
Akira terus berjalan dari satu pos penjagaan ke pos yang lain. Harimau merah penjaga kota naga itu terus memperingatkan seluruh anak buahnya untuk memperketat penjagaan.
Sebelumnya hanya ada dua penjaga di setiap pos, saat ini bukan hanya jumlah pengawal yang bertambah pada setiap pos, melainkan di setiap sudut bangunan ada petugas yang berjaga.
"Sepertinya kabar itu membuatmu gelisah panglima."
Seorang pemuda tampan mendekati Akira yang tengah mengatur pasukannya.
"Pangeran Shoji."
Akira menunduk di hadapan Shoji.
"Di dalam istana juga terdengar kabar seperti itu, namun sepertinya mereka bersikap biasa saja. Hanya saja adik ke empat memperketat penjagaan seperti yang kau lakukan saat ini. Lalu, apakah ada kabar terbaru selain kabar yang ku dengar sore ini?"
"Kabar bagaimana yang telah pangeran ketahui?"
"Kau memintaku mengulanginya?"
Shoji tersenyum sinis.
"Maaf pangeran, saya hanya ingin memastikan bahwa pangeran menerima kabar yang benar."
Akira kembali menunduk.
"Yang ku dengar bahwa pemilik black diamond sedang menuju ke kota ini, dan saat ini dia adalah tawanan dari pangeran Arashi."
"Benar pangeran, saat ini pangeran Arashi bersama yang lainnya sudah beristirahat di villa anggrek."
"Sinziku.. Bagaimana bisa?"
Shoji terlihat tidak percaya.
"Pangeran Arashi datang bersama dengan nona Ai dan dua orang manusia, sepertinya dua orang manusia itu terlihat begitu akrab dengan putri pimpinan."
"Begitu ya... Baiklah lanjutkan pekerjaan mu, aku akan mengunjungi adik manis ku itu."
"Pangeran ini sudah larut, bagaimana jika besok pagi saja."
Akira mengetahui persis bagaimana sifat pangeran naga yang satu ini, sehingga ia mencoba untuk mengulur waktu supaya tidak terjadi keributan di villa anggrek pada malam ini. Atau lebih tepatnya, sebelum dia mengetahui siapa sebenarnya pemilik black diamond tersebut.
"Ada apa dengan mu? sekalipun aku akan tidur di kediaman adik perempuan ku, itu bukanlah urusanmu."
"Baiklah pangeran, saya akan mengantar."
Akira bergegas menyusul Shoji yang sudah melesat menuju ke villa anggrek.
**
__ADS_1
"Kakak aku mohon jangan mengacau di tempat ku."
Sinziku berdiri tepat di tengah sebuah ruangan besar yang terdapat begitu banyak alat bermain anak-anak.
"Apa kau begitu membenci kakak mu ini, hingga kau tidak mengijinkan ku mengunjungi taman bermain mu ini."
"Kakak aku mohon, ini sudah larut. Kasihan anak-anak jika terbangun nantinya."
"Ya.. Ya.. Sekarang tunjukkan di mana aku bisa tidur."
"Akira akan mengantar mu."
Sinziku beralih menatap Akira yang sudah berdiri di depan pintu.
Pangeran Shoji berjalan mengikuti Akira menuju bangunan yang sama dengan yang ditempati oleh pangeran Arashi.
"Tuan putri, hari sudah larut silahkan anda beristirahat. Saya akan menjaga tempat ini."
Akira kembali mendekati Sinziku yang masih memperhatikan para pelayannya yang masih sibuk membereskan beberapa mainan yang berserakan.
Gadis cantik itu hanya mengangguk kemudian melangkah menuju ke kamarnya.
Villa anggrek adalah tempat yang menampung beberapa anak terlantar dan juga orang tua yang sudah tidak lagi mampu menghidupi ataupun mengurus dirinya sendiri.
Selain sebagai tempat penampungan, villa anggrek juga menyediakan layanan kesehatan bagi mereka yang memerlukannya.
Dengan tulus putri Sinziku merawat serta mengobati mereka yang datang, tanpa membedakan asal usulnya, bersama seluruh rekannya. Hal inilah yang menyebabkan pertemuannya dengan para peri rumput biru perak hingga mereka saling menjalin kerjasama sampai saat ini.
