The Heaven

The Heaven
034


__ADS_3

Entah mengapa, sebuah variabel selalu terjadi ketika keberuntungan hampir menghampiri. Sesuatu yang tidak diharapkan, malah terkabulkan. Monster Harimau itu berlari ke arah rekannya yang masih hidup, mencabik-cabik tubuh mereka bahkan memangsanya dengan lahap. Tak lupa juga mayat dari para monster dan hero yang telah binasa, mereka semua menjadi santapannya.


Mereka yang menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan, hanya bisa terdiam dengan wajah memucat. Tubuh gemetar tak mau lagi mendengarkan perintah, seolah-olah dihadapkan oleh sosok yang tak seharusnya ada di dunia. Pilar-pilar yang menjulang itu pun satu per satu dihancurkan, bahkan tanpa usaha.


Setiap kali pilar cahaya itu hancur, Yui akan secara spontan berteriak kesakitan bahkan muntah darah. Hingga pada saat pilar terakhir hancur, semua orang dihadapkan pada sebuah ketakutan. Kabut kembali menyelimuti seluruh dungeon, hingga tak dapat memandang apa pun, sekali pun itu kedua lengannya sendiri.


Belum lagi kondisi Yui yang semakin parah akibat dari konsekuensi menggunakan skil tingkat tinggi. Razel berteriak, meminta semua orang mendekat. Namun, yang ia dapatkan hanya suara teriakan meminta pertolongan. Sebuah serangan datang dari arah depan, tetapi ia sama sekali tak dapat bereaksi dan berakhir kehilangan salah satu lengannya.


Di tengah kabut, kembali pembantaian terjadi. Dia mencoba untuk tetap tegar, bahkan enggan berteriak walaupun rasa sakit yang diderita teramat gila. Lebih tepatnya Razel hanya berteriak tanpa suara seraya terus mencengkeram erat tangannya yang terus mengeluarkan darah.

__ADS_1


Pada akhirnya, dia tetap berusaha untuk tenang, merobek pakaiannya untuk dijadikan sebuah tali guna mengikat lengan agar darahnya tak lagi mengalir. Kini, Razel hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri walaupun tahu sudah tak lagi mampu. Belum lagi pedang cahaya di tangannya sirna tepat setelah seluruh pilar musnah.


Dia mencoba berdiri sekuat tenaga, sekali pun cakar setajam silet terus menggores tubuhnya. Mencoba untuk memejamkan kedua netra, menajamkan panca indera dengan harapan bisa melancarkan serangan balik. Sebuah bayang-bayang indah terlihat samar di dalam kepala, mengangkat imaji untuk menjadi nyata di dunia fana.


Sesosok pemuda dengan sepasang belati di belakang pinggang serta rambut hitam kemerahan terlihat tengah tersenyum ke arahnya.


Tubuhnya masih berdiri dengan tenang sembari menggenggam sebilah pedang, walaupun tubuhnya terus diserang.


"Hei, Razel. Apa yang akan kau lakukan ketika indera penglihatanmu diganggu atau bahkan tak bisa digunakan untuk sementara waktu?"

__ADS_1


Bayangan di dalam kepalanya bertanya sembari tersenyum. Razel ingat dengan jelas apa yang akan ia katakan selanjutnya. "Menyerang apa pun yang kudengar atau menyerang secara sembarang, mungkin?" balas Razel serentak bersamaan dirinya—bayangan dalam bawah alam sadarnya.


"Haha ... diam."


"Diam? Membiarkan dirimu di serang atau menciptakan sebuah kesempatan?" balas Razel.


"Menyatu dengan alam...."


"Biarkan alam dan panca indera lainnya membimbingmu. Biarkan tubuhmu bergerak sesuai naluri. Cobalah untuk tetap tenang dan cobalah untuk merasakan aura dan jiwa di sekitarmu," ucap Razel dan bayangan itu secara serentak. "Alam itu hidup. Pohon, angin, air, sekali pun tanah ... hanya karena tidak bergerak, bukan berarti mereka tidak punya kehendak. Kehidupan itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata," imbuh kalian serentak.

__ADS_1


__ADS_2