebuah armor ringan yang terlihat persis seperti pakaian seorang perempuan, ia tempa dari jantung naga, taring fefnir, mata phoenix, dan tanduk unicorn. Pedang pendek ditempa dari taring dan cakar naga, kristal griffin dan jantung phoenix. Yang terakhir adalah sebuah busur, ia tempa dari material yang paling berharga. Jantung lima hewan suci—pegasus, mytical dragon, hydra, cerberius, dan penguasa lautan, Leviathan—dipadu dengan darah dan jiwa dari 99 jenis monster kuat. Selain itu, Sins juga menambahkan sedikit darahnya ke dalam busur itu agar tidak menyebabkan kerusakan bagi penggunanya.


__ADS_2