Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
kerjasama yang indah


__ADS_3

"Semoga kita tidak terlambat, dan bagaimana kau bisa menyelinap mengikuti ku. Apa pangeran mengetahui hal ini?"


"Tenanglah Zora, tanpa ijin dari kakak Naoki. Aku tidak akan berani mengikuti mu. Sahabatku membutuhkan aku saat ini, ayo cepatlah."


Dua ekor kuda melaju dengan cepat, melewati hutan dan lembah. Siang berganti malam mereka lewati tanpa berhenti. Setelah mendengar kabar penyerangan terhadap keluarga Tamura, Zora bergegas meminta ijin untuk keluar dari istana. Saat ia sampai di gerbang luar istana, seseorang sudah menunggunya. Tuan putri Azumi, sahabat serta teman kecil Keiko. Keduanya tumbuh di istana, di bawah bimbingan guru Haruka serta para panglima yang senantiasa menjadi pengasuh mereka.


**


"Cepatlah kapten, aku merasa ada yang aneh dengan langit merah itu."


"Ini sudah tercepat yang bisa dilakukan oleh Classic pearl. Tenanglah, sekalipun ada yang menyerang mereka. Teman besar ku pasti tidak akan membiarkan mereka semua terluka."


Setelah melihat keadaan keluarganya, Yuki memutuskan untuk ikut kembali bersama kapten Zen ke kediaman Tamura. Setelah melaporkan seluruh tugas yang telah dilakukannya, Wu Ling pun meminta ijin untuk kembali bersama Kapten Zen. Kini ketiganya yang masih dalam perjalanan menuju pegunungan Nagano, melihat langit malam yang berwarna terang tepat di atas pegunungan.


"Persiapkan persenjataan kita, aku takut terjadi apa-apa dengan mereka. Kabar yang ku dengar saat kita mengisi perbekalan, klan Ito sedang melakukan serangan untuk memusnahkan sebuah keluarga."


Wu Ling dan Yuki bergegas menyiapkan persenjataan yang ada, setelah mendengar perintah sang kapten.


"Cepatlah kapten, mereka di serang. Warna terang itu adalah api sang naga besar."


Wu Ling bergegas mengambil panah setan, setelah mendengar suara raungan sang naga besar. Yuki pun bersiap dengan meriam tombak yang siap ia luncurkan.


"Mereka benar-benar di serang dari berbagai sisi. Kita harus memiliki rencana yang tepat untuk membantu mereka. Jika tidak, kita hanya akan menghantarkan nyawa. Berpikirlah Yuki ayo berpikir."


Yuki menepuk-nepuk pelan kepalanya.


"Aku melihat mereka, Zora berkuda bersama tuan putri."


Wu Ling berteriak saat melihat Zora mulai memasuki kediaman Tamura.


"Ku harap mereka melihatku."


Yuki menembakkan panahnya ke tanah tepat di depan gerbang, hingga membuat keduanya mendongak ke atas serta menghentikan laju kuda mereka.


Tanah yang sudah tertancap panah mulai naik secara perlahan, Zora dan Azumi bergegas turun dari punggung kuda kemudian berpegangan pada panah yang telah tertancap di tanah. Yuki mulai menggerakkan tanah secara perlahan.

__ADS_1


"Aku akan membuat kalian terbang mendekat, lakukan perlawanan semampu kalian. Kapal ini terlalu besar untuk mendekat ke arena pertempuran."


Zora dan Azumi mengangguk hampir bersamaan setelah mendengar ucapan Yuki. Keduanya berpegangan erat pada batang panah yang telah tertancap sebelumnya. Laju tanah yang dikendalikan Yuki bergerak semakin cepat dan mendekat ke tempat pertempuran.


Zora menyiapkan peledak khusus buatannya dan menyerahkan beberapa diantaranya kepada Azumi.


"Lemparkan bola hijau ini ke arah kerumunan para ninjutsu, sementara yang merah akan menempel pada tubuh hewan ilahi jika kau bisa melemparnya dengan tepat."


Azumi mengangguk mengerti.


Yuki menerbangkan keduanya dengan cepat. Jika aksi keduanya sudah bisa di baca oleh lawan, nyawa mereka akan menjadi taruhan. Suara ledakkan mulai terdengar, Zora dan Azumi melakukan aksinya dengan baik. Beberapa hewan ilahi yang terkena lemparan bola merah, mulai hilang kendali. Para hewan besar itu kini seakan mengamuk dan berusaha untuk menyakiti diri mereka sendiri.


Ujung mata naga besar menyadari aksi keduanya, Arnius pun demikian. Dimana ada ledakkan, disitulah seluruh rekanya berada. Naga emas mulai menyadari jalur yang telah dibuat oleh keduanya, tubuh naga besar mulai terbang meliuk mengikuti keduanya. Kibasan ekornya mulai melibas setiap hewan besar yang sudah hilang kendali.


