Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Ratu Asuka


__ADS_3

Terbukanya portal penghubung serta serangan dari naga emas dan Phoenix merah membuat sebagian wilayah di istana bulan sedikit bergetar. Bahkan dalam satu wilayah terjadi beberapa kerusakan dan kepanikan karena serangan tersebut.


"Selamatkan diri kalian, cari tempat yang lebih aman."


Seorang pria gagah yang mengenakan seragam pengawal berteriak sekeras mungkin untuk memperingatkan semua warga yang ada di wilayah tersebut agar segera menjauh dan mencari tempat berlindung yang aman.


"Lapor panglima, wilayah bagian barat mengalami kerusakan karena guncangan yang terjadi saat ini."


"Usahakan untuk menyelamatkan semua warga. Apa pemimpin dari para the Beast sudah mengetahui penyebab kekacauan ini?"


"Panglima Zuraya sudah menunggu anda di depan pintu utama untuk menghadap yang mulia."


Sosok pria gagah berseragam tersebut kini berubah menjadi cahaya kemudian melesat ke satu tempat dan mendarat dengan baik di sisi seorang lelaki setengah baya yang berbadan lebih tinggi dan lebih besar dari pada dirinya.


"Panglima Zura, apa kau sudah mengetahui penyebab semua kekacauan di wilayah barat?"


"Ya Panglima Wang, mari kita menemui yang mulia dan komandan Sato."


Dua bola cahaya kembali melesat ke dalam sebuah bangunan megah yang terlihat begitu indah. Kini kedua panglima tersebut menunduk hormat di hadapan seorang lelaki tua yang memakai jubah emas serta mengenakan mahkota yang berhiaskan mutiara terbaik.


"Apa yang terjadi?"


Suara yang penuh dengan wibawa terdengar begitu jelas di dalam sebuah ruangan yang begitu luas.


"Pangeran sembilan membuka portal penghubung tuan ku."


"Zura, bukankah anak nakal itu sudah berkali-kali membuat pintu penghubung dengan sesuka hatinya. Sekarang apa yang diperbuat oleh bocah tengil itu?"


"Pa.. Pangeran membawa serta seorang wanita bersamanya tuan ku. Dan sepertinya ada yang tidak menyukai perbuatannya."


Zuraya sedikit tergagap saat melihat raut wajah junjungannya berubah merah.


"Puluhan petir dan semburan api besar keluar dari dalam portal tersebut yang mulia, bahkan sebelum portal itu tertutup muncul juga badai salju yang dahsyat."

__ADS_1


Wang mo yang juga sempat melihat kejadian tersebut ikut menambahkan laporannya.


"Saya akan memastikan keamanan setiap sudut wilayah kota tuan ku."


"Iya Sato, kau harus melakukannya. Bisa saja para penduduk bumi itu mampu mengikuti anak nakal itu sampai ke tempat ini."


Ketiganya segera meninggalkan aula pertemuan untuk mengamankan wilayah mereka.


"Asuka, cepat kau urus anak mu itu. Kekacauan apa lagi yang di buatnya di bumi para manusia."


"Baik yang mulia."


Permaisuri Asuka bergegas keluar untuk mencari putra tunggal dari salah satu selir kerajaan yang bahkan telah mati setelah melahirkan putranya.


Sebagai panglima istana, Wang mo bertugas mengamankan setiap sudut istana yang di huni oleh raja beserta seluruh keluarganya. Zuraya adalah panglima tertinggi di antara para the Beast di bawah pimpinan komandan Sato.


The Beast adalah pasukan perang dari istana bulan, yang terdiri dari berbagai jenis binatang ilahi. Sato bukanlah yang terkuat di antara para the beast, namun karena keadilan, kejujuran serta keteguhan hati membuat ia terpilih menjadi komandan tertinggi para the beast. Sebuah pasukan yang benar-benar bisa meratakan sebuah peradaban jika para pemimpinnya menghendaki.


"Dimana rubah kecil itu, kekacauan apa lagi yang di buatnya. Jangan coba-coba untuk melindunginya, cepat serahkan dia padaku?"


"Pa... Pangeran sembilan sedang bersama pangeran Haru di kediamannya ratu ku."


Salah satu selir berusaha menjawab meskipun dengan tergagap.


Setelah wanita setengah baya tersebut mengibaskan selendang yang di pakainya, dalam sekejap tubuh permaisuri Asuka menghilang dari pandangan.


