
"Heeerrr... Berjalan yang benar kau sapi gemuk. Kakak, ayolah bantu aku menggiring sapi-sapi ini."
Chio sedikit kesal karena tidak ada satu orangpun yang mau membantunya menggiring dua puluh ekor sapi perah yang di beli oleh Kin Raiden.
"Itu hukuman mu anak muda. Kenapa kau membeli begitu banyak minuman keras, bahkan hingga puluhan guci besar."
Genta duduk tenang di atas punggung sapi yang terbesar.
"Sudah aku katakan, semua itu kapten Zen yang memintanya. Dia harus menjaga Classic pearl, sehingga ia meminta ku untuk membelikannya. Dia bahkan berpesan supaya aku membeli sake yang terbaik. Bukannya kakak juga melihat aku membeli satu kios makanan ringan dan juga kue kering. Aku sangat menyukai semua makanan."
Chio mencoba membela diri.
"Ya sudah, kau duduk saja dengan tenang. Sapi-sapi itu akan berjalan sendiri mendekati Classic pearl, kau tidak perlu menggendong mereka semua."
Genta masih duduk dengan tenang di atas punggung sapi.
"Memangnya mereka minta di gendong, ada-ada saja. Lalu kenapa sejak tadi kakak hanya membeli semua barang kebutuhan wanita."
"Tentu saja untuk calon kakak ipar mu. Dia terlalu sibuk membeli berbagai macam barang yang akan di bawa ke kediaman keluarga baru, sehingga ia sama sekali tidak membeli barang yang ia butuhkan."
"Kakak bahkan mengosongkan beberapa kios pakaian, aksesoris, wewangian dan bahkan kios bunga hanya untuk kakak Kei yang cantik. Aku tidak mengerti kenapa orang yang mencintai bisa lebih gila dari pada sapi yang mengamuk."
"Pada saatnya nanti kau juga akan merasakannya bocah."
Genta tersenyum kecil.
"Aku kira kau ini juga sudah cukup besar dan bahkan hampir tua Tapi kenapa kau tadi juga mengosongkan satu kios mainan anak-anak."
Chio juga sempat melihat kakak keduanya itu membeli seluruh barang yang ada di dalam kios mainan anak-anak.
"Eiji yang meminta ku. Itu semua untuk Kana dan Ryota. Terlalu banyak kios mainan di tempat itu, jadi aku dan dia membeli semuanya. Jika kau ingin bermain juga, kau bisa bermain dengan mereka di dalam giok hitam nantinya."
"Pasti... Itu pasti, aku akan selalu bermain dengan mereka."
Chio menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Dasar remaja tanggung."
Genta menggeleng perlahan.
"Lalu kenapa kakak tidak memasukkan sapi-sapi ini ke dalam cincin ruang milik kalian juga."
"Dasar bodoh, tidak semua cincin ruang bisa menyimpan benda-benda yang masih memiliki nyawa. Hanya giok hitam yang bisa."
__ADS_1
Chio mengangguk mengerti.
"Kakak komandan Arnius Tamura memang luar biasa."
"Lengkap sekali kau menyebut namanya."
"Aku sangat mengaguminya. Kelak aku ingin hebat seperti dia."
"Kau harus banyak berlatih."
"Tentu saja. Aaah... Aku merindukan kakek guru."
Chio sedikit terisak.
"Jangan merengek bocah, kau ini laki-laki."
"Siapa juga yang bilang aku ini perempuan. Aku bahkan lebih tampan dari pada dirimu."
"Kau bilang apa?"
"Kakak Kei yang cantik yang bilang hal itu. Bukan kakak saja yang tampan, tapi dia juga menyebutku tampan."
Chio kembali menunjukkan deretan gigi putihnya.
Chio menarik beberapa tali yang ada di tangannya untuk menghentikan langkah sapi yang terdepan.
"Komandan..."
Chio berteriak keras serta melambaikan tangannya kepada Arnius yang masih berdiri diantara pepohonan.
"Tidak perlu berteriak, dia sudah tahu kedatangan mu bocah."
Arnius mulai berjalan mendekati mereka.
"Apa semua sudah selesai?"
"Sepertinya seperti itu."
Genta menunjuk Kuro yang juga berjalan bersama dengan yang lainnya.
"Masukkan bocah nakal ini juga ke dalam giok hitam. Biar dia yang mengurus sapi-sapi itu. Kau tahu apa yang dibelinya saat di kota tadi?"
