
Setelah sekian lama berlatih bersama dengan pasukan the Beast, kemampuan bertarung seluruh anggota Classic team kini bertambah kuat. Selain berlatih secara perseorangan, mereka pun berlatih secara berkelompok dengan mempraktekkan beberapa formasi yang dipelajari oleh Eiji dan Wu Ling.
Untuk berbagai jenis formasi tempur memang Wu Ling memiliki banyak kelebihan, setelah ia membaca buku yang sempat diserahkan oleh Eiji. Keduanya saling berbagi pemahaman atas buku yang kini mereka baca, buku yang dulunya diberikan oleh paman Zaka dari tukang masak perguruan Angin Utara.
"Kalian semua siap?"
Wu Ling menoleh sesaat kepada seluruh rekannya dan hanya di balas dengan anggukan cepat.
"Ingat gunakan seluruh formasi yang pernah kita latih untuk segala kemungkinan. Dan saat ini misi kita adalah menyelamatkan komandan, Zora adalah target pertama yang harus kita lindungi saat ini, karena hanya dia yang bisa menyembuhkan komandan jika dia terluka."
"Tidak perlu seperti itu."
Zora memotong ucapan Wu Ling.
"Aku sudah membagikan beberapa pil kepada kalian serta menjelaskan fungsinya, sehingga kita bisa saling menyelamatkan. Jadi sekarang kita hanya perlu sama-sama berjuang, jangan pedulikan aku."
Semuanya hanya mengangguk mengerti.
Dalam rencana mereka saat ini, Kin Raiden adalah pertahanan terakhir. Eiji yang akan memimpin misi pencarian lintas dimensi saat ini.
Kapten Zen hanya memandang seluruh rekannya dari atas bahu Doulu. Keduanya semakin akrab selama berlatih bersama beberapa tahun terakhir. Sang kapten hanya diminta untuk ikut menjaga Yao Yin dan putra putrinya, bersama dengan Keiko dan juga panglima Ryu kogane.
Di sisi lengan yang lain duduk pula Kuro dan Robaki. Kuda hitam dan keledai jantan itu harus tetap mengawasi Kana dan Ryota bermain. Kedua anak Arnius tersebut begitu senang saat duduk di atas punggung mereka.
"Kalian semua bersiap."
Eiji mulai memberikan perintah.
"Kalian berdua jaga nona kecil kalian dengan baik."
Jari telunjuk Eiji terarah kepada Doulu dan Dielu, disertai tatapan mata yang tajam dan gerakan bibir yang bisa dimengerti oleh kedua gorila batu tersebut.
Tiba-tiba beberapa tanaman sulur mulai terikat di leher pemuda tampan tersebut serta memberikan sedikit kecupan manis di wajah tampannya.
"Aah .. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan tanaman ini."
Eiji memperhatikan sejenak beberapa tanaman yang kini menggantung di lehernya.
"Jaga kandungan mu Ai."
__ADS_1
Eiji kembali melihat Ai Sato yang berdiri jauh darinya. Perutnya semakin terlihat membesar, seiring usia kandungannya yang juga semakin menua. Kedua pasangan itu tidak lagi sungkan mengumbar kemesraan di hadapan rekan mereka, sementara hal itu semakin membuat Genta iri dan hanya bisa menggigit jari.
Ai Sato hanya mengangguk perlahan saat pandangan ke dua mata mereka bertemu.
"Sulur ku bisa membantumu menemukan sulur lain yang kemungkinan masih melekat di pergelangan tangan kakak ipar."
Hanya tatapan dan gerakan bibir yang mereka berdua lakukan, namun keduanya bisa saling memahami. Setelah kehamilan Ai Sato, ikatan batin keduanya semakin terasa. Selain itu, hanya gerakan bibir serta beberapa tanda ataupun gerakan tertentu yang mampu di pahami oleh Doulu dan Dielu. Ai Sato mengajarkan semua itu kepada suaminya Eiji. Sehingga Eiji dan beberapa rekannya bisa berkomunikasi dengan dua gorila batu sahabat putri komandan tertinggi pasukan the Beast tersebut.
Yuki, Zora, Shiro, Chio dan Wu Ling mulai memanjat tubuh besar kuma. Beruang besar tersebut merentangkan kedua tangannya. Yuki dan Zora duduk di lengan kanan, sementara Chio dan Shiro duduk di lengan sebelah kiri. Wu Ling terlihat duduk di pundak kiri kuma. Setelah semuanya siap, Eiji berdiri tepat di bahu kanan Kuma. Kemudian Kin Raiden mulai menyatu ke dalam tubuh tuan mudanya.
Eiji mulai menyatukan kekuatan bersama sang naga emas dan juga kedua keponakannya. Ia menjadi perantara kekuatan diantara mereka, sementara Wu Ling berusaha mencari titik letak sang komandan mereka berada.
"Eiji sekarang."