Sebuah halaman yang luas serta di tumbuhi berbagai jenis bunga dan tanaman langka terlihat begitu indah. Tubuh Asuka mulai tampak berdiri di tepian danau yang banyak di tumbuhi bunga air. Salah seorang pengawal istana terlihat mendatanginya.


"Apa kau menemukannya?"


"Iya ratu, wanita yang di bawa oleh pangeran masih berada di dalam kristal cahaya."


Pengawal tersebut menyerahkan sebuah benda bulat yang bercahaya ke pada Asuka. Sesaat setelah ia mendengar perintah dari suaminya, Asuka menyuruh beberapa pengawal pribadinya untuk menggeledah kediaman putra asuhnya. Sementara ia sendiri pergi ke istana para selir untuk memastikan keberadaan pangeran Arashi, atau yang lebih sering di sebut pangeran sembilan.

__ADS_1


Arashi adalah putra dari seorang selir raja Jouji, raja yang memerintah di istana bulan saat ini. Seorang selir cantik yang berasal dari dunia manusia. Wanita berwajah giok yang konon hanya terlahir sekali dalam lima ratus tahun. Raja Jouji membawanya paksa ke istana bulan untuk mendapatkan keturunan yang kelak bisa memimpin para the Beast. Seperti halnya yang dilakukan oleh putranya saat ini.


"Ibu ratu tolong serahkan kristal itu padaku."


Setelah mendapatkan ramuan yang dia inginkan dari sang kakak yaitu pangeran Haru, Arashi bergegas ke kediamannya untuk mengambil kristal cahaya miliknya. Namun seorang pelayan memberi tahu bahwa kristal tersebut telah di ambil oleh pengawal pribadi ratu. Sehingga ia bergegas menuju ke danau, karena di tempat itulah biasanya ratu menghabiskan waktunya.


"Kekacauan apa lagi yang telah kau buat pangeran Arashi?"


Tatapan tajam sang ratu membuatnya sedikit menunduk.


"Dia hanya seorang wanita yang katanya berwajah giok seperti ibuku, jadi aku penasaran seperti apa wajahnya dan juga aku ingin menjadikannya sebagai istriku ibu ratu."


"Jadi kau benar-benar menemukannya, lalu kenapa ada yang mengejar mu hingga mereka berusaha menghancurkan portal yang kau buat dan menyebabkan begitu banyak kekacauan."


"Aku sedikit memaksa ibu ratu. Tolong berikan kristal itu ibu, dia harus segera di obati atau dia akan mati karena perbedaan waktu di tempat ini dengan bumi tempat asalnya."


"Jadi kau tahu resikonya jika membawa penduduk bumi ke tempat ini. Berikan ramuannya padaku, aku yang akan mengurus gadis ini. Aku tidak ingin dia berakhir mengenaskan seperti ibumu yang cantik dan juga begitu baik kepada ku."


Arashi memberikan sebuah botol kecil yang ada di genggaman tangannya.


Ratu Asuka menyalurkan sedikit tenaganya hingga membuat kristal tersebut sedikit melayang, kemudian membesar secara perlahan dan memunculkan seorang wanita bercadar yang tengah terduduk lesu di atas rerumputan.


Asuka mencoba mendekati Yao Yin dengan perlahan, untuk memberikan obat penguat jiwa kepadanya. Namun saat langkah kakinya hanya tinggal beberapa jengkal dari tubuh Yao Yin, kilatan api tiba-tiba muncul menyelimuti seluruh tubuh gadis tersebut. Asuka memilih untuk kembali menjauh, sengatan panas dari api tersebut serasa ingin membakar tubuhnya.


"Maafkan aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Asuka, aku ratu di tempat ini. Aku hanya ingin memberikan obat penguat jiwa ini kepada mu nona. Kau harus meminumnya untuk mengembalikan kesehatan tubuh mu. Jika kau khawatir pemuda ini akan menyakiti mu lagi, aku bisa menjamin bahwa dia tidak akan berani berbuat hal itu kepada dirimu."


Sebuah cahaya keluar dari dalam genggaman tangan Yao Yin dan berubah menjadi sosok yang cukup dikenalnya.


"Dia berkata benar nyonya muda, minumlah ramuan itu. Ratu Asuka, Jaku memberi hormat. Biarkan saya yang memberikan obat itu kepada nyonya muda."


Jaku membungkuk hormat di hadapan ratu Asuka.


"Oh.. Jadi kau pelayanannya."

__ADS_1


Jaku menerima botol kecil pemberian Asuka dengan sedikit mengangguk serta tersenyum ramah.


__ADS_2