
"Sebaiknya kali ini biarkan dia tidur bersama ibu dan saudaranya. Ayo kita kembali."
Arnius berniat untuk turun dari tempatnya duduk saat ini. Namun baru saja pria itu menundukkan pandangannya ke bawah, ia dikejutkan dengan sosok seorang anak kecil.
"Kana juga ingin tidur dengan ayah. Kenapa ayah pergi tanpa membawa ku?"
Karena begitu terkejut, Arnius hampir melesatkan pisau apinya. Beruntung Ryu kogane menahan lengannya.
"Sejak kapan anak ini berada di tempat ini, kenapa aku tidak menyadarinya."
Arnius bergumam perlahan seraya turun dari atas pohon.
"Itu adalah salah satu kelebihan gadis kecil mu. Bergerak tanpa terdeteksi, semoga beruntung ayah."
Ryu kogane menegaskan kalimat terakhirnya seraya tersenyum sinis, kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya yang masih berusaha menguasai energi yang tadinya ingin dia keluarkan.
Dari kejauhan terlihat sosok wanita yang begitu ia kenali. Yao Yin berusaha mengikuti setiap pergerakan dari kedua anaknya. Namun sepertinya, wanita itu masih sedikit tertinggal.
Setelah kembali menguasai keseimbangan energi di dalam tubuhnya, Arnius sedikit menunduk dan mulai menggendong putra dan putrinya pada ke dua lengannya. Ke dua matanya menatap wajah Yao Yin saat pandangan mereka bertemu. Terlihat senyum kecil dari balik cadar tipis istri cantiknya itu.
"Sekarang kau tahu bagaimana rumitnya menjaga mereka."
Arnius hanya mendesah perlahan, saat pria itu mendengar ucapan dari istrinya. Arnius kembali teringat ucapan Genta, sebelum sahabatnya itu melangkah pergi.
"Aku tidak akan lagi mengharapkan keberuntungan, karena mereka adalah keberuntungan ku yang melimpah"
Arnius bergumam dalam hati.
"Bagaimana kalian berdua bisa terbangun. Bukankah kalian tidur begitu lelap?"
Arnius mulai membuka pembicaraan pada kedua anaknya yang masih terlihat menguap berulang kali.
"Sudahlah ayah, ayo kembali tidur. Aku masih mengantuk."
Ryota berusaha menjawab ucapan sang ayah, sebelum pria kecil itu kembali tertidur di atas pundak ayahnya. Begitupun dengan Kana, gadis kecil itu bahkan sudah terlihat begitu lelap.
Sambil terus melangkahkan kakinya, Arnius mencoba untuk mengenali energi yang di miliki oleh ke dua anaknya. Pria itu mulai mengalirkan sedikit energinya ke dalam tubuh putra dan juga putrinya.
Di dalam mata batinnya, terlihat sebuah gambar naga emas pada lengan kiri ke dua anaknya.
"Awas kau kogane."
Arnius hanya bisa menggerutu saat melihat tanda pada lengan ke dua anaknya.
"Tidurkan saja mereka di dalam, sepertinya musim sudah berganti. Udara di luar begitu dingin saat pagi."
__ADS_1
Yao Yin membukakan pintu kamarnya, Arnius hanya mengikutinya. Terlihat sebuah karpet tebal membentang menutupi seluruh ruangan itu. Selimut tebal pun terlihat di sana. Arnius menidurkan Kana dan Ryota, kemudian menyelimuti seluruh tubuh mereka.
Yao Yin mulai ikut membaringkan tubuhnya di samping kedua anaknya, setelah mengikatkan sebuah tali transparan pada ke dua pergelangan tangan anaknya.
"Kau selalu melakukan itu kepada mereka."
"Hm."
Arnius mengernyitkan keningnya saat melihat semua yang dilakukan oleh istrinya. Sementara Yao Yin hanya menjawab dengan gumaman singkat. Arnius masih terus memandangi wajah istrinya, seolah masih banyak pertanyaan yang ingin pria itu tanyakan.
"Beristirahatlah, besok kau boleh bertanya apapun."
Yao Yin mengerti akan tatapan suaminya.
"Baiklah aku akan tidur. Tapi aku akan tidur di samping mu."
"Terserah kau saja."
Yao Yin hanya menjawab singkat dan mulai memejamkan matanya. Sebuah lengan besar terasa memeluk pinggangnya, namun wanita membiarkannya dan kembali terlelap.