Setelah beberapa saat terpejam untuk memusatkan pikirannya, Wu Ling berucap sedikit keras. Wu Ling memiliki akurasi yang lebih tepat saat menggunakan segel pemindah, hanya saja ia membutuhkan kekuatan besar yang tidak dimiliki oleh tubuhnya. Oleh karena itu, Eiji dan Kin Raiden yang menyalurkan energinya.
Dengan bantuan telepati dari Kana dan Ryota, Wu Ling mampu mengetahui letak komandan Classic pearl berada saat ini, begitupun Eiji dan juga Kin Raiden. Ryu kogane pun kini mampu menyalurkan energinya kepada tuan mudanya.
"Pertahankan Wu Ling."
Ryu kogane sedikit berteriak, setelah menyadari tubuh kedua keponakan kecil mereka tidak lagi mampu bertahan. Naga emas tersebut bergegas melepaskan kedua tangannya dari tubuh Kana dan Ryota.
Keiko dan Yao Yin bergegas menjauhkan tubuh Kana dan Ryota dari mereka, kemudian memberikan sebutir pil yang sudah Zora persiapkan sebelumnya.
Tubuh kedua bocah kecil itu memang belum begitu kuat untuk menahan kekuatan besar seluruh pamannya dalam waktu yang lama. Namun jika di bandingkan dengan anak seusianya, tubuh Kana dan Ryota memang berbeda.
Kilatan petir mulai menyelimuti seluruh tubuh Kuma hingga menghilang tak berbekas. Tersisa tubuh Ryu kogane yang masih terduduk diam. Naga besar itu masih bisa menyalurkan energinya kepada sang tuan yang juga merupakan sahabat baiknya. Ia masih bisa merasakan keberadaan komandan Classic pearl tersebut.
Beberapa mahkluk bertubuh aneh pun terlihat dalam pikirannya. Ia merasakan tubuh Arnius begitu panas yang bahkan hampir setara dengan semburan api naga miliknya.
"Tempat apa ini?"
Genta hanya bergumam perlahan, seraya terus membantu memulihkan tenaga di dalam tubuh Arnius.
"Tiga tahun... Apa kau sama sekali tidak mengisi perut mu selama ini?"
Genta kembali bergumam, saat ia merasakan tubuh Arnius yang lemah dan tanpa nutrisi apapun.
"Kau bisa kurus kering tuan muda, jika hanya mengandalkan kekuatan mu untuk bertahan."
__ADS_1
Seluruh gumaman Genta terdengar dengan baik oleh Yao Yin dan Keiko. Istri serta adik perempuan Arnius tersebut hanya bisa menghirup nafas dalam-dalam, saat mendengar semua ucapan naga besar tersebut.
"Ya dewa, lindungilah suamiku."
Yao Yin hanya bisa berdoa dalam hati, berharap suaminya baik-baik saja.
Genta mulai memeriksa tempat di sekitar Arnius, ia mencari keberadaan seluruh rekannya tadi.
"Dimana kalian?"
Ia kembali bergumam saat belum melihat keberadaan mereka, sementara tubuh Arnius sudah hampir menjadi bulan-bulanan oleh mahkluk aneh yang jumlahnya cukup banyak di tempat itu.
"Sial. Dasar bedebah kalian iblis buruk rupa. Akan aku bakar kalian anjing anjing iblis sialan."
Genta terus mengumpat keras, saat melihat tubuh Arnius yang hampir tidak bisa bertahan lagi. Ia melihat tubuh sahabatnya itu melayang dan terjerembab di atas tanah kering, setelah terkena tendangan keras dari beberapa mahkluk aneh yang dilihatnya. Darah segar mulai keluar dari bibir serta beberapa bagian tubuh Arnius.
Yao Yin dan Keiko bergegas menutup ke dua telinga Kana dan Ryota hampir bersamaan, setelah umpatan itu keluar dari dalam mulut paman mereka yang masih terpejam.
"Kata apa yang diucapkan paman Ryu itu ibu?"
Mulut kecil Ryota mulai berceloteh menanyakan kalimat yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Jangan dengarkan ucapan paman mu. Itu adalah kalimat yang seharusnya tidak kau ucapkan."
Yao Yin mencoba memberikan pengertian.
"Lalu apakah hanya orang dewasa yang boleh mengatakannya?"
Kana pun masih tidak mengerti dengan ucapan ibunya.
"Ya dewa... Dasar kau naga besar."
Keiko hanya bisa menahan geram seraya membawa tubuh keponakannya itu menjauh hingga tidak bisa lagi mendengar seluruh umpatan pamannya. Begitupun Yao Yin yang juga menggendong tubuh Ryota menjauh mengikuti langkah adik iparnya.
"Kakak Ryo, sepertinya kata yang diucapkan paman tadi terdengar begitu menyenangkan saat diucapkan."
Kana berbisik perlahan di telinga Ryota, setelah mereka duduk berdampingan di atas batu.
"Ssst.... Diamlah. Aku akan mencoba menanyakannya kepada kapten Zen nanti."
__ADS_1
Ryota pun berbisik lebih pelan, kedua bocah kecil itu pun mengangguk bersamaan tanpa disadari oleh sang ibu maupun bibinya.