"Kau yang terbaik sensei kecil."


Arnius tersenyum perlahan, saat tubuhnya di sambar oleh sang naga emas kemudian berdiri di atasnya. Ia mengeluarkan pisau api dari kedua tangannya untuk membelah tubuh para hewan besar yang mereka lewati.


"Kerjasama yang indah teman."


Beberapa hewan besar sudah mulai teratasi, namun getaran di sekitar rumah beruang tua semakin terasa. Pekik sang Phoenix terdengar membahana, hal itu membuat mereka menyadari ada yang tidak beres dengannya.


Keiko sudah berusaha mendeteksi beberapa tempat, dengan menghujamkan tongkat emas miliknya ke tanah selama beberapa kali. Minori pun tidak tinggal diam. Dengan tubuh airnya, ia berulang kali menyatu dengan tanah untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya.


Yuki menurunkan kedua rekannya tepat di halaman rumah beruang tua. Petir sang Phoenix sudah menyambar habis tubuh ninjutsu yang berada di sekitar wilayah tersebut.


Yuki bergegas turun dari atas Classic pearl, saat kapal besar tersebut sudah berada tepat di atas rumah beruang tua. Ia menyadari apa yang telah membuat burung petir itu panik, ada getaran yang berasal dari dalam tanah.


Setelah melakukan beberapa gerakan, Yuki menempelkan kedua tangannya ke atas permukaan tanah.


"Cepat keluarkan semua orang dari dalam ruangan itu, aku akan menahan hewan itu semampu ku."


Yuki berteriak keras, Eiji bergegas memasuki rumah dan di susul oleh Raiden yang sudah merubah kembali tubuhnya.


"Zora, tunjukkan jalan keluar untuk beruang ini."

__ADS_1


Eiji meletakkan tangan beruang tua yang cukup besar di atas pundak Zora. Dengan cepat, alkemis muda itu berusaha menuntun beruang tua untuk keluar dari dalam rumah. Dengan di bantu oleh Raiden, Eiji membuka pintu ruangan yang tadinya di duduki oleh beruang tua.


"Kakak ada sesuatu yang mendekat dengan cepat dari dalam tanah. Hewan itu telah berhasil merusak segel milik kakak Yin, dan saat ini ia berusaha menyerap energi kakak Yin melalui segel tersebut."


Dengan dibantu oleh Jaku, Keiko membopong tubuh kakak iparnya yang masih lemas untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Kei, selamatkan ayah dan juga ibu. Bawa semuanya menjauh dari tempat ini. Mereka hanya menginginkan diriku."


Ucapan Yao Yin terdengar begitu lemah.


"Kakak bertahanlah, aku tidak akan membiarkan dirimu dan juga mereka semua terluka."


Setelah semua orang menjauh dari tempat tersebut, sebuah ledakkan terdengar dari dalam tanah. Yuki memuntahkan darah segar, saat ia tidak mampu lagi menahan sesuatu yang mencoba keluar dari dalam tanah.


Dengan cepat Kin Raiden memasang segel petir di sekitar Yuki, setelah menyadari temannya itu terluka. Sementara ujung matanya melirik ke arah Minori yang juga sudah memasang segel air di sekeliling kumpulan keluarga Tamura.


"Jangan ada yang keluar dari segel air milikku, aku mohon padamu nona. Tetap di tempat mu."


Tatapan mata Minori terlihat begitu memohon, ia tahu betul tabiat dari nona mudanya tersebut.


Setelah Yao Yin tidak sadarkan diri, Jaku kembali memeriksa kondisi tubuh nyonya mudanya itu. Ada kabar yang membuat bahagia seluruh keluarga Tamura, namun saat ini kondisi tubuh Yao Yin sendiri sedang di pertaruhkan.


Gina memeluk erat tubuh menantunya yang sedang duduk bersila guna mencoba menahan rasa sakit karena ada yang berhasil merusak segel miliknya, kemudian berhasil menggunakannya untuk menghisap energi tubuhnya.


"Bertahanlah putriku."


Hanya mampu memberi dorongan dan semangat, itulah yang dilakukan Gina saat ini terhadap menantunya yang masih menahan rasa sakit yang semakin hebat.


"Nius, kumohon lakukan sesuatu untuk menantuku. Aku akan berusaha untuk sembuh dan hidup seribu tahun lagi untuk melihat cucuku."


Suara parau Yaza terdengar begitu memilukan, lelaki tua itu kini bersimpuh di samping tubuh menantunya.


Walaupun ucapan Yaza tidak begitu keras, namun Arnius mampu mendengarnya dengan jelas meskipun dia masih berdiri di atas punggung naga besar dan masih di sibukkan dengan beberapa hewan besar.


"Jadi kalian juga mengincar istriku."

__ADS_1


__ADS_2