Pangeran Shoji adalah kakak ke tiga Sinziku. Hubungan keduanya tidak begitu akrab, hal itu disebabkan oleh sifat kakaknya yang begitu arogan. Shoji lebih terkenal dengan sebutan pangeran hitam, lebih tepatnya pangeran naga hitam.
Sinziku adalah putri ke lima dari urutan seluruh keturunan raja naga saat ini, setelah kudeta yang terjadi pada ratusan tahun silam.
Matahari kembali bersinar, pagi ini langit di atas kota naga terlihat begitu cerah. Seorang pria muda bertubuh besar, terlihat berjalan memasuki lorong villa anggrek dengan sebuah pedang besar di punggungnya dan sebelah tangannya juga menggenggam sebuah tongkat kecil.
Seluruh benda yang menempel di tubuhnya identik dengan warna biru tua. Setelah melihat semua penjaga dan ia juga sempat bertemu dengan Akira, kini ia memasuki sebuah kamar yang pernah ia tempati saat berada di villa anggrek.
"Adik ke empat, sepertinya kau juga menyempatkan diri untuk mengunjungi adik tersayang mu."
Pangeran Shoji menyapa pria gagah yang masih mengenakan jubah perang, sebelum ia memasuki kamarnya.
"Kakak, terimakasih sudah ikut menjaga adik kecil kita."
"Masaru, bukankah kau seharusnya menjaga istana, kenapa kau berkeliaran di tempat ini?"
Shoji tersenyum sinis.
"Kakak ke dua menyuruhku melihat keadaan adik ke empat serta memastikan keamanannya."
__ADS_1
"Tenanglah panglima Masaru.... Akira menjaga adik kita dengan baik."
"Sepertinya aku harus membersihkan diri terlebih dahulu, permisi kakak."
Masaru lebih memilih untuk memasuki kamarnya dari pada nantinya ia harus berdebat dengan kakaknya.
"Haaah... Kenapa kalian begitu mematuhi perintah pangeran cacat itu."
Shoji bergumam seorang diri, sambil berjalan menuju ke taman. Terlihat Sinziku sedang sibuk menyiapkan hidangan bersama beberapa pelayan.
"Selamat pagi putri Sin."
"Pagi kakak."
"Banyak sekali hidangan yang kau siapkan, untuk siapa saja?"
"Tentu saja untuk ke dua kakak ku dan sahabat ku."
Sinziku beralih melihat Ai Sato yang sedang berjalan menuju ke tempat tersebut bersama Yao Yin dan juga Jaku.
"Cantik."
Shoji bergumam perlahan.
"Ku harap kau tidak akan berebut dengan ku, pangeran Shoji."
Arashi yang baru saja tiba di tempat itu, mendengar ucapan Shoji walaupun sangat perlahan.
"Pangeran Arashi, kau memang pandai memilih."
Shoji tersenyum kecil melihat kedatangan Arashi.
"Nona Ai, kau semakin terlihat menawan. Bolehkah aku mengenal gadis yang ada di samping mu?"
Shoji menunduk di hadapan Ai Sato.
"Dia kakak ku. Dan sebaiknya pangeran tidak perlu begitu ingin mengenalnya, karena dia sudah bersuami."
Ai Sato tetap menjaga sopan santunnya di hadapan para pangeran, sekalipun dia begitu kesal.
"Oo.. Jadi benar bahwa pangeran Arashi membawa lari istri orang."
Shoji tersenyum sinis, sementara tangan Arashi terkepal menahan marah.
"Mari silahkan duduk, kita nikmati teh ini bersama. Kakak Masaru ayo cepatlah."
Sinziku mempersilahkan semua tamunya untuk menikmati teh pagi mereka. Gadis cantik itu sedikit mengeraskan suaranya saat melihat kakak ke empatnya yang masih berjalan perlahan.
__ADS_1
"Mari semua, kita duduk dan minum teh bersama. Sangat jarang sekali kita bisa duduk dalam satu meja seperti ini bukan ha.. ha.. ha.."
Ketegangan di antara mereka berubah menjadi suasana hangat, setelah Masaru memulai obrolan biasa bersama Ai Sato dan juga Yao Yin. Sesekali Arashi dan Shoji ikut dalam perbincangan tersebut.