Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kebanggaan keluarga Tamura


__ADS_3

Tanpa permisi ataupun sekedar memberi hormat, Jung Bao melesat keluar dari dalam ruangan tersebut. Di susul oleh Arnius dan juga Genta. Ketiga pria itu merasakan bulu Monki yang terbakar oleh api rubah.


Seorang penjaga terlihat menunduk di hadapan Jung Bao dan mengatakan sesuatu.


"Panglima Monki sudah pergi sejak penyambutan tadi tuan panglima. Beliau berkata bahwa salah satu pengawal tuan Zaka sudah memberikan sinyal dengan bulu emasnya."


Arnius dan juga Genta mendengar semua yang dikatakan oleh penjaga tersebut, hingga seorang anak kecil berlari mendekati mereka.


"Paman aku mohon tolong ayahku. Guru Jung, ku mohon."


Arnius membungkuk di hadapan bocah kecil tersebut seraya memegang bahunya.


"Siapa nama mu tuan muda?"


"Yuzar Tamura."


Dengan tegas Yuzar menjawab pertanyaan Arnius seraya menghapus bulir air matanya. Jung Bao pun memberikan sedikit penjelasan.


"Dia adalah putra dari tuan Zaka, tuan muda."


Arnius tersenyum dan kembali berucap.


"Tenanglah tuan muda Yuzar. Ayahmu pasti kembali dengan selamat."


Arnius kembali berdiri tegak dan melihat sekilas ke arah Jung Bao.


"Tetap di sini. Perketat penjagaan Zooi. Akan ku temukan mereka."


Arnius sempat mengibaskan lengannya sebelum berlalu dari tempat tersebut. Dua hewan ilahi terlihat keluar dari dalam giok hitam. Seekor harimau putih dan juga seekor gorila putih.


"Nyonya Gorila, kau bantu mereka menjaga kediaman wilayah dalam. Dielu akan bersama dengan mu. Nara, bawa Doulu berjaga bersama mu di wilayah luar."


Kedua hewan itu mengangguk cepat. Arnius melanjutkan ucapannya seraya melihat sekilas ke arah Eiji yang sudah berada di belakangnya.


"Ji ji minta istrimu mengaktifkan kedua gorila itu."


"Hm."


Eiji hanya mengangguk. Arnius melesat bersama dengan Genta. Keduanya bergerak cepat ke tempat keberadaan Monki yang mereka rasakan saat ada bulunya yang terbakar oleh seekor binatang ilahi yang cukup kuat, yaitu rubah api.


Sementara Eiji yang hendak melangkah untuk menemui istrinya. Wanita cantik itu sudah terlihat berdiri di teras rumah dengan wajah yang masih diselimuti kemarahan karena ucapan sang mertua sebelumnya. Ai Sato menghempaskan Dielu dan Doulu yang masih berwujud kecil, ke halaman yang rumah yang cukup luas tersebut.


Eiji terpaksa harus sedikit melayang untuk menghindari dua gorila batu yang terlempar ke arahnya. Pria itu hanya menggeleng perlahan kemudian bergumam dalam hati seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Kata orang jangan pernah membuat induk singa marah. Namun kemarahan seorang istri ternyata lebih mengerikan."


Ada sahutan yang terdengar dalam telinga Eiji.


"Semoga aku tidak membuat Phoenix es itu marah."


Kin Raiden seolah menyadari ungkapan hati sang tuan muda. Arnius dan Genta yang melesat tidak begitu jauh dari hutan yang membatasi wilayah klan Tamura, mereka melihat beberapa orang yang berusaha melindungi Zaka dari serangan beberapa orang yang berpakaian tertutup. Sementara Monki terlihat begitu beringas saat menyerang seekor rubah api.


Lengan kiri monyet besar itu terlihat sudah sedikit terbakar. Arnius melesatkan satu persatu pisau apinya ke arah sekelompok orang yang masih terus berusaha menyerang sang paman. Pria itu menyisakan seorang pria yang telah ia ikat kedua tangannya dengan menggunakan apinya yang tidak begitu panas.


Sementara Genta menyambut api dari rubah cantik yang kini masih berusaha membakar lawannya.


"Hei rubah cantik. Apa kau tidak memiliki api yang lebih panas. Atau kau mau merasakan api yang lebih panas dari api milik mu?"


Genta masih berusaha membual, saat ia menerima serangan api yang sebenarnya tertuju kepada Monki.


"Ah.. Tidak. Api ku bisa saja membuat bulu ditubuh mu yang halus itu terbakar. Kau jadi tidak cantik lagi nanti."


"Berhenti membual."


Terdengar suara merdu seorang wanita, saat rubah tersebut berbicara. Ia mulai kesal dengan semua ucapan dari pemuda yang masih saja mampu menahan api rubah miliknya.