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya. Beberapa anggota Classic team pun sudah kembali terbangun. Mereka semua sudah selesai dengan kegiatan paginya, termasuk membersihkan tubuh serta memakan sarapan mereka. Seluruh mata tertuju pada sebuah pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Apa komandan begitu lelah. Matahari sudah hampir tinggi dan mereka belum juga bangun."
"Apa semalam telah terjadi sesuatu?"
Gumaman kecil mulai terdengar saling bersahutan dari beberapa anggota Classic team yang masih menatap pintu kamar yang belum juga terbuka.
"Ke dua monster kecil itu juga tidur di dalam. Apakah mungkin mereka bisa melakukannya."
"Benar juga."
Semua bisikan itu terhenti saat seorang gadis cantik berambut putih berdiri di antara mereka dengan tatapan mata yang terlihat begitu marah.
"Apa yang kalian bicarakan. Kalian pikir kakak ku melakukan apa. Mereka adalah pasangan suami istri, apa kalian lupa?"
Keiko berbisik dengan geram seraya menatap tajam semua rekannya.
"Bukan begitu cantik, kami tidak lupa jika mereka itu adalah pasangan suami istri. Namun sepertinya jiwa bujang kami ini seolah meronta-ronta. Kau tahukan maksudku bukan?"
Genta pun berucap dengan sedikit berbisik. Keiko menghentakkan kakinya kesal. Tubuh Genta hampir saja membeku, jika tidak terdengar suara pintu yang mulai terbuka.
"Bibi cantik."
Keiko mengurungkan niatnya, setelah mendengar suara gadis kecil yang menyapanya.
__ADS_1
"Kalian jangan berpikiran macam-macam. Apa dengan berbisik, aku tidak bisa mendengar semua ucapan kalian."
Sosok berikutnya yang tampak keluar dari dalam kamar, membuat mereka semua benar-benar terpaku di tempat.
"Ti.. Tidak komandan. To.. Tolong jangan salah paham."
Zen terlihat begitu ketakutan dan bergegas pergi dari tempat itu begitupun dengan yang lainnya.
"Kogane, kemari kau."
Genta yang sebelumnya juga ikut melangkah pergi, tiba-tiba berhenti karena mendengar panggilan itu.
"Maaf Ar, aku tidak akan menghasut pikiran polos mereka lagi. Sungguh."
Genta berbalik seraya menunjukkan dua jarinya, jari telunjuk dan juga jari tengahnya.
"Kenapa kau menandai mereka berdua."
Arnius begitu geram dan hampir menarik kerah baju sahabatnya itu.
"Ta.. Tanda apa maksud mu. O.. Tanda itu."
Genta sedikit tergagap dan mulai menyadari arah pembicaraan mereka. Sementara mereka yang mendengar serta melihat hal itu semakin ketakutan.
"Baru kali ini, aku melihat komandan begitu marah dengan naga besarnya."
Zen bergumam dalam hati.
"Tenanglah Ar, aku akan menjelaskannya. Se.. Sebaiknya kalian makan terlebih dahulu."
Genta berusaha mengalihkan perhatian dan berharap seseorang keluar dari dalam kamar itu untuk membantunya. Namun sepertinya harapan itu sia-sia, karena Arnius saat ini benar-benar mencengkeram erat pundaknya.
"Nona Yin tolong aku. Tolong kau jelaskan semuanya kepada suamimu ini, sebelum dia membuat tubuhku cacat."
Genta mulai sedikit berteriak.
"Bukankah kau yang membuatnya. Lalu bagaimana bisa aku menjelaskannya."
Terdengar sahutan dari dalam kamar.
"Aku akan menjelaskannya, tapi setidaknya tidak di hadapan mereka berdua. Tolonglah, harga diriku bisa hancur di mata mereka."
Genta sedikit berbisik seraya melirik ke arah Kana dan Ryota. Arnius mengambil giok hitam dari pergelangan tangan Ryu kogane dan memindahkannya ke pergelangan tangannya.
Hanya dalam waktu sekejap, tubuh keduanya sudah tidak lagi terlihat. Arnius membawa Genta ke dalam giok hitam. Kini keduanya sudah duduk saling berhadapan. Arnius menatap tajam wajah sahabatnya itu, sementara Genta hanya bisa menelan ludahnya kasar dan mulai berbicara.
__ADS_1