Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Daerah terlarang


__ADS_3

Sejak Classic pearl melayang di atas laut kematian, pandangan Keiko tak pernah lepas dari lautan luas yang berada di bawahnya. Hatinya sedikit lebih tenang setelah Kedua kakaknya berdiri tak jauh dari tempatnya bersama dua mahkluk aneh yang selalu ikut serta kemanapun kakaknya pergi.


"Benar-benar lautan yang indah. Saat masih belum jauh dari pantai, air pantai ini sangat keruh. Setelah mulai sedikit menjauh dari pantai, terlihat berbagai jenis ikan serta terumbu karang yang begitu indah jauh di dalam lautan yang bening."


Keiko bergumam dan terus memandangi lautan yang tenang dan indah.


"Ar, kira-kira benda apa yang membawa rombongan pangeran Yosi melewati lautan ini?"


Suara Naoki memecah keheningan sesaat.


"Master Zabuza tidak mengatakan apapun tentang hal itu pangeran."


Arnius menjawab singkat.


"Zen."


Wu Ling tiba-tiba berteriak dan berlari mendekati Zen yang sedikit kesulitan saat memegang kemudi kapal.


"Seseorang urus tabung-tabung itu, ketinggian kita menurun. Atau ada sesuatu yang menarik kita kebawah sana."


Wu Ling kembali berucap saat ia benar-benar merasakan terjadi sesuatu pada segel yang ia pasang di sekitar Classic pearl.


"Benar, ada sesuatu yang menarik kapal ini kebawah secara perlahan."


Eiji mulai memeriksa tekanan udara disekitar kapal yang mulai berubah. Arnius melesat ke tempat mesin pengendali kapal disusul oleh Genta.


"Tidak terjadi apa-apa di tempat ini, semua normal dan baik-baik saja."


Arnius bergumam pelan setelah memeriksa seluruh bagian mesin itu. Genta yang mendengar ucapan pelan Arnius kembali melesat keatas kapal.


"Waspada. Raiden kau di bagian depan kapal aku di belakang."


Kin Raiden hanya mengangguk kemudian melesat menuju ke anjungan kapal.


"Di sana, ada sesuatu yang kuat di dalam laut. Aku bisa merasakannya."


Keiko menunjuk ke sebuah pusaran air yang mulai terlihat membesar.


"Menyebar."

__ADS_1


Naoki mulai memberi instruksi.


"Kapal ini tidak bisa bergerak sama sekali, sepertinya kita semakin menurun."


Zen berucap penuh kecemasan.


"Aku akan membekukan kalian."


Seketika Keiko meluncur mendekati pusaran, air laut di sekitar Keiko mulai membeku. Arnius melompat bersama Eiji, keduanya memanfaatkan celah yang ada untuk sedikit memberi dorongan pada Classic pearl. Eiji mengibaskan tangannya, angin besar muncul dan mendorong layar Classic pearl. Membuat kapal itu kembali melaju sedikit menjauh dari pusaran.


Genta yang mengawasi setiap gerakan yang dilakukan oleh Keiko, tiba-tiba dikejutkan oleh lautan es yang di buat Keiko terhisap masuk ke dalam pusaran air laut. Seketika Genta menyambar tubuh Keiko menjauh.


"Aku bisa mengatasinya."


Keiko kembali meluncur ke dekat pusaran.


Air laut mulai bergelombang di sekitar pusaran, makin lama ketinggian gelombang semakin bertambah tinggi. Keiko terbang mengitari pusaran untuk mencari sesuatu yang menyebabkan terjadinya pusaran air laut yang mencoba menghisap apapun.


Tubuh Keiko bergerak lincah menghindari gulungan ombak yang mencoba menyentuhnya, namun justru tindakan itu membuat tubuh Keiko semakin mendekat ke tengah pusaran.


"Kei."


Arnius dan Genta melesat terjun ke arah Keiko. Namun naas, pusaran itu menutup dengan cepat dan membawa serta tubuh Keiko masuk kedalam pusaran.


Tubuh Keiko terus terhisap masuk kedalam pusaran air, hingga ia terjatuh di atas pasir putih yang lembut. Keiko memperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi pasir putih dan beberapa batu karang yang indah serta berbagai tumbuhan laut.


