The Heaven

The Heaven
050


__ADS_3

Bang!


Suara tembakan kembali terdengar, tetapi kali ini tidak berasal dari Hiyori. Tak ada peluru yang melesat, tetapi dalam kedipan mata semua hal dalam radius 5 meter dari mereka langsung berubah menjadi debu. Berentung, mereka sempat menghindar. Namun nahas, dalam pertarungan itu rekan Hiyori kehilangan lengan kanannya dan terluka parah akibat serangan Sins.


Di sisi lain, perlahan semua luka di tubuh Sins mulai pulih sepenuhnya, bahkan pakaiannya pun kembali seperti sediakala. Seolah saja, ia tak pernah terluka. “Hmm … seven sword skil, bentuk kelima, sabit dewa kematian, realese!” lirih Sins melempar senjatanya ke udara.


Butiran mana kemerahan kian mengudara, berkumpul menjadi satu dan menjelma menjadi sebilah sabit. Aura kematian terpancar dari sabit itu, hingga tak ada satu pun dari mereka yang mampu untuk bergerak bahkan bernapas, tak terkecuali Hiyori dan rekannya. Saat sabit itu digenggam oleh sang pemilik, langit pun seketika menjadi gelap.


Tak hujan, tapi petir terus menggelegar. Rasa takut menjereba ke seluruh udara, hingga mereka yang tengah berperang pun merasakan aura tersebut. Mereka yang tak cukup kuat langsung tak sadarkan diri, sedangkan mereka yang cukup mampu hanya bisa terdiam dan membeku.

__ADS_1


Lirikan Sins langsung membuat lawannya ketar-ketir. Merasakan sebuah marabahaya, Hiyori dan rekannya langsung berusaha mengeluarkan kemampuan terbaik mereka walaupun tak mampu berkata-kata.


Dengan senyum tipis dan ayunan santai, Sins langsung membelah semua hal yang ada dalam jalur lintasan sabitnya. Lebih dari puluhan atau bahkan ratusan pohon terbelah; jarak cangkupannya pun sangatlah luas, lebih dari 2Km.


“Hmm … kalian beruntung,” lirih Sins sembari melemparkan senjatanya ke udara. “Seven sword skil, bentuk ke 6, ignitazion!”


Senjatanya kembali berubah bentuk, dan kini memiliki bentuk seperti pedang yang telah hancur dan berkarat. Lebih tepatnya, hanya tersisa sebuah gagang tanpa mata pedang.


Pada saat yang bersamaan, medan perang seketika menjadi hening. Tak ada satu pun dari mereka yang mampu untuk bergerak, tidak walau hanya satu jari saja. Shinigami seolah turun dari langit, tepat keika Sins berdiri di tengah medan perang. Ia melirik ke segala arah, tatapannya begitu dingin penuh akan kesedihan.

__ADS_1


Prihatin? Kasihan? Tidak! Bukan salah satu dari hal itu yang ia rasakan, melainkan sesuatu yang bahkan di luar nalar. Kebencian, amarah bahkan dendam, ketiga hal itulah yang saat ini tengah hatinya rasakan.


Semua emosi yang selama ini ia pendam, hamper saja meluap hingga tak lagi mampu ditahan!


“Hmm … apa kalian sudah puas saling membunuh? Dasar bodoh!” ujarnya lirih dengan nada menghina dan tatapan rendah.


Jelas mereka marah, tetapi tak ada satu pun yang berani untuk bergerak ataupun membuka suara. Bukan karena aura yang Sins pancarkan, tetapi tatapan dingin itu yang membuat mereka menjadi ketakutan dan diam seribu Bahasa.


“Kenapa? Bukankah kalian marah? Haa … menjijikkan!” Entah itu makian atau bahkan kutukan, semua ujaran kebencian ia ucapkan. Bahkan Yui yang selalu ada di dekatnya pun tertegun saat melihat kemarahan dan kebencian yng terpancar dari mata Sins. “Light of the darknes, Spirit of the sun moon!”

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Sins menggunakan sihir dunia, yang mana merupakan sihir tertinggi yang mampu menghancurkan hokum kausalitas. Begitu rapalan mantra di selesaikan, bulan dan matahari muncul secara bersamaan. Cahayanya indah dan menenangkan, berdampingan menyinari dunia yang berantakan.


Sebuah keajaiban kembali tercipta untuk yang ke sekian kalinya. Mereka yang menjadi musuh tenggelam dalam keputusasaan, saat menyaksikan seluruh tubuhnya hancur menjadi serpihan debu. Sedangkan mereka yang dianggap sebagai teman, mendapatkan kesembuhan dan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia.


__ADS_2