Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Mata iblis


__ADS_3

Ritual pernikahan sudah di lakukan dengan baik oleh Eiji dan juga Ai Sato, kini keduanya mulai lelah untuk selalu tersenyum kepada setiap tamu yang menghadiri acara pernikahan tersebut. Tubuh Ai Sato mulai terlihat lemas, karena sudah berdiri cukup lama.


Seluruh rekan Classic team menarik tubuh keduanya untuk duduk serta minum bersama dengan mereka. Ai Sato tidak lagi duduk dengan benar, melainkan menyandarkan kepalanya pada bahu sahabatnya Sinziku.


"Dia sudah terlalu lelah, kau harus membawanya beristirahat di kamar. Kau angkat tubuhnya dan aku akan menunjukkan jalan ke kamarnya."


Sinziku menarik ujung jubah Eiji. Tanpa banyak bicara, Eiji mulai mengangkat tubuh istrinya dan berjalan mengikuti Sinziku. Setelah meletakkan tubuh Ai Sato di atas ranjang, Eiji bergegas keluar dari dalam ruangan.


"Hei kau mau ke mana? seharusnya aku yang keluar. Kau harus menemaninya di sini."


Sinziku sedikit berteriak kepada Eiji.


"Bukankah kau temannya, jadi sebaiknya kau yang di sini. Aku akan keluar bersama yang lain."


Eiji berlalu pergi tanpa menghiraukan panggilan dari Sinziku. Adik perempuan Ryu kogane tersebut hanya mendengus kesal.


"Kenapa kau yang kembali ke sini. Di mana Sinziku?"


Genta melihat Eiji yang sudah kembali duduk di antara mereka.


"Aku meminta adik mu untuk menjaganya. Kenapa?"


"Dasar bodoh. Kau ini suaminya, kenapa harus dia yang menjaga istri mu. Kalian berdua kakak beradik sama saja."


Genta melihat Arnius dan juga Eiji secara bergantian.


"Kau tidak lihat, dia tadi begitu kelelahan. Jika aku tetap di dalam kamar itu, aku bisa saja membuatnya semakin lelah."


"Betul juga. Baiklah, kali ini kau harus bersabar teman. Ayo kita habiskan minuman ini bersama."


Genta menepuk pelan pundak Eiji seraya kembali menegak habis satu guci sake. Malam semakin larut, seluruh Classic team hampir tidak lagi memiliki kesadaran penuh. Kecuali Chio yang hanya meminum beberapa sari buah, namun perutnya terlihat membuncit karena banyaknya makanan yang sudah ia makan. Arnius selalu menemani remaja tanggung tersebut untuk memastikannya tidak membuat masalah.


Seorang pelayan mendekati mereka untuk menunjukkan ruangan yang bisa dipakai untuk beristirahat, namun Arnius menolaknya. Komandan Classic pearl tersebut lebih memilih memanggul satu persatu seluruh rekannya untuk kembali ke atas Classic pearl.


Walau sedikit sempoyongan, namun Genta masih sanggup berdiri tegap serta ikut membantu mengangkat tubuh beberapa rekan mereka. Tubuh besar kuma dan juga kapten Zen pun mampu diangkat seorang diri oleh komandan mereka.


Seluruh pelayan dan beberapa orang tamu yang masih tersisa begitu terkesima melihat kekuatan tubuh Arnius. Mereka semua pun kagum karena ketulusan seorang komandan yang mau mengurusi seluruh anak buahnya yang sudah tidak berdaya.

__ADS_1


Setelah semua rekannya kembali ke atas Classic pearl, Arnius meminta Jaku dan juga Mei Mei untuk membuat minuman penghilang rasa mabuk dan memberikannya kepada mereka. Sudah sejak mereka tiba di kediaman Sato, Arnius merasakan ada sosok yang selalu memperhatikannya.


"Apa kau merasakannya?"


Arnius memberikan satu mangkuk minuman kepada Genta.


"Apa? Siapa?"


Genta berdiri dan mulai memperhatikan sekitarnya setelah meminum air pemberian Arnius.


"Baguslah jika dia tidak mengincar mu."


"Apa maksudmu?"


"Aku bisa merasakannya, dia mengarahkan kekuatannya kepada ku. Pasti karena black diamond. Dengarkan aku Genta. Apapun yang terjadi dengan ku, kau harus selamatkan mereka semua."


Arnius menarik lengan kiri Genta dan memindahkan giok hitam ke tangannya.


"Hei apa yang kau lakukan?"