Serangan api yang dilancarkan oleh rubah cantik tersebut semakin mengganas. Monki sudah menyingkir dari pertarungan keduanya. Dia menangkap botol air yang di lemparkan oleh Arnius, dan mulai meminumnya.


"Siapa mereka paman, kenapa mereka mengincar mu?"


"Kau kembali Ar."


Dengan bulir air mata yang hampir menetes dari matanya, Zaka memperhatikan seluruh tubuh Arnius seraya menepuk kedua bahu keponakannya tersebut.


"Paman, aku baik-baik saja. Begitupun dengan yang lain. Kenapa mereka menyerang paman?"


Arnius kembali mengulangi pertanyaannya.


"Tidak perlu menghiraukan mereka, selama mereka tidak mampu mengalahkan kita."


Arnius beralih pada tubuh seseorang yang telah ia ikat, karena merasa tidak puas dengan jawaban sang paman. Pria itu meletakkan seekor serangga di ujung jari kaki musuhnya, setelah ia menarik paksa sepatu yang dikenakan pria tersebut.


"Katakan dari mana asalmu dan apa tujuan mu. Sebelum serangga itu menguliti tubuh mu perlahan-lahan."


"Aaaa..."


Terdengar jeritan pilu dari pria yang kini menjadi tahanan Arnius.

__ADS_1


"Bangsawan Genji. Mereka menyewa kami untuk melukai setidaknya salah satu diantara anggota kalian. Aaa... Singkirkan binatang ini. Aku sudah mengatakannya."


Arnius mengambil kembali serangga tersebut dan kembali berucap.


"Apakah kami pernah melakukan kesalahan terhadap keluarga itu?"


"Meskipun tuan besar Tamura tidak menolak ataupun menerima pinangan dari tuan muda kami. Namun tuan besar Genji akan merasa malu nantinya. Tuan besar meminta kami untuk menghabisi nona muda kalian, namun sepertinya dia tidak ada. Hanya tersisa adik dari tuan besar Tamura, akhirnya kami menjadikannya target."


Pria tersebut berbicara dengan nafas yang tersengal-sengal, karena menahan rasa sakit yang luar biasa pada sebelah kakinya.


"Kembali pada tuan mu. Katakan padanya, jika ingin menyakiti keluarga Tamura. Akan ku pastikan klan kalian akan musnah tak bersisa."


Dengan penuh ketegasan, Arnius berucap lirih tepat di depan wajah pria yang sudah tak berdaya tersebut.


"Maaf tuan. Si.. Siapa anda?"


"Arnius Tamura. Putra pertama tuan besar Tamura. Kau lihat rubah itu."


Arnius menunjuk rubah api yang sudah menjadi abu oleh semburan api Ryu kogane sang naga emas.


"Ba.. Baik tuan muda. Maa.. Maaf kan kami."


Arnius melepas ikatan api pada pria tersebut. Pertunjukan terakhir sang naga emas membuat pria tersebut lari terbirit-birit. Arnius beralih mendekati Monki yang sudah mulai membaik, setelah meminum air kehidupan.


"Bagaimana keadaan mu panglima?"


"Terimakasih tuan muda. Maafkan kemampuan saya yang rendah ini. Saya siap di hukum."


Monki berlutut di hadapan Arnius. Melihat panglima Monki yang sudah berlutut di hadapan keponakannya, Zaka segera memberi penjelasan.


"Tunggu Ar. Panglima Monki sudah berusaha cukup keras. Ini bukan yang pertama kalinya. Saat bertarung tadi, mungkin dia bahkan belum pulih dari luka yang ia dapatkan dari pertarungannya melawan harimau belang dari keluarga Bao. Zooi bahkan juga terluka. Karena hewan itu begitu ganas."


Zaka menepuk pelan bahu keponakannya.


"Jadi mereka menindas keluarga Tamura."


Rahang Arnius mengeras, kedua tangannya pun terkepal kuat. Zaka mencoba menenangkan keponakannya yang mudah emosi tersebut.


"Tenangkan dirimu Ar. Sebaiknya kita pulang dan bicarakan semuanya di rumah."


Tubuh besar sang naga emas turun perlahan dan mulai berucap.


"Kalian semua naik ke punggung ku. Kita pulang."

__ADS_1


Arnius membantu sang paman serta semua pengawal mereka untuk naik ke punggung naga emas, begitu juga Monki. Naga emas melayang tidak terlalu tinggi di udara. Tempat itu tidaklah begitu jauh dari kota terdekat. Sehingga jelas banyak mata yang memandang kagum dengan kehadiran mereka.


Ryu kogane bahkan berputar sejenak , setelah meminta salah satu pengawal untuk mengeluarkan bendera kebanggaan Klan Tamura. Ryu kogane ingin menunjukkan bahwa dia ada, dan tidak ada yang bisa mempermainkan keluarga Tamura. Ryu kogane seolah ingin menunjukkan bahwa sang naga emas adalah kebanggaan keluarga Tamura.


__ADS_2