The Heaven

The Heaven
049


__ADS_3

Sebilah pedang panjang menembus dada wanita itu. Semua mata tertuju pada satu arah, darah yang mengalir dari ujung pedang. Tak ada lagi kata yang mampu terucap, seolah mulut dibungkam dengan erat.


Tak peduli seberapa keras ia berusaha, Hiyori masih tak bisa melepaskan pedang itu dari dadanya. Sebaliknya, semakin dia mencoba untuk melepaskan pedang itu, semakin dalam dan besar rasa sakit yang Hiyori rasakan.


“Arghh … kyaa!!” Teriakannya bahkan bergema di telinga semua orang, membuat bulu roma berdiri. Mereka yang melihat bahkan tak berani untuk membayangkan apa yang dirasakan Hiyori, bahkan ada yang pingsan saat melihat kejadian itu.


“Sudah cukup, kan?” tanya Sins dengan tajam tegap berdiri di hadapan Hiyori.


Belum sempat wanita itu untuk membalas, tetapi ia sudah ditendang hingga terpental dan menghancurkan beberapa bangunan. Mata yang dahulu seperti tak ingin hidup, saat ini memancarkan niat membunuh. Sins seolah hanya bergerak selangkah, tetapi sudah ada di hadapan lawannya.

__ADS_1


Pedang yang selama ini ia sarungkan, kini dipenuhi oleh rasa haus darah. Tajam matanya dengan tangan yang mencengkeram erat kepala Hiyori—seolah berniat untuk meremukkannya—hendak kembali menikam tubuh wanita itu.


Namun, sebilah sabit dari arah langit terbang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Refleks Sins langsung mengayunkan pedangnya dengan niat untuk menahan serangan yang dating. Akan tetapi, bukannya mampu menghalau serangan itu, pedang dan bahkan lengan Sins berhasil dipotong.


“Hmm?” Ekpresinya sama sekali tidak berubah, padahal tubuhnya mengalami luka yang cukup berat. Pendarahan pun tak berhenti, bahkan sebuah genangan telah tercipta di sekitarnya. Sins menatap jauh ke angkasa, fokus pada sosok yang tengah terbang di udara.


Sosok itu memiliki sepasang sayap dan mengenakan jubah hitam, bahkan aura dan mana di sekitarnya pun semuanya terlihat gelap. Tampaknya hanya Sins saja yang bisa melihat sosok itu. hal itu terlihat dari bagaimana semua orang yang terlihat sangat kebingungan.


Teleportasi? Tidak! Hmm, begitu ya? batin Sins yang tampaknya sudah mengetahui kekuatan lawannya.

__ADS_1


Belum genap 5 detik, sosok itu sudah berdiri di belakang Sins dengan sebilah pisau terlekat di lehernya. “Cukup sampai di sini!” kejamnya dengan suara sedikit berat dan menakutkan.


Pupil mata mereka seketika membesar, keringat dingin kian menetes perlahan, bahkan tubuh kebanyakan orang bergetar saat merasakan aura yang begitu menakutkan yang terpanjar dari sosok itu. “Ka-kau! Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Hiyori yang tampaknya mengenal sosok itu. “A-aku tertolong, terima kasih.” Lanjutnya kian berdiri dengan ekspresi kesal dan jijik menghadap Sins.


Ia tanpa ragu mengambil senjatanya yang sempat terlepas dari genggaman. “Berhentilah, mustahil bagimu untuk bisa mengalahkannya. Kamu sendiri sudah melihat seb—”


“Berisik! Aku tidak meminta pendapatmu, sialan! Jangan hanya karena kau membantuku sekali, itu berarti kau bisa memerintahku. Sadarlah akan posisimu!” sela Hiyori yang tak lagi mampu membendong emosi.


Sementara semua orang terlihat ketakutan, Sins masih pada posisi yang sama, bahkan ekspresinya sama sekali tidak berubah. Saat Hiyori juga ikut menodongkan senjatanya ke arah Sins, pemuda itu malah menghela napas panjang. “Apa kau punya kata-kata terakhir?!” kecam Hiyori.

__ADS_1


“Haa ….” Darah masih terus menetes dari lukanya—dengan kapala menghadap angkasa dan mata yang begitu hampa—Sins mulai memikirkan hal yang gila.


Bang!


__ADS_2