"Apa dia membuat keributan?"
__ADS_1
"Dia membeli satu kios sake."
"Tapi komandan, kapten Zen yang memintanya. Sumpah."
Chio menunjukkan dua jarinya.
"Keluarkan saja semuanya di sini. Aku akan memindahkannya ke dalam giok hitam."
Arnius mulai mengayunkan lengannya dan memasukkan semua sapi-sapi ke dalam giok hitam, termasuk juga Chio. Kemudian ia juga memasukkan begitu banyak mainan anak-anak yang dikeluarkan oleh Genta.
"Ayo yang lain berbaris dan keluarkan barang yang harus di simpan di dalam giok hitam. Untuk hantaran pernikahan biar Kei yang cantik yang menyimpannya."
Genta mulai memberi perintah. Jaku dan Mei Mei berlari mendekati Arnius.
"Kami sudah membawa Semuanya tuan muda."
Arnius kembali mengayunkan lengannya.
Eiji mengeluarkan berbagai keranjang mainan serta pakaian dan entah apa lagi yang ada di dalam peti hingga tempat itu di penuhi berbagai barang. Arnius hanya terus mengayunkan lengannya, tanpa peduli apapun itu.
"Semua hantaran pernikahan sudah aku masukkan ke dalam keranjang Kuro. Kita hanya perlu berangkat. Tapi mereka semua harus membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum tiba di kediaman keluarga Sato."
Keiko berjalan mendekati kakak tertuanya.
"Baiklah, bersihkan tubuh kalian di dalam giok hitam. Tapi ingat jangan dekati danau air kehidupan. Genta, tolong kau urus mereka di dalam."
Arnius memasukkan semua rekannya ke dalam giok hitam. Kemudian beralih melesat ke atas Classic pearl.
"Kapten Zen, kau juga harus membersihkan diri. Aku yang akan menjalankan kapal ini, bersihkan dirimu. Dan pastikan kalian melakukannya dengan cepat, aku tidak ingin kalian keluar masih belum mengenakan pakaian."
Arnius kembali mengibaskan lengannya, dan mulai menjalankan Classic pearl secara perlahan.
Chio dan yang lainnya begitu kagum dengan apa yang mereka lihat sat ini. Meskipun Arnius menjatuhkan mereka di dalam kolam air di dekat dermaga, mereka terlihat begitu senang. Mei Mei dan Jaku yang juga di bantu oleh beberapa pelayan angsa lainnya, menyiapkan semua pakaian baru yang akan mereka kenakan.
Sinziku dan juga wanita lainnya membersihkan diri di dalam istana Yao Yin. Istri Arnius tersebut mengingatkan mereka semua untuk bergegas, karena begitu banyak orang di dalam giok hitam bisa melemahkan tenaga Arnius.
Chio dan juga yang lainnya yang begitu penasaran dengan isi di dalam giok hitam, segera menyelesaikan mandi mereka dan bergegas berkeliling untuk melihat luasnya tempat tersebut.
Mereka berdecak kagum saat melihat gunungan emas yang menjulang tinggi, peternakan ayam besar yang sering mereka makan, dan juga perkebunan buah besar yang juga sering Arnius keluarkan. Semua itu kini mereka lihat sendiri di dalam giok hitam yang begitu luas.
Terlihat juga beberapa pelayan angsa yang hilir mudik menyiapkan berbagai makanan dan juga kebutuhan mereka. Para peri kecil yang begitu banyak juga membuat mereka semua hampir lupa untuk menutup mulut mereka karena begitu kagum dan terkesima.
Chio begitu kagum dengan satu pohon besar yang kini dinaikinya. Pohon yang begitu lebat dan indah. Arnius pun merasakan setiap hal yang dilakukan oleh semua rekannya yang ada di dalam giok hitam.
__ADS_1
Ia membuat pohon itu berbuah berbagai macam jenis buah. Hal itu membuat Chio semakin kagum. Ia kini bergelayutan memetik setiap buah yang ia jumpai. Mulutnya tidak berhenti mengunyah, seolah perutnya tidak pernah kenyang. Begitupun dengan Kuma dan yang lainnya. Arnius hanya tersenyum kecil melihat tingkah semua rekannya. Sementara Genta memastikan mereka semua tidak mendekati danau air kehidupan.