The Heaven

The Heaven
039


__ADS_3

Usai menempa, Sins memasukan perlengkapannya ke dalam inventorynya. Dia kembali ke dalam untuk bertemu Felicia. Diserahkan ketiga perlengkapan yang baru saja ia tempa.


"Pakailah semua ini. Akan kutemani sampai kamu tiba di kampung halamanmu," ujar Sins memberikan ketiga perlengkapan luar biasa itu.


Masih dipenuhi tanda tanya, Felicia hanya bisa menatap Sins dari jarak yang dirasakannya cukup aman. Sins hanya menghela napas, perlahan mendekatinya. Dia menjentik kening Felicia.


"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Sins lembut. "Tidak perlu dipaksakan," imbuhnya.


"Ma-maksudmu?"


"Kau tak perlu mempercayaiku. Lakukan saja sesukamu, tetapi jangan ke luar tanpa izin dariku. Besok kita akan mulai perjalanan, sebaiknya kau tenangkan dirimu dan beristirahatlah," jelas Sins.


"Si-siapa kau? Dan apa ya—"

__ADS_1


"Aku bukan siapa-siapa, hanya penjelajah. Dan, bersikaplah lebih santai. Aku akan menjawab semua pertanyaan mu secara perlahan, tapi tidak sekarang. Seperti kataku sebelumnya, istirahat lah dengan tenang. Dan ketiga barang ini milikmu," sela Sins sembari tersenyum.


Dia berbaring di atas ranjang, sementara Sins kembali menempa. Beberapa jam lagi terlewati, dan dia telah menempa lebih dari sepuluh senjata. Semua kualitasnya sangatlah luar biasa, bahkan sangat sulit melihat kecacatannya.


"Hmm ... mau sampai kapan kamu menatapku? Udah lebih dari sejam kamu berdiri di sana. Gak capek?" tanya Sins terus mengayunkan palunya, memukul besi di depan matanya.


"Eh?!"


Tak peduli sekeras apa pun Sins memukul besi, tidak ada suara bising yang terdengar. Hal itu membuat Felicia semakin kebingungan, karena begitu banyak keanehan yang dialaminya dalam satu waktu.


"Ada apa? Apa ada yang membuatmu penasaran? Atau jangan bilang Felicia mulai jatuh cinta padaku?" goda Sins menghentikan kegiatannya.


Felicia masih diam, dia terus menatap Sins, seolah takut untuk berbicara. Dia yang masih trauma karena sudah cukup lama di dalam penjara dan disiksa, tidak tahu harus bagaimana menanggapi orang yang baik kepadanya. Hatinya telah terluka, membuat mentalnya sedikit tak stabil.

__ADS_1


Sins sudah hampir kehabisan cara, dan mendekatinya untuk bertanya. Namun, tanpa banyak kata Sins memeluknya erat. Matanya Felicia terbelalak, masih diam dan bingung harus bersikap.


"Haa ... tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Di sini tidak akan ada yang bisa menyakitimu. Selain itu, hanya ada kita berdua di sini," ujar Sins.


Hatinya sedikit tenang, tetapi masih saja diam. Masih tertinggal rasa kesepian dan pengkhianatan di dalam dirinya, membuat Felicia enggan untuk percaya. "Ikut aku, yuk," ajak Sins sembari tersenyum.


Dia membiarkan semua item yang ditempa berserakan, seolah tak berharga. Sekali pun Sins banyak berbicara, Felicia masih saja diam. Dia tahu untuk mengambil kepercayaan seseorang itu tidaklah mudah, apalagi dia yang masih hidup di masa lalunya.


Satu minggu telah berlalu, Felicia mulai memberanikan diri untuk berbicara. Dia bercerita sedikit tentang dirinya kepada Sins. Felicia yang sedari kecil dibully dan dibenci oleh rasnya sendiri, dibuang ke dalam hutan. Dia terus berjuang seorang diri untuk hidup, bahkan berkali-kali hampir mati.


Sins semakin paham, bahkan ceritanya mengingatkan dirinya pada masa lalu. Namun, hidup Felicia berkali-kali lebih buruk darinya. Ia yang dibuang oleh keluarga, dibenci oleh sesamanya, dan diperlakukan selayaknya hewan. Begitu mendengar kisah Felicia, Sins langsung memeluknya.


"Tidak apa, sekarang semua sudah baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri, dan mulai saat ini Felicia tidaklah sendiri," ujar Sins memeluk Felicia.

__ADS_1


__ADS_2