
Yao Yin merasa ada sesuatu yang aneh. Sudah lama mereka keluar dari dalam hutan hujan, namun semenjak mereka melewati perkebunan penduduk, hingga matahari hampir terbenam mereka belum tiba di pintu gerbang kota naga. Ai Sato juga merasakan hal yang sama, keduanya saling berpandangan kemudian mengangguk hampir bersamaan.
"Pohon buah yang sama."
Yao Yin mulai memperhatikan setiap pepohonan.
"Batu yang sama."
Sementara Ai Sato memperhatikan setiap benda yang telah mereka lewati.
"Tikungan yang sama. Nona, kenapa aku merasa sudah berkali-kali melewati tempat ini?"
Jaku pun merasakan hal yang serupa.
"Ilmu ilusi, berhenti."
Ai Sato menghentikan laju kuda yang menarik kereta mereka. Arashi mulai menyadari ada yang mencoba mengganggu perjalanan mereka. Seketika tanah di sekitar mereka mengeluarkan kilatan cahaya setelah Arashi turun dari punggung kudanya.
"Dia memperkuat penguasaan wilayah segelnya."
Ai Sato bergumam perlahan. Ia bergegas melesat ke atap kereta, kemudian ...
Criiiing...
Terdengar suara gemerincing disertai kilauan butir cahaya setelah gadis cantik itu berputar beberapa kali.
Beberapa tumbuhan berwarna biru keperakan mulai tumbuh di beberapa tempat. Tumbuhan kecil yang tidak begitu tinggi, hanya berkisar satu jengkal telapak tangan, berdaun biru dengan beberapa garis perak di tengahnya. Bentuk daunnya hampir menyerupai mahkota bunga. Suasana di sekitar kereta kuda mulai terlihat berbeda. Jalan yang seharusnya mereka lewati mulai terlihat.
"Putri rumput biru perak. Kau bisa mematahkan sihir ilusi milik ku, tapi mungkin tidak dengan jaring beracun ku."
Lesatan benang-benang halus meluncur dengan cepat ke tempat mereka, tanpa mengetahui siapa yang telah menyerang.
Arashi mengarahkan sebelah telapak tangannya ke udara, hingga terbentuk segel pelindung. Benang-benang halus yang telah melesat ke arah mereka tiba-tiba meledak dan hancur saat bersentuhan dengan segel perisai yang di buat oleh Arashi.
"Apa kau begitu takut kepada ku, hingga kau tidak menunjukkan dirimu?"
Arashi tersenyum sinis. Ia berusaha memancing lawannya, supaya memasuki wilayah segelnya.
"Aku tidak bodoh pangeran sembilan. Tolong tinggalkan saja manusia yang sedang bersama dengan kalian. Aku akan membiarkan kalian berdua melanjutkan perjalanan tanpa ada gangguan."
Suara serak seorang wanita terdengar membahana.
"Ke dua gadis ini adalah calon istriku, jadi aku tidak akan pernah meninggalkan mereka. Apa kau mau berebut dengan ku, siluman rendah?"
"Pangeran sembilan, kau memang tidak bisa diremehkan."
Semburan cairan hitam hampir menghujani tubuh mereka, namun Arashi kembali memperkuat perisai pelindung yang di buatnya. Hingga kembali terdengar dentuman keras.
Auman singa, lolongan serigala dan teriakan dari beberapa hewan mulai terdengar di sekitar tempat tersebut. Beberapa hewan sudah terlihat mengerumuni mereka walaupun dalam jarak yang sedikit jauh. Suara yang mereka keluar seolah sebagai peringatan bahwa mereka siap untuk menyerang.
"Kalian jangan ikut campur, wanita itu milikku."
__ADS_1
Seorang wanita tua berlengan panjang yang menyerupai kaki laba-laba, terlihat berdiri di antara pepohonan.
Ucapan wanita laba-laba tersebut hanya di balas dengan auman keras seekor singa besar. Auman sang raja hutan benar-benar membahana, hingga membuat beberapa guncangan hebat. Beberapa kilatan api melesat cepat ke arah wanita laba-laba, setelah satu kaki depan singa besar tersebut mencengkram tanah.
Lengan panjang wanita laba-laba mulai bergerak menopang tubuh tuanya untuk secepatnya menghindari api yang masih saja mengincar tubuhnya.
"Hentikan serangan kalian, apa kau tahu. Dengan memakan tubuh manusia itu, kita bisa bertambah kuat. Apalagi dia memiliki sesuatu yang bisa membuat kalian tunduk kepadanya. Mari kita bunuh manusia itu."
Beberapa tangan besar berbulu mulai menyerang tubuh wanita laba-laba, setelah ia menyelesaikan ucapannya.
Lesatan api dan juga hantaman beberapa tangan besar, membuat tubuh nya limbung dan terjatuh. Terlihat sebagian tubuhnya terbakar oleh api, beberapa lengan panjang yang di milikinya pun patah karena hantaman tangan seekor gorila.