"Dengar, aku mungkin tidak bisa mengalahkannya. Dia iblis, makhluk itu bisa menyerang ku ataupun membawa ku kapan saja. Jadi kau yang bertanggung jawab atas keselamatan mereka semua dan juga bayi ku."


"Kau mungkin tidak mampu melihat mereka. Mereka terlalu kuat, hanya yang mereka kehendaki lah yang bisa melihatnya. Tenanglah, aku akan berusaha semampuku. Sekarang waspadalah, aku ingin melihat ke dua bayiku walaupun untuk yang terakhir kali."


Arnius melesat ke dalam giok hitam untuk mengunjungi Kana dan Ryota. Pria tegap itu menggendong kedua bayinya kemudian menciumi kedua pipi mungil mereka.


"Kenapa?Apa yang terjadi?"


Yao Yin melangkah mendekati suaminya.


"Besarkan mereka dengan baik. Genta akan memastikan kalian semua baik-baik saja. Aku merasakan ada iblis yang mengincar ku. Aku berusaha untuk tetap hidup walaupun mereka mengurungku nantinya."


"Kenapa?"


"Sepertinya mereka menginginkan black diamond."


Yao Yin tidak mampu lagi berucap, ia hanya memeluk tubuh suaminya dengan berlinang air mata.

__ADS_1


"Aku sudah menyerahkan giok hitam ke tangan Genta. Jika aku tidak kembali, teteskan darah Ryota ke dalam giok hitam ataupun danau air kehidupan saat dia sudah bisa bertanggung jawab atas semuanya."


Yao Yin semakin terisak serta memeluk erat tubuh ayah dari kedua bayinya.


Keiko yang berada di luar ruangan tersebut hanya bisa terduduk lemas saat tanpa sengaja mendengar percakapan ke dua kakaknya. Ke dua matanya kini berkaca-kaca saat melihat sosok kakak tertuanya yang sudah berdiri di hadapannya.


"Dengar, kau harus kuat gadis kecil. Jaga mereka dan juga ayah serta ibu Gina. Aku tahu kau yang terbaik. Genta adalah pilihan yang tepat, dia akan selalu menjagamu."


Arnius memeluk tubuh Keiko yang sudah bergetar menahan tangis.


"Sebegitu hebatkah mereka?"


Arnius hanya tersenyum kecil dan berlalu dari hadapannya.


Dengan menggendong tubuh Kana dan Ryota, Yao Yin dan juga Keiko berlari keluar dari dalam istana kecil dan menuju bola kristal yang selalu menampakkan semua kejadian yang terjadi di dunia luar.


Sekalipun malam begitu gelap di dunia luar, namun malam di dalam giok hitam tidak begitu gelap seperti halnya di dunia luar. Keduanya meletakkan Kana dan Ryota di atas keranjang bayi yang sudah di siapkan oleh pelayan mereka. Yao Yin dan juga Keiko tidak ingin melewatkan apapun yang terjadi di dunia luar. Kini mereka kembali melihat Arnius dan juga Genta yang masih berdiri diam di atas Classic pearl.


"Dimana kau merasakan keberadaannya?"


"Entahlah, yang jelas dia kuat dan selalu mengarahkan kekuatan itu kepada ku."


"Kita bisa membasminya bersama."


"Tidak, kau harus tetap di sini dan menjaga mereka. Kita harus terpisah. Jika dia ingin membawa pergi salah satu dari kita, pastikan itu hanya aku. Aku yakin mereka ingin membawa ku ke dunia mereka. Jangan pernah berpikir untuk ikut masuk ke dunia mereka jika kau tidak mengetahui bagaimana cara untuk keluar dari dunia tersebut, kau mengerti."


"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginan mu demi Kana dan Ryota. Tapi kita masih berada di dalam wilayah pasukan the Beast, apakah mereka akan tetap beraksi?"


"Mereka iblis yang bahkan tidak terlihat oleh mata manusia ataupun hewan ilahi seperti mu."


Ucapan Arnius terdengar oleh Zora yang sudah mulai kembali tersadar.


"Sebelum kita pergi ke tempat ini, kakek guru pernah memberikan buntalan besar kepada ku dan ada beberapa buku di dalamnya."


Zora menyerahkan satu buku usang yang bertuliskan mata iblis.


"Bangunkan Eiji, dia bisa membantu untuk lebih cepat mempelajarinya."

__ADS_1


Kini mereka semua berkumpul untuk mempelajari buku yang di bawa oleh Zora, termasuk juga Wu Ling dan Kin Raiden.


__ADS_2