Keiko menunduk dan bergegas merapatkan tubuhnya ke sebuah batu karang yang cukup besar saat melihat kehadiran seseorang yang menurutnya bertubuh sedikit aneh.


Keiko semakin heran saat ia bisa bernafas dengan leluasa di tempat tersebut, Ia kembali menyelediki tempat itu setelah orang yang ditemuinya menjauh dari tempatnya semula.


Keiko melihat sebuah batu besar yang berbentuk melengkung seperti sebuah gerbang, orang yang tadi di lihat oleh Keiko berhenti melangkah saat tiba di depan gerbang batu itu.


Keiko mendekati gerbang batu yang memisahkan dirinya dengan mahkluk aneh yang sempat dilihatnya. Gadis itu memperhatikan dengan seksama setiap sudut batu yang berbentuk melengkung.


"Aksara kuno."


Keiko bergumam pelan dan kembali melihat beberapa tulisan yang menempel pada setiap batu yang tersusun melengkung.


Perpustakaan istana adalah salah satu tempat yang dulu sering didatanginya sewaktu ia masih selalu berkunjung ke istana. Berbagai buku telah ia pelajari, termasuk buku dengan tulisan kuno yang beraneka ragam seperti tulisan yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa menghalangi perjalanan menuju lautan."


Keiko bergumam, saat ia mampu membaca tulisan kuno yang menempel pada permukaan batu.


Keiko kembali bersembunyi di balik batu karang, saat ia melihat dua sosok mahkluk aneh berjalan kearah nya.


"Aku mendengar sesuatu yang terjatuh dari dalam daerah terlarang tuan."


"Biarkan saja, mungkin bebatuan yang runtuh. lagi pula kita tidak di perbolehkan memasuki daerah terlarang."


"Bagaimana aku bisa mengerti bahasa yang mereka ucapkan? kalimat itu sangat aneh di telinga ku, namun aku bisa memahaminya dengan baik."


Keiko yang masih tercengang hanya bergumam dalam hati.


"Daerah terlarang."


Keiko kembali menoleh ke arah hamparan pasir putih yang ditumbuhi berbagai tanaman laut dan begitu banyak batu karang di tempat ia jatuh tadi.


Keiko berjalan perlahan mengelilingi hamparan pasir yang ada di hadapannya untuk sekedar memeriksa tempat tersebut. Setelah ia berjalan lebih jauh ke sisi kanan, ia menemukan sebuah batu karang yang besar berbentuk seperti goa.


Dengan sangat hati-hati Keiko memasuki goa yang begitu terang karena dipenuhi bebatuan aneh yang menempel pada setiap dinding goa dan memancarkan cahaya terang. Keiko melihat guratan gambar yang terdapat pada dinding batu goa.


"Ini gambar yang menceritakan tentang seseorang yang terhisap ke dalam pusaran air dan terjatuh seperti diriku."


Keiko mulai mengerti arti guratan yang dilihatnya. Kembali tulisan kuno tertulis di sudut goa yang lainnya.


"Yang terpilih yang akan terhisap."


Keiko membaca dan berusaha merangkai setiap kata yang ia lihat.


"Tidak ada yang bisa menghalangi perjalanan menuju lautan."


"Mutiara emas yang berharga."


Keiko mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh goa, setelah membaca tulisan berikutnya.


Keiko kembali melihat guratan gambar yang menunjukkan beberapa ruang serta gambar tempat pemujaan.


"Ruang di sebelah kanan adalah tempat pemujaan, dan yang disebelah kiri adalah tempat seseorang. Mungkin dulunya adalah kamar seseorang atau mungkin makam seseorang."

__ADS_1


Keiko terus bergumam dalam hati setelah mampu membaca dan merangkai beberapa kata yang ia mengerti. Keiko kembali berjalan mencari ruangan yang di maksud.


Keiko memasuki sebuah ruangan yang luas terdapat sebuah meja batu yang menempel pada dinding goa. Sebuah mutiara emas seukuran kepalan tangannya tampak mengkilat di atas meja itu. Keiko kembali memperhatikan setiap sudut dinding goa, namun ia tidak menemukan apapun.


__ADS_2