"Sepertinya aku tidak perlu turun tangan."
Arashi tersenyum kecil dan melipat kedua tangannya di depan dada. Pangeran negri bulan tersebut masih belum menyadari arti dari ucapan wanita laba-laba tersebut.
Bagi seseorang yang memiliki kekuatan besar seperti Arashi, seharusnya dia mengetahui aura yang dikeluarkan oleh black diamond. Namun karena pangeran tersebut begitu angkuh dan terlalu percaya diri, hingga menyepelekan beberapa hal kecil.
Sinziku dan Akira melesat ke satu tempat, setelah keduanya mendengar auman serta merasakan guncangan hebat di sekitar tempat tersebut.
"Aura itu semakin terasa."
Akira bergumam perlahan.
"Apa kau merasakannya panglima?"
Sinziku pun mulai menyadari aura kecil yang dikeluarkan oleh black diamond.
Keduanya berhenti dengan jarak yang cukup jauh, setelah melihat beberapa hewan yang berkumpul mengelilingi sebuah kereta. Sinziku melihat sahabatnya berdiri anggun di atas atap kereta.
Hantaman dan sayatan api kembali menyerang tubuh wanita laba-laba hingga tak bernyawa.
Yao Yin mengayunkan lengannya dari balik jendela yang terbuka setelah menyadari kehadiran dua kekuatan besar yang kini mendekati tempat mereka.
Seluruh kumpulan hewan besar mulai pergi meninggalkan tempat tersebut. Terlihat Sinziku dan Akira berjalan perlahan mendekati kereta.
"Tuan putri Sin."
Ai Sato melompat turun dari atap kereta.
"Arashi memberi hormat kepada tuan putri."
Arashi menunduk di hadapan Sinziku.
"Kenapa kau tidak mengabari ku, jika kau ingin berkunjung. Setidaknya aku bisa memberikan sedikit penyambutan."
Sinziku mengabaikan Arashi, gadis cantik itu lebih memilih untuk memeluk sahabatnya.
"Siapa yang kau bawa Ai?"
Sinziku melihat seorang wanita keluar dari dalam kereta.
__ADS_1
"Yao Yin memberi hormat tuan putri."
Sinziku menganggukkan kepalanya dan berjalan mendekati Yao Yin yang masih terdiam.
"Panggil saja aku Sin, jangan terlalu sungkan kakak Yin."
"Terimakasih tuan putri."
Yao Yin tersenyum kecil.
"Mari kita ke vila anggrek, kakak perlu beristirahat."
Sinziku melihat tubuh Yao Yin yang sedikit melemah, kemudian menuntunnya masuk ke dalam kereta dengan di bantu juga oleh Jaku yang tadinya duduk di samping pengendali kuda.
Kereta kembali berjalan mengikuti Akira yang berlari terlebih dahulu. Sementara Sinziku melesat bersama dengan Ai Sato di samping kereta.
"Kau berhutang penjelasan padaku."
Sinziku menatap wajah sahabatnya.
"Aku pun baru mengetahuinya, sementara pangeran bodoh itu sepertinya mengabaikan aura kecil yang di keluarkan oleh benda tersebut karena terlalu percaya diri."
Ai Sato mengerti arti dari ucapan serta tatapan mata sahabatnya.
"Aku begitu terkejut saat panglima Akira mengatakan bahwa kau melakukan perjalanan bersama dengan pangeran tersebut."
"Sungguh menyebalkan."
Keduanya berbincang perlahan hingga tiba di depan sebuah bangunan megah.
"Kakak kita akan berbincang lagi besok. Malam hampir larut sebaiknya kakak beristirahat."
Sinziku mengantar Yao Yin ke dalam sebuah kamar yang cukup besar dan nyaman.
"Ada kamar yang lain untukmu di lorong sebelah sana."
Sinziku menunjukkan lorong yang bersebelahan dengan kamar Yao Yin kepada Jaku.
"Terimakasih tuan putri, saya akan menemani nyonya muda di sini."
Jaku tersenyum kecil, kemudian mengikuti Yao Yin memasuki kamar tersebut. Sekalipun itu di dalam goa yang gelap, Jaku tidak akan pernah jauh dari nyonya mudanya. Sebelum tuan muda Arnius datang menjemput mereka.
Ai Sato memasuki kamar yang bersebelahan dengan kamar Yao Yin, setelah berbincang sesaat bersama Sinziku.
Sementara Akira mengantarkan Arashi ke bangunan yang lain.
"Kenapa kau membawaku tidur di bangunan yang lain?"
"Ini karena permintaan dari tuan putri, di tempat ini laki-laki dan perempuan tidur di bangunan yang terpisah. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Silahkan beristirahat pangeran."
Akira berhenti melangkah setelah mereka tiba di depan sebuah pintu kamar yang masih tertutup.
__ADS_1